Menanti Kisah 7 Anak Garuda di Layar Lebar

Tahun 2016, sekelompok siswa tingkat menengah dari sekolah Selamat Pagi Indonesia (SPI), Malang, Jawa Timur mengajukan visa untuk bisa belajar ke luar negeri, tepatnya ke daratan Eropa.
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 25 Agustus 2019  |  15:17 WIB
Menanti Kisah 7 Anak Garuda di Layar Lebar
Karakter utama yang akan hadir dalam film Anak Garuda - Bisnis/Syaiful M

Bisnis.com, JAKARTA - Tahun 2016, sekelompok siswa tingkat menengah dari sekolah Selamat Pagi Indonesia (SPI), Malang, Jawa Timur mengajukan visa untuk bisa belajar ke luar negeri, tepatnya ke daratan Eropa.

Namun, karena mayoritas dari mereka adalah anak yatim piatu dan berasal dari keluarga kurang mampu, pengajuan visa tersebut ditolak. Bahkan hingga dua kali. Alasannya cukup unik, karena kekhawatiran bakal dijadikan korban aktivitas perdagangan manusia.

Mendengar kabar tersebut, pembina sekolah meminta pertemuan dengan duta besar negara tujuan. Gayung bersambut, keduanya pun bertemu, duduk dan berdiskusi tentang apa itu SPI serta mengapa siswa-siswi mereka mengajukan visa ke negara di Eropa.

Diceritakan perbincangan seputar visa berjalan alot. Hingga akhirnya, duta besar merasa terketuk mendengar cerita tentang SPI yang merupakan sekolah gratis di pinggiran pulau Jawa dengan murid berlatar belakang ‘tidak mampu’ dari berbagai daerah.

Singkat cerita, visa mereka disetujui dan berangkatlah rombongan itu ke Benua Biru selama kurang lebih 2 minggu. Lima negara mereka sambangi untuk menambah wawasan dan mengasah berbagai keterampilan yaitu Italia, Swiss, Prancis, Belanda, dan Belgia.

Beberapa tahun setelahnya, seorang investor datang mengunjungi SPI di Batu, Malang. Pihak SPI, menceritakan sepak terjang perjalanan sekolah, termasuk cerita tentang proyek belajar ke Eropa dan masalah yang dihadapinya.

Tak dinyana, investor tersebut tertarik memfilmkan kisah itu, tapi dengan satu syarat yakni produksinya dilakukan oleh murid SPI sendiri. Inilah yang menjadi pembuka bagi SPI mengembangkan divisi bisnis baru yang dinamai Butterfly Pictures.

Cerita panjang tersebut dituturkan oleh Executive Director Butterfly Pictures Yohana Yusuf, yang juga alumni SPI. Ada nada semangat, haru, sekaligus tawa dalam setiap kalimat yang diucapkannya dalam cerita itu.

Anak Garuda adalah film pertama dari rumah produksi Butterfly Pictures yang mengangkat kisah nyata perjuangan para murid dan bagaimana mereka bertransformasi, serta mengungkap  latar belakang dari sekolah Selamat Pagi Indonesia.

Ceritanya bakal berkisah pada tujuh siswa-siswi SPI yaitu Olfa, Robet, Yohana, Dila, Sayidah, Wayan, dan Sheren serta satu orang mentor yang tak lain adalah pendiri SPI yaitu Julianto Eka Putra atau yang akrab disapa Koh Jul.

“Sebagian besarnya yatim piatu atau kaum dhuafa. Bisa dibilang [hidup kami] sangat terpuruk. Tapi di SPI, kami belajar bareng-bareng dan bertransformasi menjadi anak-anak Garuda yang terbang menatap matahari,” katanya.

Dalam proses produksinya, film ini digawangi beberapa tokoh industri perfilman dalam negeri. Faozan Rizal didapuk sebagai sutradara, Alim Sudio sebagai penulis skenario, dan Verdi Solaiman sebagai produsernya.

Verdi mengungkapkan bahwa proses pengambilan gambar dilakukan sekitar 1 bulan. 2 minggu berlokasi di Batu, Malang dan 2 minggu berlokasi di Eropa, tepatnya di Swiss dan Prancis.

Menurutnya, dengan sentuhan naskah oleh Alim Sudio dan tangan dingin Faozan Rizal, film Anak Garuda bakal menghadirkan karakteristik yang berbeda dengan film remaja lainnya dari berbagai hal mulai dari teknis hingga substansi cerita.

Selain itu, karena diangkat dari kisah nyata yang semua karakternya terlibat dalam proses produksi, Verdi mengungkapkan bahwa film ini dibuat dengan pendekatan yang sangat personal untuk masing-masing karakter.

Terkait nilai yang dibawa, dia percaya bahwa film ini menggambarkan dengan gamblang sebuah perjalanan sekelompok remaja meraih mimpi melalui kerja keras dan kerja sama tim, “Ini benar-benar pengalaman mereka. Bukan soal destinasinya, tapi bagaimana mereka berjuang dengan perbedaan yang ada untuk bisa sukses,” ujarnya.

Sementara itu, beberapa aktor dan aktris yang terlibat dalam film Anak Garuda adalah Ajil Ditto (Robet), Geraldy Polisar (Wayan), Rebecca Klopper (Dila), Tissa Biani (Sayidah), Viola Georgie (Yohana), Rania Putrisari (Sheren), Clairine Clay (Olfa), dan Kiki Narendra (Koh Jul).

Film ini telah menyelesaikan proses pengambilan gambarnya, tetapi masih dalam tahapan pascaproduksi. Rencananya Anak Garuda bakal dirilis pada awal tahun depan di seluruh bioskop Tanah Air.

Yohana berharap proses selanjutnya akan terus dimudahkan dan nantinya bisa memberikan hiburan dan inspirasi positif bagi banyak orang di Indonesia, “Kami juga tidak sabar untuk menyaksikan filmnya. Mohon doa semoga lancar semua dan bisa segera tayang,” kata Yohana.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
film indonesia

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top