Studi AS: Polusi Udara Tingkatkan Risiko Rawat Inap

Dalam studi tersebut, para peneliti berfokus pada PM 2.5 yakni campuran partikel padat dan tetesan cairan berdiameter lebih kecil dari 2,5 mikrometer yang mencakup debu, kotoran, jelaga, dan asap.
Dionisio Damara
Dionisio Damara - Bisnis.com 11 Desember 2019  |  00:58 WIB
Studi AS: Polusi Udara Tingkatkan Risiko Rawat Inap
Warga beraktivitas dengan latar belakang suasana gedung bertingkat yang diselimuti asap polusi di Jakarta, Senin (29/7/2019). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Studi di Amerika Serikat menunjukkan bahwa orang dewasa dewasa yang terpapar partikel kecil dalam polusi udara berpotensi dirawat di rumah sakit selama satu atau dua hari karena masalah kesehatan umum.

Dalam studi tersebut, para peneliti berfokus pada PM 2.5 yakni campuran partikel padat dan tetesan cairan berdiameter lebih kecil dari 2,5 mikrometer yang mencakup debu, kotoran, jelaga, dan asap.

Dari hasil studi itu mereka mengonfirmasi bahwa ada hubungan antara paparan jangka pendek PM 2.5 dengan peningkatan risiko rawat inap dan kematian akibat penyakit jantung, paru-paru, diabetes, dan gumpalan di pembuluh darah besar kaki.

Para peneliti juga menemukan hubungan baru antara paparan jangka pendek dan peningkatan rawat inap untuk kondisi mulai dari sepsis hingga gagal ginjal.

Penulis utama Yaguang Wei, seorang peneliti kesehatan lingkungan di Harvard TH Chan School of Public Health di Boston, mengatakan bahwa orang dewasa umumnya mengidap gangguan cairan dan elektrolit, septikemia, anemia, infeksi saluran kemih, dan gagal ginjal, ketika terpapar konsentrasi PM 2.5 yang berada di bawah pedoman kualitas udara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Berdasarkan pedoman WHO yang dikeluarkan pada 2005, orang-orang tidak boleh terpapar pada tingkat PM rata-rata 2,5 selama 24 jam yang melebihi 25 mikrogram per meter kubik udara (ug / m3).

Wei menjelaskan bahwa PM 2.5 terdiri atas partikel kecil dan cairan yang mengambang di udara. Ketika terhirup, partikel-partikel ini akan melewati sistem pernapasan, menyelinap ke dalam darah dan sistem peredaran darah, sehingga menyebabkan masalah kesehatan yang serius.

"Efek kesehatan paling konsisten dan berbahaya yang diidentifikasi adalah penyakit kardiovaskuler dan pernapasan, yang merupakan penyebab utama rawat inap, kunjungan ruang gawat darurat, dan bahkan kematian," tambah Wei, dikutip dari Reuters, Selasa (10/12/2019).

Adapun, tingkat polusi udara di bawah standar keamanan yang ditetapkan oleh WHO juga berkaitan dengan peningkatan risiko rawat inap untuk kondisi seperti gangguan kardiovaskuler dan pernapasan.

Studi tersebut merupakan hasil olah data rumah sakit untuk pasien Medicare secara nasional dari tahun 2000 hingga 2012. Mereka fokus pada 214 kondisi kesehatan yang berbeda, dan melihat data rata-rata tingkat polusi udara sehari sebelumnya serta hari masing-masing rawat inap berdasarkan kode pos rumah pasien.

Matthew Loxham dari University Hospital Southampton di Inggris menuturkan bahwa orang tidak mungkin dapat menghindari paparan polusi udara. Namun, ada beberapa upaya yang dapat dilakukan sebagai tindakan pencegahan.

“Mereka yang memiliki kondisi kesehatan yang diperburuk oleh polusi udara, seperti jantung/kardiovaskular, asma, dan COPD, harus mencari tingkat kualitas udara lokal dan panduan terkait, yang mungkin akan menyarankan mereka untuk menutup jendela atau menghindari latihan di luar ruangan," kata Loxham.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
polusi udara

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top