Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Gelontorkan Duit Rp28 Triliun, Donald Trump Siap Borong 100 Juta Vaksin Corona

Ratusan vaksin itu, akan dipakai untuk menyuntikkan 50 juta orang jika terbukti aman dan efektif. Demikian pernyataan dari Pfizer Inc dikutip dari channelnewsasia.com.
Mia Chitra Dinisari
Mia Chitra Dinisari - Bisnis.com 23 Juli 2020  |  09:36 WIB
Calon vaksin virus Corona (Covid-19). - Shutterstock
Calon vaksin virus Corona (Covid-19). - Shutterstock

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah AS akan membayar US$1,95 miliar atau sekitar Rp2,86 triliun untuk membeli 100 juta vaksin Covid-19 yang dikembangkan oleh Pfizer Inc dan bioteknologi Jerman, BioNTech SE.

Ratusan vaksin itu, akan dipakai untuk menyuntikkan 50 juta orang jika terbukti aman dan efektif. Demikian pernyataan dari Pfizer Inc dikutip dari channelnewsasia.com.

Kontrak untuk 100 juta dosis vaksin senilai itu, sama dengan banderol harga US$39 atau Rp571.000 per injeksi vaksin.

Kontrak ini yang paling disetujui oleh Amerika Serikat untuk pengeluaran vaksin, meskipun sebelumnya AS pernah sepakat dengan pembuat vaksin lain dalam membantu membayar biaya pengembangan.

Pfizer dan BioNTech sendiri menyatakan mereka tidak akan menerima uang dari pemerintah kecuali vaksin mereka berhasil dalam uji klinis besar dan berhasil diproduksi, demikian menurut juru bicara Pfizer.

Berdasarkan perjanjian tersebut, pemerintah juga akan memiliki opsi untuk mendapatkan tambahan 500 juta dosis. Pfizer mengatakan harga untuk dosis tambahan akan dinegosiasikan secara terpisah jika AS memesannya.

Sementara itu, pemerintah AS melalui Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS (HHS) mengatakan, jika vaksin berhasil, akan diberikan gratis untuk warga AS meskipun mungkin dibebakan pada asuransi kesehatan mereka.

Kepala Eksekutif Pfizer Albert Bourla mengatakan perusahaan berniat untuk mendapat untung dari vaksin tersebut. Dia juga mengatakan bahwa pengeluaran dana perusahaan bukan suntikan dari pemerintah dalam mengembangkan vaksin mendorong mereka harus mempercepat prosesnya. 

Pfizer berharap bisa memulai uji coba vaksin tahap akhir yang sangat penting secepatnya pekan depan, sambil menunggu persetujuan regulator, kata Chief Scientific Officer Mikael Dolsten.

 "Kami sudah mulai proses mengalokasikan botol vaksin ke berbagai tempat klinis berbeda di AS dan di tempat lain," kata Dolsten.

Dia juga menjelaskan tengah melihat peta dan saran dari CDC, dimana mereka akan menyebarkan vaksin untuk pertama kalinya di wilayah dengan kasus terbesar.

Pasalnya, menurutnya uji coba vaksin lebih efisien jika dilakukan di daerah dengan tingkat infeksi aktif yang tinggi. 

Pfizer mengatakan akan mendistribusikan vaksin setelah menerima otorisasi penggunaan darurat atau persetujuan AS pada Oktober setelah menunjukkan keamanan dan kemanjuran dalam uji coba klinis Fase III besar yang melibatkan hingga 30.000 subjek. 

Pfizer dan BioNTech saat ini mengharapkan untuk memproduksi hingga 100 juta dosis secara global pada akhir tahun 2020, dan berpotensi lebih dari 1,3 miliar dosis pada akhir tahun 2021, tergantung pada pemilihan dosis akhir dari uji klinis mereka. 

Pada hari Senin, perusahaan setuju untuk memasok 30 juta dosis kandidat vaksin kepada Inggris, tetapi tidak mengungkapkan harganya. 


Kandidat vaksin buatan Pfizer / BioNTech adalah salah satu dari 150 vaksin paling maju yang dikembangkan melawan COVID-19, yang telah merenggut lebih dari 600.000 nyawa secara global dan melumpuhkan ekonomi. 

Vaksin ini menggunakan RNA messenger kimia untuk menginstruksikan sel untuk membuat protein yang meniru permukaan coronavirus.

Meskipun teknologinya telah ada selama bertahun-tahun, belum pernah ada vaksin messenger RNA (mRNA) yang disetujui.

Sementara itu, pemerintah Trump telah sepakat untuk menghabiskan miliaran dolar untuk pengembangan dan pengadaan vaksin potensial di bawah program Operation Warp Speed-nya. Tujuannya adalah untuk memproduksi vaksin yang dapat mengakhiri pandemi dengan melindungi miliaran orang dari infeksi atau penyakit parah.

AS juga telah menandatangani perjanjian dengan pembuat kandidat vaksin lainnya. Pembuat vaksin lain yang telah menandatangani perjanjian untuk menerima dana pemerintah AS dalam pengembangan vaksin itu termasuk Moderna, AstraZeneca dan Novavax. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

vaksin Virus Corona
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top