Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tips Menjaga Keuangan Keluarga Ketika Sumber Pendapatan Berkurang

Hindari investasi tanpa tujuan finansial yang jelas. Jangan berinvestasi hanya karena iming-iming imbal hasil tinggi.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 23 Februari 2021  |  20:50 WIB
Asuransi jiwa tentu wajib dimiliki oleh pencari nafkah. - Bisnis.com
Asuransi jiwa tentu wajib dimiliki oleh pencari nafkah. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA -- Dalam sebuah keluarga modern umumnya suami dan istri mengelola rumah tangga dengan sistem dual income untuk meringankan beban keuangan.

Mengetahui berapa banyak uang yang Anda butuhkan untuk kebutuhan sehari-hari seperti makanan, rumah, utilitas seperti gas, listrik, telepon dan air, transportasi dan layanan medis, dapat membantu memastikan Anda memiliki cukup uang untuk pengeluaran dan keadaan darurat yang tidak terduga.

Namun apa jadinya jika keluarga yang sebelumnya menerapkan sistem dual income terpaksa beralih ke single income?

Ada sejumlah alasan mengapa peristiwa ini terjadi, sebut saja karena salah satu pasangan telah dirumahkan oleh perusahaannya, sang istri memutuskan untuk fokus mengurus rumah tangga, dan lain sebagainya.

Dilansir melalui Lifepal, berikut tips untuk menjaga kesehatan keuangan keluarga ketika sumber pendapatan berkurang:

1. Tambah dana darurat

Keluarga dengan single income tentu memiliki risiko finansial yang lebih besar ketimbang dual income. Jelas saja, hal itu disebabkan karena hanya satu orang pencari nafkah, ketika dia terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), penghasilan rutin yang diterima keluarga akan hilang.

Tidak ada salahnya untuk menambah ketersediaan dana darurat dari yang awalnya 6 kali pengeluaran bulanan menjadi 9 kali.

Tak hanya itu, penambahan dana daurat juga harus dilakukan dengan pertimbangan risiko profesi si pencari nafkah. Semakin tinggi risiko pekerjaan atau semakin tidak stabil pendapatan si pencari nafkah, makin besar pula dana darurat yang harus disiapkan.

2. Gunakan asuransi jiwa sesuai kebutuhan

Asuransi jiwa tentu wajib dimiliki oleh pencari nafkah. Ketika pencari nafkah tidak lagi mampu bekerja karena sakit, kehilangan fungsi organ tubuh, atau meninggal dunia, maka uang pertanggungan (UP) dari asuransi jiwa akan cair dan bisa digunakan oleh ahli waris untuk hidup.

Untuk memilih asuransi jiwa yang tepat bagi Anda, ketahuilah terlebih dulu kebutuhan UP Anda. Lakukan perhitungan dengan metode pendekatan pengeluaran.

Adapun perhitungan tersebut bisa Anda dapatkan di kalkulator uang pertanggungan asuransi jiwa. Anda cukup memasukkan sejumlah nilai pada kalkulator tersebut, yakni:

- Masukkan besaran penghasilan atau pengeluaran bulanan Anda saat ini pada kolom pertama,

- Lalu, masukan jumlah tahun Anda berharap uang pertanggungan tersebut dapat meng-cover tanggungan atau keluarga Anda, misal 10 atau 20 tahun atau lebih.

- Terakhir, masukan rata-rata inflasi tahunan dalam bentuk persen.

Dalam sekejap, akan muncul angka yang merupakan hasil perhitungan uang pertanggungan (UP) Anda. Ini tentu akan amat membantu pembaca Anda dalam mensimulasikan uang pertanggungan asuransi jiwa mereka.

3. Tinjau ulang kebutuhan asuransi kesehatan untuk keluarga

Tidak semua pencari nafkah bekerja di perusahaan yang bersedia memberikan fasilitas berupa asuransi kesehatan untuk anggota keluarganya.

Bila memang Anda dihadapkan pada kondisi ini, pertimbangkan untuk membeli asuransi kesehatan untuk pasangan Anda atau asuransi kesehatan keluarga.

Asuransi kesehatan keluarga adalah jenis asuransi yang menanggung lebih dari satu anggota keluarga, mulai dari pasangan, anak-anak, hingga tanggungan lainnya. Umumnya asuransi

kesehatan keluarga melindungi hingga lima orang anggota keluarga dengan pembayaran hanya satu premi.

Meski premi yang dibayarkan akan terlihat besar, besaran premi tersebut tetap tidak semahal jika mendaftarkan anggota keluarga satu per satu dalam asuransi kesehatan individu.

4. Atur ulang tujuan investasi Anda dengan menggunakan skala prioritas

Catat ulang tujuan-tujuan investasi Anda baik dalam jangka waktu pendek hingga yang panjang. Investasi untuk ketersediaan dana pendidikan anak, dp hunian, maupun dana pensiun tentu bisa menjadi prioritas utama.

Sementara itu, segala bentuk keinginan seperti belanja gadget, barang branded, liburan ke luar kota, pembelian kendaraan bermotor, dan lainnya bisa ditunda terlebih dulu, setelah kebutuhan-kebutuhan yang bersifat prioritas terpenuhi.

Hindari berinvestasi tanpa tujuan finansial yang jelas. Jangan berinvestasi hanya karena iming-iming imbal hasil tinggi.

Berinvestasilah di instrumen yang Anda pahami dan gunakanlah uang dingin, bukan uang yang sudah Anda alokasikan untuk kebutuhan-kebutuhan Anda.

5. Berkomitmenlah untuk jaga kesehatan arus kas

Peralihan dual income ke single income sama halnya dengan peristiwa berkurangnya pendapatan per bulan. Hal ini tentu mewajibkan Anda untuk menyesuaikan ulang pengeluaran rutin Anda.

Bila Anda harus memotong pengeluaran, potonglah pengeluaran yang bersifat keinginan bukan kebutuhan atau pengeluaran yang bersifat wajib. Lunasilah utang-utang konsumtif jangka pendek Anda yang berbunga besar, agar beban keuangan menjadi lebih ringan.

Usahakan agar Anda tetap memiliki nilai arus kas bersih (selisih pemasukan dan pengeluaran) minimal setara dengan 10 persen pemasukan.

Itulah hal-hal yang patut diketahui jika Anda harus mengalami transisi dual income menjadi single income dalam keluarga. Lakukan pula cek kesehatan keuangan secara rutin setiap semester untuk mengetahui kondisi kesehatan keluarga Anda.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

investasi pendapatan tips keuangan pandemi corona
Editor : Novita Sari Simamora

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top