Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

75 Tahun Indonesia : Perjuangan Merdeka dari Pandemi Covid-19

Kini, di 75 tahun Indonesia merdeka, Indonesia tengah berperang melawan musuh tak kasat mata, bernama covid-19.
Mia Chitra Dinisari
Mia Chitra Dinisari - Bisnis.com 17 Agustus 2020  |  12:54 WIB
75 Tahun Indonesia : Perjuangan Merdeka dari Pandemi Covid-19
Ilustrasi vaksin Covid-19. - Antara
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Presiden RI pertama Soekarno pernah bilang, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Tapi ternyata bukan hanya bangsa sendiri yang harus kita lawan. Kini, di 75 tahun Indonesia merdeka, Indonesia tengah berperang melawan musuh tak kasat mata, bernama covid-19.

Perang covid-19 di Indonesia sudah menggugurkan 6.150 orang, dan 139.549 orang masih berjuang sembuh. Buruknya, perang kali ini kita tidak punya senjata ampuh, karena vaksin dan obat masih belum juga ditemukan. 

Akibatnya, kasus terus bertambah. Data per 16 Agustus 2020 saja, kasus positif harian bertambah 2.081 kasus menjadi 139.549, dan kasus meninggal bertambah 79 menjadi 6.150, dengan mortality rate 4,4 persen.

Epidemiolog UI Pandu Riono bahkan memprediksi penambahan kasus positif harian bisa mencapai 4.000 per hari, jika Indonesia tidak kunjung menerapkan cara yang tepat dalam menanganinya. 

"Salah satu hambatan terbesar untuk atasi wabah covid19 di indonesia, yaitu illiterasi dalam memahami data wabah, analisis sesuai dinamika wabah. Tak mau belajar cepat dari kesalahan, berkejaran dengan kecepatan penularan," tuturnya.

Pandu juga memperkirakan sebenarnya kasus positif di Indonesia 10 kali lipat dari yang diumumkan pemerintah, atau artinya sudah tembus 1 juta orang.

Bukan hanya Pandu yang mengkhawatirkan kasus covid-19 di Indonesia, Chief of Infectious Diseases di University of Maryland Upper Chesapeake Health, Faheem Younus juga berpikir serupa.

Dia memprediksi kematian karena  infeksi Virus Corona penyebab Covid-19 di Indonesia bakal menembus 12.000 orang per 1 November 2020, jika tidak ada perubahan penanganan oleh pemerintah.

Menurut penelitiannya, apabila sampai September pemerintah tidak melakukan perubahan terhadap aturan-aturan untuk menangani Covid-19, total kasus bisa mencapai 640.000 orang, dan kematiannya bisa mencapai 23.000 orang.

Kasus per kategori

Menurut data Kemenkes RI, kasus covid-19 di Indonesia lebih banyak laki-laki. Prosentasenya, sebesar 51,9 persen laki-laki. Sedangkan perempuan sebanyak.48,1 persen. 

Jumlah pasien yang dirawat juga kebanyakan pria yakni sebesar 51,4 persen. Untuk kategori pasien sembuh pria sebesar 51,6 persen, dan kasus meninggal juga didominasi pria yakni sebesar 58,8 persen.

Sedangkan dari sisi usia lebih banyak menyerang usia produktif yakni 31 hingga 45 tahun dengan prosentase sebesar 31,3 persen. Sementara itu, usia 46 hingga 59 tahun sebesar 24,7 persen, usia 19 hingga 30 tahun yakni sebesar 23,4 persen. Dan usia lebih dari 60 tahun sebanyak 11,4 persen. Terakhir, yakni usia 6 hingga 18 tahun sebanyak 6,8 persen, dan anak-anak usia 0 sampai 5 tahun sebanyak 2,3 persen.

Seperti halnya di negara lain, jumlah pasien meninggal dunia terbanyak merupakan usia 46-59 tahun yakni sebanyak 39,7 persen, usia di atas 60 tahun sebanyak 38,2 persen, usia 31 hingga 45 tahun sebesar 15,3 persen, usia 19 hingga 30 tahun sebesar 4,6 persen, usia 6 hingga 18 tahu tahun 1,3 persen, dan usia di bawah 5 tahun sebanyak 1 persen.

