Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Virus Corona Tidak Menyebabkan Komplikasi Pada Bayi Baru Lahir

Pada 25 Maret, para peneliti di Rumah Sakit Universitas Karolinska di Swedia meluncurkan program skrining (tes PCR) untuk Covid-19 bagi semua wanita yang dirawat di ruang persalinan. Para peneliti di balik studi ini mengumpulkan data tersebut dan mengaitkannya dengan data dari Swedish Pregnancy Register untuk 2.682 wanita yang melahirkan di rumah sakit antara 25 Maret dan 24 Juli 2020.
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 24 September 2020  |  13:42 WIB
Ilustrasi ibu hamil
Ilustrasi ibu hamil

Bisnis.com, JAKARTA - Para peneliti di Karolinska Institute dan Rumah Sakit Universitas Karolinska menyatakan mereka tidak menemukan adanya komplikasi pada bayi yang baru dilahirkan dari ibu penderita virus corona.

Pada 25 Maret, para peneliti di Rumah Sakit Universitas Karolinska di Swedia meluncurkan program skrining (tes PCR) untuk Covid-19 bagi semua wanita yang dirawat di ruang persalinan. Para peneliti di balik studi ini mengumpulkan data tersebut dan mengaitkannya dengan data dari Swedish Pregnancy Register untuk 2.682 wanita yang melahirkan di rumah sakit antara 25 Maret dan 24 Juli 2020.

Untuk menyelidiki hubungan antara tes positif dan hasil medis pada ibu dan neonatus (bayi yang baru dilahirkan), para peneliti membandingkan wanita yang dinyatakan positif dengan wanita yang dinyatakan negatif Covid-19, mencocokkan kedua kelompok untuk usia, BMI, paritas, tingkat pendidikan, negara kelahiran, merokok, status tinggal bersama dan status kesehatan pra-kehamilan.

Sebanyak 156 wanita (5,8 persen) dinyatakan positif SARS-CoV-2. Dari wanita tersebut, 65 persen tidak menunjukkan gejala. Bahwa sebagian besar wanita hamil dengan tes positif tidak menunjukkan gejala sejalan dengan hasil penelitian lain di mana skrining telah digunakan. Tidak ada perbedaan yang signifikan secara statistik dalam hal cara persalinan, perdarahan, penggunaan epidural, kelahiran prematur, lama tinggal di rumah sakit atau menyusui antara wanita yang terinfeksi dan tidak terinfeksi. Juga tidak ada perbedaan antara kelompok mengenai skor Apgar bayi atau berat lahir.

Wanita yang dites positif terkena virus corona baru, untuk alasan yang masih belum jelas, memiliki prevalensi yang lebih rendah dari persalinan induksi (18,7 persen, dibandingkan dengan 29,6 persen pada wanita tes-negatif) dan prevalensi preeklamsia atau peningkatan tekanan darah yang lebih tinggi yakni 7,7 persen dibandingkan yang negatif sebanyak 4,3 persen.

"Salah satu alasan yang mungkin untuk yang terakhir adalah bahwa preeklamsia dan Covid-19 berdampak pada beberapa organ dan dapat menunjukkan gejala yang serupa," kata ketua penulis studi Mia Ahlberg, bidan di Theme Women's Health, Pregnancy and Childbirth, Karolinska University Hospital, dan peneliti di Departemen Kedokteran, Karolinska Institutet (Solna), dilansir dari Medical Xpress, Kamis (24/9/2020).

Dr. Ahlberg menjelaskan fakta bahwa sebagian besar wanita dengan hasil tes positif tidak menunjukkan gejala yang mungkin mempengaruhi hasil penelitian. Lebih lanjut dia mengatakan proporsi wanita dengan gejala terlalu kecil untuk dapat menyelidiki apakah wanita tersebut memiliki risiko komplikasi yang lebih tinggi. Ada beberapa laporan tentang wanita hamil yang mengembangkan gejala Covid-19 parah dengan hasil yang merugikan. "Penelitian yang lebih besar harus dilakukan untuk dapat mengidentifikasi apakah wanita dengan gejala dan derajat gejala yang berbeda merupakan kelompok risiko untuk hasil yang merugikan seperti kelahiran prematur," tegasnya.

Namun yang pasti studi ini menunjukkan hampir dua dari tiga wanita hamil yang dites positif SARS-CoV-2 tidak menunjukkan gejala dan para peneliti tidak menemukan prevalensi komplikasi yang lebih tinggi selama persalinan atau kesehatan yang buruk pada neonatus. Namun, preeklamsia lebih sering terjadi pada wanita yang terinfeksi.

Stud yang diterbitkan dalam jurnal terkemuka JAMA tersebut juga menunjukkan bahwa prevalensi SARS-CoV-2 lebih tinggi pada wanita dengan pendidikan rendah (14,2 persen dengan sekolah kurang dari 10 tahun dibandingkan dengan 4,0 persen yang sekolah di atas 12 tahun). Lebih tinggi pada wanita yang lahir di Afrika atau Timur Tengah (10,0 persen) dibandingkan wanita yang lahir di negara-negara Nordik, termasuk Swedia (3,9 persen).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bayi Virus Corona
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top