Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Perhatikan Hal Ini Sebelum Konsumsi Obat Murah Untuk Covid-19

Ari Fahrial Syam, Dekan FKUI sekaligus akademisi dan praktisi klinis menyebutkan bahwa pada pasien dengan gejala Covid-19 sedang dan parah, ada kemungkinan terjadinya sitokin storm syndrome yang diakibatkan oleh reaksi inflamasi.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 28 Juni 2020  |  19:19 WIB
Aspirin - Preeclampsia Foundation
Aspirin - Preeclampsia Foundation

Bisnis.com, JAKARTA -- Saat ini beredar info bahwa penyakit Covid-19 yang disebabkan oleh virus corona dapat diobati dengan obat-obatan murah.

Obat-obatan yang juga memang sudah digunakan dalam jangka waktu lama oleh masyarakat tersebut antara lain aspirin, steroid dan kolkisin. Informasi ini semakin marak menyebar di antara masyarakat.

Meski pun obat yang disebutkan murah dan mudah dijangkau, konsumsi obat apapun jenis dan dosisnya tetap perlu pengawasan medis.

Ari Fahrial Syam, Dekan FKUI sekaligus akademisi dan praktisi klinis menyebutkan bahwa pada pasien dengan gejala Covid-19 sedang dan parah, ada kemungkinan terjadinya sitokin storm syndrome yang diakibatkan oleh reaksi inflamasi.

Kondisi ini dapat menyebabkan komplikasi terjadi hiperkoagulasi atau kekentalan darah yang meningkat.

Menurutnya, bukan virus langsung yang menyebabkan pengentalan darah tetapi melalui proses sitokin storm syndrome. Sehingga konsumsi obat seperti aspirin harus diawasi.

"Jika dari pemeriksaan sistem koagulasi APTT/PTT/D-dimer memang terjadi koagulasi maka dokter akan memberikan antikoagulan bukan anti platelet atau aspirin. Pengentalan darah ini akan menyumbat kapiler paru dan pembuluh darah organ dalam," ujarnya melalui keterangan yang diterima Bisnis, Minggu (28/6).

Sekali lagi obatnya bukan aspirin tapi antikoagulan untuk mengatasi kondisi ini, tegasnya.

Sebagai informasi, sitokin storm sydrome memang dapat diatasi dengan obat anti-inflamasi antara lain steroid, seperti yang disampaikan oleh tim peneliti Universitas Oxford beberapa waktu lalu.

Ari mengungkapkan bahwa hasil riset seperti yang diketahui hanya mengurangi kematian pada kasus sedang dan berat dan tidak efektif pada pasien bergejala ringan atau tanpa support suplementasi respirasi.

Sementara itu, obat kolkisin (colchicine) umumnya digunakan untuk penyakit gout artritis, di mana pasien mengalami serangan radang sendi karena asam urat tinggi.

Efek inflamasi dan imunomodulator yang dikandungnya menjadi faktor yang menganggap bahwa obat ini bisa di berikan pada pasien Covid-19, walau hasil risetnya belum ada dan obat ini juga belum menjadi terapi yang diberikan untuk pasien-pasien Covid-19 di Indonesia.

HAPPY HYPOXIA

Ari menambahkan, ada hal lain yang menjadi pertanyaan terkait beberapa pasien yang progres penyakitnya cepat sehingga dalam waktu sepekan telah terjadi kematian.

"Pada pasien Covid-19 dapat terjadi Happy Hypoxia atau gejala yang tidak biasa di mana pasien tidak merasakan sesak nafas padahal kadar oksigen darah sudah turun," ujarnya.

Tetapi dengan pemeriksaan monitor pernafasan akan terdeteksi kalau frekuensi nafas pasien sudah meningkat dan dengan pemeriksaan oximeter semakin jelas adanya penurunan kadar oksigen.

"Pada beberapa kesempatan kalau pasien sesak biasanya sudah masuk pekan kedua perjalanan penyakitnya. Oleh karena itu anjuran untuk pasien datang ke RS kalau sudah sesak nafas merupakan informasi yang sangat menyesatkan karena perjalanan penyakitnya sudah berat dan pasien sudah mengalami kekurangan oksigen dalam waktu lama," tukasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

obat Virus Corona
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top