Sedangkan dari sisi kasus per provinsi, ada delapan provinsi dengan kasus tertinggi, dengan DKI Jakarta masih mendominasi yakni sebanyak 29.400 kasus atau 21,1 persen secara nasional. Disusul dengan Jawa Timur 27.903 kasus atau 20 persen. Kemudian 

Progres vaksin dan obat corona

Di bulan kemerdekaan ini, ada kabar baik yang mungkin bisa menjadi titik terang untuk perang terhadap covid-19. Pasalnya, vaksin kerja sama Bio Farma dan Sinovac, perusahaan asal China sudah memasuki fase 3 alias uji coba ke manusia yang merupakan uji coba tahap akhir sebelum mendapatkan persetujuan produksi. Sebelumnya, uji coba tahap 1 dan 2 sudah dilakukan di China dan Arab Saudi.

Bandung dipilih sebagai lokasi uji coba dengan melibatkan 1.620 sukarelawan, dimana di antaranya adalah Gubernur Jabar Ridwan Kamil dan Ketua Satgas Penanggulangan Covid-19, Doni Monardo ikut mendaftar. Kabar ini, membawa tanggapan positif dan negatif. Yang positif menganggap ini sebuah keuntungan dimana kelak Indonesia menjadi salah satu negara prioritas distribusi vaksin pascadilegalkan. Yang negatif, menduga Indonesia menjadi kelinci percobaan atas vaksin tersebut.

Selain kerja sama dengan Sinovac, Indonesia dengan Lembaga Eijkman juga mengembangkan vaksin covid-19 lokal bernama Merah Putih. Vaksin ini, dikembangkan dengan cara menggunakan sekuens virus SARS-CoV-2 yang spesifik di Indonesia.

Progresnya sendiri, baru memasuki tahap kloning protein untuk mendapatkan protein rekombinan, menurut Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bambang PS Brodjonegoro atau sekitar 30 persen dari delapan tahapan yang dirancang hingga vaksin bisa diproduksi.

Adapun perbedaan dari kedua vaksin itu yakni dari platformnya yang digunakan. Sinovac menggunakan satu virus utuh yang diperbanyak di lab lalu virus itu dipisahkan dan dilakukan inaktivasi (inactivated vaccine) setelah itu diformulasikan agar aman bagi manusia.

Sedangkan Merah Putih dikembangkan dengan metode rekombinan, dimana hanya mengambil bagian-bagian tertentu dari virus yang dianggap penting kemudian diperbanyak dan dijadikan antigen. Kedua vaksin ini ditargetkan bisa diproduksi pertengahan tahun depan.

Selain vaksin, senjata lain yang disiapkan yakni obat corona yang paling tepat dijadikan treatment. Beberapa hari lalu, Tim gabungan dari Universitas Airlangga (Unair), TNI AD, Badan Intelijen Negara (BIN) dan BPOM  mengklaim telah menemukan obat corona dengan efektifitas 98 persen mampu mengobati vaksin covid-19. Tentu ini menjadi kabar baik lainnya yang ditunggu-tunggu masyarakat. 

Obat yang telah melalui uji klinis fase 3 itu, merupakan kombinasi obat Covid-19 yang selama ini diberikan pada pasien yakni jenis Lopinavir/Ritonavir dan Azithromycin. Kedua, Lopinavir/Ritonavir dan Doxycycline. Ketiga, Hydrochloroquine dan Azithromyci.

Rektor Unair, M. Nasih menuturkan status obat ini siap untuk diproduksi dan diedarkan. Namun sebelumnya mereka harus menunggu izin dari BPOM. Sebagai catatan, obat ini hanya cocok diberikan pada pasien tanpa pemakaian ventilator.

Herbal dan obat penangkal alternatif

Dua hal ini, nampaknya memang tidak bisa dilepaskan dari budaya dan adat Indonesia. Kaya dengan rempah-rempahan, membuat masyarakat memanfaatkan obat herbal dan alternatif sebagai salah satu pencegahan dan penyembuhan covid-19. 

Bukan hanya masyarakat awam, bahkan Kementerian Pertanian pun melansir keampuhan minyak eucalyptus atau minyak kayu putih sebagai penangkal virus corona.

Hasilnya, kalung anti virus berbahan dasar eucalyptus inipun diproduksi. Tak tanggung-tanggung, sejumlah kalangan selebriti digandeng untuk mempromosikanya.

Tercatat, beberapa obat herbal dan alternatif yang hingga saat ini dipercaya bisa mencegah covid-19 adalah jahe, empon-emponan, hingga yang paling viral obat buatan Hadi Pranoto yang sempat pro kontra setelah video wawancara dengan penyanyi Anji.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona HUT Kemerdekaan RI
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top