Disintegrasi Media, Bos Falcon Pictures Sebut Terbantukan Aplikasi Tiktok

HB Naveen, founder dari rumah produksi film Falcon Pictures menyebut dalam disintegrasi media saat ini Tiktok termasuk aplikasi media sosial yang juga diperhitungkan.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 17 Januari 2020  |  12:27 WIB
Disintegrasi Media, Bos Falcon Pictures Sebut Terbantukan Aplikasi Tiktok
Founder Falcon Pictures HB Naveen saat memberikan pemaparannya dalam forum Asosiasi Perusahaan Film Indonesia (APFI) di Djakarta Theater XXI, Jakarta Pusat - Bisnis.com - Ria Theresia Situmorang

Bisnis.com, JAKARTA - HB Naveen, founder dari rumah produksi film Falcon Pictures menyebut dalam disintegrasi media saat ini Tiktok termasuk aplikasi media sosial yang juga diperhitungkan. 

Berbicara di forum Asosiasi Perusahaan Film Indonesia (APFI), produser film box office sepanjang masa Warkop DKI: Reborn ini menyatakan selain Facebook, Instagram dan Youtube, Tiktok juga berpengaruh besar terhadap pemasaran filmnya. 
 
"Saya sudah pasang iklan mahal-mahal, yang dilihat orang Tiktok," ujarnya saat berdiri di atas podium forum APFI di Djakarta Theater XXI, Jakarta Pusat pada Kamis (16/1/2020). 
 
Dengan 10 juta pengguna aktif, HB Naveen menegaskan Tiktok adalah aplikasi yang paling banyak diunggah oleh masyarakat Indonesia saat ini. Sehingga dirinya sangat terbantukan dengan media sosial tersebut sebagai wadah menjaring banyak calon penonton filmnya. 
 
Diterangkannya lagi, model pemasaran yang dilakukan Falcon Pictures untuk pemasaran sebuah film adalah menangkap semua platform iklan.
 
"Jadi kalau kami iklan itu 360 derajat. Kita nggak bisa nangkep orang pas lagi di busway saja. Pas dia buka tv kita tangkep, pas dia buka instagram kita tangkep, pas di radio kita tangkep. You have to chase them 360 degree to able to get the knowledge," tuturnya.
 
"Karena kalau di busway saja itu passive medium. Tapi balik lagi you must know your content. Jadi kalau teriak sekeras-kerasnya but they are not interested they are not able to interested," sambungnya kemudian.
 
Sebagai contoh, remaja pada usia 16 hingga 17 tahun dianggap mayoritas tidak akan tertarik dengan cerita film Si Doel Anak Sekolah. Namun ketika film ini disajikan pada generasi yang lebih tua, film ini memiliki sejarah yang terlibat didalamnya sehingga membuatnya merasa ingin menonton film tersebut.
 
"Film itu tidak punya pendapatan yang konsisten. Kami juga punya hari-hari yang tidak menyenangkan. Enam bulan terakhir tidak begitu baik untuk kami. Bumi Manusia dapat 1,3 juta, Si Doel 800 ribu. Tapi angka itu tidak kondusif untuk proyek itu," sambungnya. 
 
Pada tahun 2019, HB menyebut pihaknya mengimpor sekitar 70 hingga 80 film untuk diputar didalam layanan OTT (over-the-top) milik Falcon Pictures yakni Klikfilm.
 
Sementara, untuk tahun 2020 sendiri proyeksi film yang akan dirilis diantaranya Keluarga Selamat, Keluarga Super Irit, Buya Hamka, Miracle in Cell no 7, Teman Tapi Menikah 2, Si Juki 2, Warkop DKI Animation, Rentang Kisah hingga Pasutri Gaje. 
 
"Falcon will be back in 2020. Targetnya ingin menjadi nomor satu kembali," pungkasnya. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
film indonesia

Editor : Ajijah
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top