Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Berapa Sebenarnya Harga Vaksin Covid-19 Akan Dijual?

Harga untuk vaksin Covid-19 yang sedang dikembangkan dijaga ketat tetapi berkisar dari US$3 per dosis hingga US$37 per dosis
Mia Chitra Dinisari
Mia Chitra Dinisari - Bisnis.com 28 Oktober 2020  |  21:22 WIB
Ilustrasi vaksin Covid-19. - Antara
Ilustrasi vaksin Covid-19. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Organisasi Kesehatan Dunia WHO mencatat ada setidaknya sembilan kandidat vaksin virus corona penyebab Covid-19 yang kini sudah memasuki tahap uji klinis fase 3 atau fase akhir sebelum mendapatkan izin edar.

Sayangnya, meski mereka berlomba untuk segera merilis vaksin itu bahkan berburu izin edar darurat, belum ada satupun yang secara transparan buka-bukaan terkait berapa harga per dosis yang akan dibanderol.

Beberapa prediksi harga memang bergulir di masyarakat, namun, belum ada satupun perusahaan pengembang vaksin yang secara pasti menyebut angkanya. Sama halnya dengan kerahasiaan mereka soal beberapa kasus dari efek suntikan vaksin pada relawan.

Kekhawatiran tingginya harga vaksin yang dibanderol terutama dihadapi oleh negara miskin, yang terancam sulit mendapatkan akses karena masalah kemampuan finansial.

Hal itu, berkali-kali ditegaskan oleh milarder Bill Gates yang mengimbau soal keadilan distribusi vaksin untuk negara miskin, menyusul banyak negara kaya yang sudah menguasai setok vaksin.

Pun dengan WHO yang terus gencar melalui program Covax nya mengajak semua negara untuk bergabung demi keadilan distribusi vaksin ini.

Dilansir dari Financial Times, harga vaksin Covid-19 yang sedang dikembangkan dijaga ketat tetapi berkisar dari US$3 atau sekitar Rp43.500 hingga US$37 atau Rp536.000 per dosis (kurs Rp14.500). 

Perusahaan bioteknologi AS Moderna mengatakan akan mengenakan biaya maksimum US$37 untuk satu dosis untuk vaksin Covid-19, sedangkan AstraZeneca telah menjual suntikannya sekitar US$3 hingga US$4 per dosis dalam kesepakatan dengan UE, sementara Johnson & Johnson dan vaksin yang dikembangkan bersama oleh Sanofi dan GSK telah masuk sekitar US$10 dosis. Sebaliknya, Moderna berusaha menjual vaksinnya sekitar US$50 hingga US$60 dalam dua kali suntikan.

Bisnis bioteknologi lain, seperti CureVac, mengatakan mereka akan mencari "margin etis" pada harga vaksin mereka. Sementara itu, salah satu pelopor vaksin China, Sinovac, minggu ini mulai menjual vaksinnya di kota-kota tertentu dengan harga US$60 untuk dua suntikan sebagai bagian dari program penggunaan darurat dengan ratusan ribu peserta.

Di Indonesia, Biofarma sudah menyatakan jika haga vaksin buatan Sinovac yang masuk ke Indonesia akan dijual seharga Rp200.000.

“Harga membutuhkan tiga tingkatan di mana negara-negara kaya membayar kembali banyak biaya tetap, negara-negara berpenghasilan menengah membayar kembali sebagian dari biaya tetap dan negara-negara miskin membayar biaya marjinal yang sebenarnya,” Mr Gates dilansir dari Financial Times.

Gates berharap dalam jangka panjang bahwa persaingan akan menekan harga. Tetapi dia juga mengakui bahwa harga vaksin tertentu kemungkinan besar akan tetap lebih tinggi daripada yang lain. Misalnya, vaksin mRNA, seperti dari Moderna dan kemitraan Pfizer dan BioNTech, lebih mahal untuk diproduksi daripada vaksin berbasis vektor adenovirus seperti suntikan yang dikembangkan oleh AstraZeneca dan universitas Oxford, katanya.

