Ad Astra, Misi Penjelajahan ke Mars

Film ini menampilkan karya kolaborasi antara James Gray yang bertindak sebagai sutradara dan penulis skenario dengan aktor kondang Brad Pitt sebagai tokoh utama, di bawah naungan rumah produksi 20th Century Fox.
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 25 September 2019  |  13:11 WIB
Ad Astra, Misi Penjelajahan ke Mars
Film Ad Astra - Fox Movies

Bisnis.com JAKARTA – Film bergenre fiksi ilmiah (sci-fi) tentang luar angkasa barangkali bukan jenis film super populer seperti horor atau pahlawan super, tapi tetap dinantikan banyak penggemar. Adalah Ad Astra (2019) yang cukup mampu mengobati rasa rindu di tengah minimnya produksi film dengan genre tersebut.

Film ini menampilkan karya kolaborasi antara James Gray yang bertindak sebagai sutradara dan penulis skenario dengan aktor kondang Brad Pitt sebagai tokoh utama, di bawah naungan rumah produksi 20th Century Fox.

Ad Astra bermula ketika sebuah gelombang kosmik yang disebut the surge menghantam angkasa, yang juga berdampak terhadap bumi, di mana Roy McBride (Brad Pitt) sedang bertugas di sebuah bangunan pencakar langit. Akibatnya dia terjatuh dari ketinggian tetapi masih selamat.

Sebuah badan terkait luar angkasa bernama Spacecom percaya bahwa gelombang tersebut disebabkan oleh radioaktif dari pesawat luar angkasa dengan kode Project Lima, yang sebelumnya melakukan sebuah misi dan telah hilang kontak selam bertahun-tahun. Proyek itu dipimpin oleh Clifford McBride, ayah Roy.

Untuk itu, Spacecom mengutus Roy pergi ke pangkalan antariksa yang ada di Mars untuk memberikan sinyal gelombang kepada Clifford yang dipercaya masih hidup dan kini berada di sekitar planet Saturnus. Perjalanan Roy di luar angkasa pun dimulai.

Dalam prosesnya, dia harus pergi ke pangkalan yang ada di bulan terlebih dahulu sebelum melanjutkan ke Mars. Saat di bulan, keadaannya digambarkan sangat maju dengan orang-orang yang tinggal lengkap dengan toko.

Namun, disini juga Roy harus berhadapan dengan perompak yang ada di bulan, sebelum melanjutkan perjalanannya ke Mars. Setelah sampai, dia mencoba komunikasi dengan pesawat Project Lima atau dengan ayahnya, tetapi hasilnya nihil.

Hingga akhirnya, Roy memutuskan untuk pergi langsung ke Neptunus, mencari kebenaran tentang ayahnya dan sesuatu yang menyebabkan terjadinya gelombang kosmik.

Cerita dan Visualisasi

Bicara tentang film luar angkasa rasanya tidak bisa dilepaskan dengan dua film sebelumnya, yang boleh jadi adalah standar tersendiri bagi para penggemar film genre ini. Dua film tersebut adalah Gravity (2013) besutan Alfonso Cuaron dan Interstellar (2014) besutan Christoper Nolan.

Melalui Ad Astra, James Gray agaknya ingin merangkum intisari dari dua judul film tersebut. Gravity boleh dibilang punya unsur cerita yang lebih kuat dibandingkan dengan visualisasi tentang galaksi yang ditampilkan. Sebaliknya, Interstellar punya sisi visual yang lebih menonjol dari cerita yang disuguhkan.

Dari situ, Ad Astra seperti menjadi penengah dengan keseimbangan cerita dan visualisasi film yang disuguhkan kepada penonton. Kendati harus diakui, cerita drama yang dibangun kurang kuat dan tidak begitu meninggalkan kesan.

Film ini, menggunakan konsep monolog dari aktor utama yang seolah menjadi narator dari kejadian-kejadian yang dialaminya, dan ini dilakukan dari awal hinga akhir cerita. Di sisi lain, percakapan yang dibangun antar pemain sebetulnya sudah cukup menggambarkan situasi yang ada.

Selain itu, sangat disayangkan ketika film ini berlabel fiksi ilmiah tetapi keilmiahannya sangat tipis, bahkan hampir nihil. Tidak ada penjelasan-penjelasan yang memadai tentang luar angkasa atau perjalanan intergalaksi. Semuanya tentang cerita dan perasaan tokoh utama film.

Sementara dari segi visualisasi, salah satu shot yang cukup banyak digunakan adalah extreme close-up wajah Brad Pitt. Agaknya shot itu diambil untuk melengkapi narasi-narasi ringkih dari tokoh utama guna menegaskan keadaan emosional yang begitu dalam.

Adapun, visualisasi tentang ruang angkasa yang ditampilkan sangat meyakinkan. Tak perlu didebat rasanya bahwa shot luar angkasa merupakan pemandangan terbaik yang bisa dilihat di layar lebar.

Ad Astra tidak jarang menampilkan gambar dengan dominasi latar hitam dan titik-titik cahaya bertebaran, atau gambar yang latar belakangnya mayoritas dipenuhi oleh sebuah planet dengan pesawat ruang angkasa yang hanya setitik berjalan perlahan.

Visualisasinya sangat jempolan, menghadirkan pengalaman menonton yang menenangkan. Akan tetapi, sangat disayangkan gambar yang begitu menakjubkan seringkali diiringi musik-musik latar, yang barangkali ditujukan untuk mengisi suasana tapi justru cukup membuyarkan kesan ‘tentang’ saat menikmati luar angkasa.

Namun demikian, mau bagaimana pun film ini cukup mengobati rasa kangen terhadap film-film bertema luar angkasa, dibalut dengan cerita drama yang cukup menarik. Kendati, seperti dikatakan di awal bahwa jenis film ini rasanya memang bukan untuk semua orang.

Penulis ingat betul, ketika selesai menonton Ad Astra ada dua respon yang terlihat saat beranjak keluar bioskop. Satu, beberapa orang buru-buru keluar dan menyatakan ngantuk nonton film ini. Kedua, beberapa di antaranya yang bertepuk tangan dan masih terduduk diam, fokus ke arah layar.

Adapun, Ad Astra memulai debutnya dengan pendapatan akhir pekan di pasar domestik Amerika Serikat sebesar US$19 juta dan di pasar internasional sebesar US$26 juta. Film ini juga sebelumnya mendapatkan sambutan positif di ajang Venice Film Festival 2019.

Berdasarkan situs pemeringkat Rotten Tomatoes, film ini mendapatkan nilai fresh dengan 83% dan nilai rating rata-rata 7,62/10. Situs IMDb juga memberikan nilai 7,1/10 untuk film ini. Sementara, situs Metacritic memberikan nilai 80 untuk Ad Astra.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Film

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top