Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

China dan WHO Dikritik Lamban Menghentikan Pandemi Covid-19

mantan Presiden Liberia Ellen Johnson Sirleaf dan mantan Perdana Menteri Selandia Baru Helen Clark mengatakan ada kesempatan yang hilang untuk mengadopsi langkah dasar kesehatan masyarakat sedini mungkin.
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 20 Januari 2021  |  12:59 WIB
Penampakan Kota London yang sunyi, berlatar belakang perkantoran di area komersial, akibat pandemi Covid-19./Bloomberg - Luke MacGregor
Penampakan Kota London yang sunyi, berlatar belakang perkantoran di area komersial, akibat pandemi Covid-19./Bloomberg - Luke MacGregor

Bisnis.com, JAKARTA – Panel ahli yang ditugaskan oleh World Health Organization (WHO) mengkritik China dan negara-negara lain karena tidak bergerak untuk membendung wabah virus corona lebih awal dan mempertanyakan WHO yang seharusnya menandainya sebagai pandemi lebih cepat.

Dalam laporan yang dikeluarkan kepada media, panel yang dipimpin oleh mantan Presiden Liberia Ellen Johnson Sirleaf dan mantan Perdana Menteri Selandia Baru Helen Clark mengatakan ada kesempatan yang hilang untuk mengadopsi langkah dasar kesehatan masyarakat sedini mungkin.

Dilansir dari Fox News, Rabu (20/1) panel ahli itu mengatakan bahwa tindakan kesehatan masyarakat bisa diterapkan lebih tegas lagi otoritas kesehatan lokal dan nasional di China pada Januari atau lebih awal lagi.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Hua Chunying membantah China bereaksi terlalu lambat. Menurutnya, sebagai negara pertama yang menyuarakan kewaspadaan global terhadap pandemi, China telah membuat keputusan yang cepat dan tegas.

Dia mencontohkan tindakan tersebut diimplementasikan dengan penguncian Wuhan dalam waktu tiga minggu setelah wabah dimulai. “Semua negara tidak hanya China tapi juga Amerika Serikat, Inggris, Jepang, atau negara lain harus berusaha lebih baik,” imbuhnya.

Investigasi Associated Press pada Juni tahun lalu menyatakan bahwa WHO berulang kali memuji China di depan umum, sementara para pejabat secara pribadi mengeluh bahwa otoritas China berhenti berbagi informasi epidemi kritis, termasuk urutan genetik virus baru.

Pada jumpa pers awal pekan ini, Johnson Sirleaf mengatakan terserah pada negara-negara apakah mereka ingin merombak WHO untuk memberikan lebih banyak wewenang untuk membasmi wabah atau tidak. Dia mengatakan organisasi itu juga dibatasi oleh kurangnya dana.

“Intinya adalah WHO tidak memiliki kekuasaan untuk memaksakan apapun. Hal yang bisa dilakukan hanyalah meminta untuk diundang masuk,” katanya.

Pada pekan lalu, tim internasional ilmuwan yang dipimpin oleh WHO tiba di Wuhan untuk meneliti asal muasal pandemi, setelah perselisihan politik berbulan-bulan untuk mendapatkan persetujuan China agar penyelidikan itu bisa dilakukan.

Panel juga mengutip bukti kasus Covid-19 di negara lain pada akhir Januari, mereka mengatakan langkah penahanan kesehatan masyarakat seharusnya segera diberlakukan di negara manapun dengan kemungkinan kasus. Akan tetapi, hal tersebut tidak dilakukan.

Para ahli juga bertanya-tanya mengapa WHO tidak mengumumkan darurat kesehatan masyarakat global lebih cepat. Badan kesehatan PBB itu mengadakan komite darurat pada 22 Januari, tetapi tidak menggolongkan pandemi sebagai darurat internasional hingga seminggu kemudian.

WHO tidak menyatakan wabah Covid-19 sebagai pandemi hingga 11 Maret, beberapa pekan setelah virus mulai menyebabkan wabah eksplosif di banyak benua, yang memenuhi definisi WHO sendiri untuk pandemi flu.

Ketika virus corona mulai menyebar ke seluruh dunia, para ahli WHO memperdebatkan seberapa menular virus itu. Mereka sempat mengatakan itu tidak menular seperti flu dan bahwa orang tanpa gejala jarang menyebarkan virus tersebut.

Setelahnya, para ilmuwan kemudian menyimpulkan bahwa Covid-19 menular lebih cepat daripada flu dan proporsi penyebaran yang signifikan justru berasal dari orang-orang yang tampaknya tidak mengalami sakit atau yang dikenal dengan orang tanpa gejala.

Selama setahun terakhir, WHO mendapat kecaman keras karena respons dan penanganan terhadap Covid-19. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengecam WHO karena berkolusi dengan China untuk menutupi awal wabah sebelum menghentikan pendanaan AS ke lembaga itu.

WHO tunduk pada tekanan internasional ketika pertemuan tahunan negara-negara anggotanya tahun lalu dengan membentuk Pandel Independen untuk kesiapsiagaan dan respons pandemi. Organisasi itu menunjuk Sirleaf dan Clark untuk memimpin tim tersebut.

Panel menyimpulkan bahwa banyak negara yang mengambil tindakan minimal untuk mencegah penyebaran Covid-19 secara internal dan internasional. Akan tetapi mereka tidak menyebut nama negara tertentu.

Mereka juga menolak untuk memanggil WHO karena kegagalannya untuk mengkritik negara-negara secara lebih tajam atas kesalahan langkah mereka, alih-alih memuji negara atas upaya respons dan penanganan yang dilakukan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

who pandemi corona
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top