Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ini Hasil Riset Karakteristik Klinis dan Kematian Covid-19 di Jakarta, Terbit di Lancet

Salah satunya adalah studi kohort retrospektif berbasis rumah sakit tentang karakteristik klinis dan kematian terkait Covid-19 di Jakarta. yang diterbitkan awal bulan ini di jurnal internasional Lancet.
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 08 Maret 2021  |  13:00 WIB
Sel virus Corona - Istimewa
Sel virus Corona - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Pandemi Covid-19 mendorong banyak penelitian dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang virus yang lebih jelas, sehingga dapat digunakan untuk keputusan perawatan hingga pengambilan kebijakan.

Salah satunya adalah studi kohort retrospektif berbasis rumah sakit tentang karakteristik klinis dan kematian terkait Covid-19 di Jakarta. yang diterbitkan awal bulan ini di jurnal internasional Lancet.

Studi itu melibatkan peneliti dari Eijkman-Oxford Clinical Research Unit (EOCRUJakarta), Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, University of Oxford (Inggris), dan Oxford University Clinical Research Unit (Vietnam).

Penelitian dilatar belakangan data kematian Covid-19 dan faktor terkait dari rangkaian sumber daya rendah masih langka. Oleh sebab itu, para peneliti meneliti karakteristik klinis dan faktor terkait kematian Covid-19 di rumah sakit di Jakarta dari 2 Maret hingga 31 Juli 2020.

Kohort retrospektif ini mencakup semua pasien rawat inap dengan Covid-19 yang dikonfirmasi oleh PCR di 55 rumah sakit. Total pasien yang dianlisis hingga hasil pasti sebanyak 4.265 orang dari berbagai kelompok usia.

Karakteristik pasien yang termasuk dalam analisis, rerata berusia 46 tahun. Sebanyak 5 persen adalah kelompok anak-anak dan 52 persen adalah laki-laki.

Gejala yang paling sering muncul dan dialami oleh pasien adalah batuk (66 persen), diikuti dengan demam (53 persen), malaise (35 persen), sesak napas (32 persen), dan lain-lain. Dengan jumlah median gejala adalah tiga, sekitar 39 persen pasien memiliki lebih dari tiga gejala.

Adapun, dari 4.265 pasien dengan hasil yang diketahui, 12 persen dinyatakan meninggal dunia dan 88 persen dipulangkan hidup-hidup dari rumah sakit. 7 persen pasien yang meninggal dinyatakan meninggal saat kedatangan di rumah sakit.

Waktu rata-rata dari onset gejala hingga masuk rumah sakit adalah 6 hari secara keseluruhan, 5 hari untuk pasien yang meninggal, dan 6 hari untuk pasien yang dipulangkan.

Sementara, rata-rata tinggal di rumah sakit adalah 24 hari secara keseluruhan, 6 hari di antara pasien yang meninggal, dan 26 hari di antara pasien yang selamat.

Studi juga menyertakan secara rinci kematian berdasarkan usia dan jumlah penyakit penyerta yang sudah ada sebelumnya, seperti hipertensi, diabetes, penyakit jantung, ginjal kronis, dan lain-lain.

"Risiko kematian dikaitkan dengan usia yang lebih tua, jenis kelamin, jumlah komorbiditas yang sudah ada sebelumnya ... waktu masuk ICU dan ventilasi mekanis," tulis laporan para peneliti dalam jurnal yang diterbitkan 2 Maret.

Kendati cukup rinci, penelitian juga memilki keterbatasan. Penulis studi mencatat rancangan restrospektif dan ketergantungan pada data suveilans rumah sakit rutin berarti untuk beberapa variabel dasar utama, data tidak lengkap atau tersedia secara seragam.

Selain itu, komorbiditas sering dilaporkan sendiri atau kurang terdiagnosis serta rincian tentang perawatan suportif dan pengobatan yang diterima juga tidak tersedia dalam analisis ini.

Adapun, penulis studi menyimpulkan faktor risiko terkait kematian di rumah sakit di Jakarta secara luas serupa dengan yang ada negara berkembang lain di Amerika Utara, Eropa, dan Asia, yakni didominasi oleh usia lanjut dan penyakit penyerta.

"Temuan ini menyoroti perlunya tindakan kesehatan masyarakat yang spesifik untuk mengurangi risiko infeksi di antara populasi yang rentan serta perawatan dan pengobatan yang lebih baik untuk orang sakit," catat peneliti.

Penulis studi ini di antaranya adalah Henry Surendra dan Iqbal Elyazar dari EOCRUJakarta, Widyastuti sebagai Kepala Dinkes DKI Jakarta, Dwi Oktavia sebagai Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, dan yang lainnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona studi
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top