Aktor Kulit Berwarna dan Perempuan Lebih Eksis di Industri Film 2019

Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa 2019 merupakan tahun yang positif bagi aktor perempuan dan kulit berwarna dalam industri perfilman global.
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 06 Februari 2020  |  08:40 WIB
Aktor Kulit Berwarna dan Perempuan Lebih Eksis di Industri Film 2019
Ilustrasi film layar lebar - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa 2019 merupakan tahun yang positif bagi aktor perempuan dan kulit berwarna dalam industri perfilman global.

USC Annenberg Inclusion Initiative, sebuah lembaga yang berfokus pada isu keragaman dan inklusi di dunia hibura, telah meneliti 100 film teratas pada tahun lalu dan menemukan ada peningkatan signifikan terhadap representasi aktor berwarna dan perempuan.

Laporan dari USC menyatakan pada 2019, ada 31 dari 100 film paling laris yang menampilkan peran utama atau peran pendukung utama dari dua kategori tersebut. Jumlah ini naik dari 2018 dengan 27 judul film.

Karakter perempuan dan anak perempuan uga lebih terwakili dalam film selama 1 tahun terakhir. Laporan yang sama mendapati bahwa 43 dari 100 film teratas memiliki karakter tersebut. Ini merupakan rekor tertinggi dalam 13 tahun terakhir.

Angka statistik ini memang membuktikan peran dari aktor dan aktris ‘minoritas’ semakin terwakili dalam industri perfilman. Kendati, mereka masih seringkali terabaikan dalam berbagai penghargaan internasional.

Sebut saja ajang BAFTA Film Awards 2020 yang hanya menominasikan tokoh kulit putih dalam kategori akting. Sementara, Academy Awards atau Oscar hanya menyertakan satu orang dengan kulit berwarna dalam kategori peran, yakni Chyntia Erivo.

“Jelas bahwa Hollywood mengambil langkah-langkah untuk menciptakan cerita yang lebih inklusif dari film-film yang disajikan kepada penonton,” kata Stacy L. Smith, Founder USC Annenberg Inclusion Initiave, seperti dikutip The Hollywood Reporter, Kamis (6/2).

“Namun, ada juga kesenjangan yang sangat jelas antara apa yang mereka [tokoh perempuan berwarna] dari penjualan tiket dengan apa yang mereka dapat di penghargaan. Itu menunjukkan bias sistemik di lembaga buadya seperti BAFTA atau Academy,” imbuhnya.

Dia menyatakan bahwa studio-studio besar harus berani untuk lebih banyak menampilkan tokoh peran dari kalangan non-kulit putih atau laki-laki. Secara tegas Smith menyebut bahwa bakat tidak dibatasi oleh gender, ras, atau etnis.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Film

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top