Sementara itu, dilansir dari laman resmi WHO,  penetapan harga vaksin menjadi semakin kompleks dan multidimensi di tingkat global dan dalam konteks negara tertentu. Kontrak sekarang mencakup elemen seperti volume terjamin, pembayaran di muka, kontrak tahun jamak, bundling produk, diskon dan rabat, dll. Kondisi ini membuat lebih sulit untuk mengidentifikasi harga sebenarnya dari vaksin dan untuk memisahkan semua komponen harga.

Proyek Vaksin Produk, Harga dan Pengadaan (V3P) WHO telah dirancang untuk memfasilitasi perbandingan yang tepat dari informasi harga dan untuk menyediakan negara dengan data yang akurat, dapat diandalkan dan berguna tentang produk, harga dan pengadaan vaksin.

Proyek ini telah mengembangkan mekanisme informasi dalam domain publik yang menyediakan informasi yang andal, akurat dan tidak bias tentang komponen harga vaksin, yang memungkinkan peningkatan transparansi harga dalam proses pengadaan dan pengambilan keputusan yang lebih tepat untuk implementasi pengenalan vaksin.

Mekanisme dan sistem pengadaan

Pengadaan vaksin menjelaskan proses memperoleh vaksin di dalam negeri atau internasional, menggunakan prosedur dan  atau mekanisme pengadaan khusus.

Tujuan pengadaan vaksin adalah untuk mendapatkan produk yang terjamin kualitasnya dengan harga yang terjangkau secara tepat waktu, sehingga dapat mengoptimalkan kinerja program imunisasi dan menurunkan angka kematian dan kesakitan akibat penyakit yang dapat dicegah oleh vaksin.

Pengadaan vaksin adalah bidang yang sangat terspesialisasi yang berbeda dengan pengadaan obat dan farmasi lain. Pertama, vaksin diberikan kepada anak-anak yang sehat dan biasanya diberikan gratis dari pemerintah, sehingga kualitas dan keamanan vaksin menjadi perhatian utama.

Kedua, jumlah produsen dan pemasok vaksin relatif sedikit. Saat ini, hanya 25 produsen yang mengekspor vaksin dalam jumlah signifikan yang telah diprakualifikasi oleh WHO. Ketiga, produksi vaksin membutuhkan waktu tunggu yang lama. Dengan asumsi kapasitas produksi tersedia, dibutuhkan antara 6 hingga 24 bulan sejak permintaan dikonfirmasi dan vaksin dikirimkan.

Mekanisme pengadaan yang berbeda dapat mempengaruhi harga dan akses tepat waktu ke vaksin. Negara-negara yang mendapatkan vaksin mereka langsung dari pemasok memiliki otonomi penuh atas pemilihan vaksin, harga, dan proses pengiriman.

Alternatifnya, negara-negara yang memilih untuk mendelegasikan pengadaan vaksin ke mekanisme seperti Dana Bergulir PAHO (untuk negara dan wilayah di Amerika) atau Divisi Pasokan UNICEF, mendapat keuntungan dari keuntungan kumpulan pengadaan yang besar. Pilihan lainnya adalah bekerja sama dengan negara lain untuk membangun proses pengadaan regional. Halaman ini menjelaskan opsi pengadaan negara langsung dan pengadaan gabungan dan menyediakan tautan ke sumber daya dan alat pelatihan tentang pengadaan vaksin.

Sedangkan pasar vaksin melibatkan sejumlah produsen yang berlokasi di negara berkembang dan negara industri, yang memasok rangkaian produk vaksin yang semakin beragam. Sementara penjualan ke negara-negara berpenghasilan tinggi menghasilkan pendapatan terbesar dari vaksin, penjualan ke negara-negara berpenghasilan menengah dan rendah mewakili volume terbesar dari vaksin yang dijual. Halaman ini memberikan gambaran umum pasar vaksin dan link ke sumber daya tambahan yang terkait dengan pasar vaksin tertentu.

Terakhir diperbarui: Januari 2016

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona Virus Corona
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top