Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ilmuwan Inggris Kembangkan Smart Patch Vaksin Covid-19 Pertama di Dunia

Perangkat chip ini bertujuan untuk mengelola vaksin virus corona dan memantau kemanjurannya dengan melacak respons kekebalan tubuh.
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 07 Januari 2021  |  18:19 WIB
Sel virus corona
Sel virus corona

Bisnis.com, JAKARTA – Ilmuwan dari Inggris mengembangkan smart patch vaksin virus corona Covid-19 pertama di dunia.

Perangkat chip ini bertujuan untuk mengelola vaksin virus corona dan memantau kemanjurannya dengan melacak respons kekebalan tubuh.

Dilansir dari Metro UK, Kamis (7/1) para ilmuwan dari Swansea University tengah mengembangkan smart patch vaksin Covid-19, perangkat silikon sekali pakai menggunakan microneedles untuk memberikan vaksin dan memantau seberapa baik kinerjanya.

Perangkat ini diikat ke lengan pasien hingga 24 jam dan kemudian dipindai untuk memberikan pembacaan data bagi para peneliti. Ilmuwan mengatakan bahwa patch adalah solusi sempurna untuk orang yang takut jarum.

Dosen senior Swansea University Sanjiv Sharma mengatakan, apa yang mereka harapkan dalam menanggapi pemberian sendiri patch vaksin ini adalah untuk melihat produksi imunoglobulin, yang dapat dideteksi oleh perangkat.

Dia melanjutkan, perangkat administrasi vaksin berbiaya rendah ini akan memastikan kembali bekerja dengan aman dan manajemen wabah Covid-19 berikutnya.

“Di luar pandemi, ruang lingkup pekerjaan ini dapat diperluas untuk diterapkan pada penyakit menular lainnya karena sifat platformnya memuungkinkan adaptasi ke berbagai penyakit,” katanya.

Sharma menyatakan tambalan pintar ini juga tidak akan terlalu menyakitkan dibandingkan dengan jarum suntik karena tidak terlalu masuk ke dalam kulit. Menggunakan microneedles polikarbonat atau silikon sepanjang milimeter, smart patch dapat menembus kulit untuk memberikan vaksin.

Olivia Howells, mahasiswa doktoral yang terlibat dalam pengembangan mengatakan bahwa perangkat ini tidak menembus terlalu dalam ke dalam kulit dan tidak menstimulasi reseptor rasa sakit. Jadi, rasa sakit yang ditimbulkan tidak sebanyak pad jarum suntik.

Tim pusat penelitian Swansea University bekerja sama dengan Impercial College London mengembangkan hal tersebut. Mereka berharap dapat menghasilkan prototipe pada Maret tahun ini.

Selanjutnya studi klinis pada manusia tentang pengiriman vaksin harus dilakukan sebelum membuatnya tersedia untuk publik.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

alat kesehatan Virus Corona
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top