Penyebab Cedera Otak Traumatis pada Anak dan Cara Menanggulangi

Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa mayoritas lebih dari empat juta cedera otak traumatis atau traumatic brain injury (TBI) pada anak-anak melibatkan penggunaan produk konsumen, seperti mainan, tempat tidur dan karpet.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 30 Juli 2019  |  17:52 WIB
Penyebab Cedera Otak Traumatis pada Anak dan Cara Menanggulangi
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa mayoritas lebih dari empat juta cedera otak traumatis atau traumatic brain injury (TBI) pada anak-anak melibatkan penggunaan produk konsumen, seperti mainan, tempat tidur dan karpet.

Sementara cedera pada anak-anak yang lebih besar terkait dengan olahraga, seperti sepak bola, bola basket dan bersepeda.

"Dalam penelitian ini kami menemukan bahwa perabotan dan perlengkapan rumah, terutama tempat tidur, paling tinggi di antara bayi dan anak-anak hingga usia 4 tahun. Di antara anak-anak berusia 5 hingga 19 tahun, cedera otak traumatis akibat olahraga dan rekreasi adalah yang tertinggi. Temuan menunjukkan area prioritas untuk pencegahan cedera otak traumatis," kata penulis utama studi tersebut, Bina Ali, seperti dilansir Reuters, Selasa (30/7/2019).

Dengan menggunakan Sistem Pengawasan Cedera Elektronik Nasional, para peneliti mengidentifikasi 4.091.376 TBI anak nonfatal di ruang gawat darurat antara 2010 dan 2013.

Berdasarkan tingkat usia, ada 380.842 TBI pada bayi di bawah 1 tahun, 1.085.680 pada anak-anak usia 1 hingga 4 tahun, 682.826 pada anak-anak usia 5 hingga 9 tahun, 834.565 pada usia 10 hingga 14 tahun, dan 1.107.463 pada usia 15 hingga 19 tahun.

Sebagian besar anak-anak dengan TBI (92%) dirawat di ruang gawat darurat dan kemudian dipulangkan. Secara keseluruhan, 28,8% dari TBI terkait dengan olahraga dan rekreasi, 17,2% karena penggunaan perabot rumah tangga dan 17,1% karena pengaruh struktur rumah dan bahan konstruksi.

Mainan dikaitkan dengan 2,4% dari cedera otak, sementara barang-barang pribadi, elektronik rumah dan hobi dan kelompok produk lainnya menyumbang 6,6% dari TBI lainnya.

Sebagian besar cedera pada bayi (71,3%) dan anak-anak usia 1 hingga 4 (60,6%) terkait dengan perabotan dan perlengkapan rumah, struktur rumah dan bahan konstruksi.

Untuk melindungi anak-anak yang lebih muda ini, Ali merekomendasikan "menghilangkan bahaya tersandung, seperti akibat karpet, memperbaiki pencahayaan, menghindari alas taman bermain dengan permukaan yang keras, menggunakan perangkat keamanan rumah, seperti gerbang tangga dan pegangan tangan pada tangga.

Pada saat anak-anak mencapai usia 5 hingga 9 tahun, olahraga dan rekreasi menyumbang 31,8% dari cedera otak. Persentase itu meningkat menjadi 53,9% pada anak-anak usia 10 hingga 14 tahun dan turun menjadi 38,3% di antara anak-anak berusia 15 hingga 19 tahun.

Sumber tunggal terbesar TBI pada usia 10 hingga 19 tahun adalah sepak bola, diikuti oleh bola basket.

Ada sejumlah strategi untuk menjaga otak tetap aman pada anak-anak yang bermain olahraga dalam kelompok usia ini, kata Chris Giza, seorang profesor pediatri dan bedah saraf di University of California, Los Angeles, dan Rumah Sakit Mattel Children di UCLA.

"Gunakan perangkat pelindung. Pastikan helm pas dan benar-benar dipakai. Cedera kepala yang dicegah oleh helm seringkali berupa fraktur tengkorak dan cedera parah lainnya. Mereka adalah orang-orang dengan konsekuensi jangka panjang yang lebih melemahkan," katanya.

Giza juga menyarankan agar orang tua mengenal pelatih pada kegiatan atau les olahraga yang diikuti anaknya. Pastikan pelatih mengetahui betul pencegahan cedera dan menjunjung sportifitas.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kesehatan, anak

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top