Kucumbu Tubuh Indahku Wakili Indonesia di Oscar, Ini Kata Garin Nugroho

Garin Nugroho sebagai sutradara film Kucumbu Tubuh Indahku yang terpilih mewakili Indonesia dalam ajang 92nd Oscars International Feature Film Award menyampaikan rasa syukurnya.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 17 September 2019  |  19:04 WIB
Kucumbu Tubuh Indahku Wakili Indonesia di Oscar, Ini Kata Garin Nugroho
Trailer film Kucumbu Tubuh Indahku - Youtube

Bisnis.com, JAKARTA - Garin Nugroho sebagai sutradara film Kucumbu Tubuh Indahku yang terpilih mewakili Indonesia dalam ajang 92nd Oscars International Feature Film Award menyampaikan rasa syukurnya. 

Dihubungi melalui sambungan telepon, Garin mengucapkan apresiasinya atas pilihan Komite Seleksi Film Indonesia yang menunjuk film karyanya yang bercerita tentang seorang pria yang berprofesi sebagai penari langger bertarung dengan beberapa film luar negeri lainnya di ajang bergengsi tersebut. 

"Terimakasih, saya sangat menghargai keputusan tersebut. Ini film kedua setelah Daun di atas Bantal, menjadi seleksi Oscar," ujar Garin pada Selasa (17/9/2019). 

Garin menambahkan menunjuk film karyanya yang pernah diboikot di beberapa daerah di Indonesia adalah sebuah keputusan yang sangat berani yang dilakukan oleh komite.

"Keputusan yang berani mengikutkan, karena tema yang sensitif namun juga membuka ruang diskusi penghormatan ke keberagaman budaya, mengingat film ini meraih Diversity Award UNESCO," ungkap Garin. 

Ditemui di kesempatan yang berbeda dalam press conference penetapan film Indonesia yang akan unjuk gigi dalam seleksi Academy Awards 2020,

Christine Hakim selaku Ketua Komite Seleksi Film Indonesia mengatakan memilih film yang akan dikirimkan ke ajang bergengsi Oscar adalah hak mutlak komite terlepas dari kontroversi film itu sendiri. 

"FIlm ini bukan hanya bahasa gambar dan bahasa oral tapi ada bahasa rasa, bahasa batin. Terus dari segi konteks juga universal temanya bicara masalah kemunafikan. Orang selalu men-judge bahwa dirinya lebih hebat dan lebih baik daripada orang yang dianggapnya lebih rendah. Jadi ini sangat universal di mana pun itu terjadi dan memang tidak bisa dibohongi bahwa karya itu adalah produk dari yang membuatnya," ungkap Christine Hakim. 

Pengalaman Garin yang menurut Christine Hakim sudah maral melintang di industri perfilman juga adalah nilai plus. Pada akhirnya, film ini adaalh produk yang mengajarkan penontonnya untuk berpikir positif.

"Bayangin mas Garin bikin film itu sebuah produk budaya, seni musik, teknologi sudah pasti, ada seni tari. Ludruk yang main juga laki-laki, semua berpakaian perempuan, itu yang saya bilang kalau kita mau telusuri lebih jauh dan kita mau menggali peradaban manusia kenapa kok ludruk itu dimainin sama laki-laki bukan perempuan? Jangan cuma bilang 'transgender'. Itu pola pikirnya negatif," tutupnya. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Film

Editor : Rustam Agus
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top