Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Mengejutkan! Kelompok Muda Sehat Mungkin Tak Dapat Vaksin Corona Hingga 2022

Kabar mengejutkan datang dari WHO yang mengungkapkana bahwa orang muda dan sehat tidak akan mendapatkan vaksin virus corona (Covid-19).
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 15 Oktober 2020  |  11:31 WIB
Ilustrasi vaksin Covid-19. - Antara
Ilustrasi vaksin Covid-19. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – World Health Organization (WHO) mengatakan kelompok orang berusia muda yang sehat mungkin tidak akan mendapatkan vaksin virus corona hingga 2022 mendatang, karena kesehatan masyarakat akan difokuskan terlebih dahulu pada orang tua dan kelompok rentan lainnya.

Soumya Swaminathan, kelapa ilmuwan WHO mengatakan petugas kesehatan, pekerja garis depan, dan orang tua kemungkinan akan ditawari vaksin terlebih dahulu, meskipun rincian prioritas masih dikerjakan oleh WHO dan kelompok penasihatnya.

“Orang cenderung berpikir bahwa pada tanggal 1 Januari atau 1 April akan mendapatkan vaksin, dan kemudian semuanya akan kembali normal. Tidak akan berhasil seperti itu,” katanya seperti dikutip CNBC International, Kamis (15/10).

Dia menambahkan bahwa dunia diharapkan akan memiliki setidaknya satu vaksin yang aman dan efektif pada tahun 2021, tetapi vaksin ini masih akan tersedia dalam jumlah terbatas. Kelompok penasehat strategis yang terdiri dari para ahli imunisasi atau SAGE, baru-baru ini menerbitkan pedoman untuk negara-negara tentang cara untuk memprioritaskan kelompok orang yang berbeda.

Swaminathan menambahkan karena berbagai vaksin berpotensi cepat habis dalam pendistribusiannya, SAGE akan merilis panduan tentang populasi apa yang paling cocok untuk setiap vaksin dan bagaimana mendistribusikannya secara logistik.

Menurutnya, kebanyakan orang setuju bahwa ini dimulai dengan petugas kesehatan dan pejuang garis depan lain. Namun demikian, masih perlu ditentukan siapa di antara mereka yang memiliki risiko lebih tinggi daripada yang lain.

“Akan ada banyak panduan yang keluar, tetapi saya pikir rata-rata orang, generasi muda yang sehat mungkin harus menunggu hingga 2022 untuk mendapatkan vaksin,” ujarnya.

Sama halnya dengan WHO, Center for Diseases Control and Prevention (CDC) dan Food Drug Administration (FDA) sedang bersiap untuk memprioritaskan komunitas berisiko tertentu dalam distribusi vaksin. Tetapi timeline Amerika Serikat kemungkinan akan terlihat sangat berbeda dari WHO.

AS telah secara independen mendapatkan ratusan juta dosis dari enam perusahaan dengan vaksin potensial yang sedang dikembangkan. Pejabat tinggi kesehatan AS telah mengatakan bahwa negara itu dapat memiliki dosis yang cukup untuk memvaksinasi setiap orang Amerika pada musim semi 2021.

Pejabat tinggi WHO telah memperingatkan negara-negara agar tidak mengamankan dosis vaksin untuk warganya sendiri seperti yang telah dilakukan AS dan China. Upaya ini disebut oleh Direktur Jenderal WHO dengan sebutan nasionalisme vaksin.

Dalam rangka melawan hal tersebut, WHO telah meluncurkan program COVAX untuk menjamin akses yang adil terhadap pasokan dosis vaksin untuk seluruh dunia. Lebih dari 170 negara, telah berinvestasi di fasilitas tersebut, yang menyebarkan risiko dan potensi manfaat pengembangan vaksin di seluruh anggotanya.

Mari Van Kerkhove, Kepala Unit Penyakit dan Zoonosis WHO mengatakan bahwa pihaknya perlu memastikan vaksinasi dilakukan pada mereka yang paling berisiko di setiap negara, sebelum akhirnya vaksinasi dilakukan terhadap semua orang di berbagai negara.

 “Sebagian dari itu tidak hanya karena komitmen pemerintah, tetapi juga pemahaman individu yang mengatakan, 'Saya orang yang lebih muda. Saya tidak memiliki kondisi yang mendasarinya. Saya mungkin perlu menunggu agar kakek nenek saya bisa mendapatkan vaksin, '”tambahnya.

Tetapi setiap rencana distribusi vaksin tentu saja bergantung pada vaksin yang aman dan efektif. Komentar WHO muncul beberapa hari setelah Johnson & Johnson mengumumkan jeda pada uji coba vaksin tahap akhir mereka karena masalah keamanan.  

Jeda dalam uji klinis seperti itu biasa terjadi dan menunjukkan bahwa pihak berwenang mengambil tindakan pencegahan keamanan yang tepat dalam mengembangkan vaksin. Di sisi lain, penundaan tersebut merupakan pengingat akan tugas sulit pengembangan vaksin.

Van Kerkhove menekankan bahwa meski tanpa vaksin, dunia memiliki alat untuk menghentikan penyebaran virus corona sekarang yang sudah bisa dilakukan dan terbukti efektif mencegah virus makin menyebar luas.

“Saat ini kami memiliki alat yang dapat mencegah peristiwa amplifikasi yakni mengenakan masker, menghindari keramaian dan sering mencuci tangan. Kami dapat mengatasi virus dan di banyak negara mereka telah mengendalikan penularan,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

who Vaksin kabar global Covid-19
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top