Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Vaksin AstraZeneca Terhambat Kekhawatiran Penggumpalan Darah

Otoritas kesehatan Norwegia melaporkan 3 orang tenaga kesehatan yang menerima vaksin AstraZeneca mendapatkan perawatan karena pendarahan, penggumpalan darah, dan menurunnya kadar trombosit. Kasus yang sama juga ditemukan di Denmark dan Austria.
Saeno
Saeno - Bisnis.com 17 Maret 2021  |  05:37 WIB
Botol dengan stiker bertuliskan, "Covid-19 / vaksin Coronavirus / Injeksi" dan jarum suntik medis terlihat di depan logo AstraZeneca yang ditampilkan dalam ilustrasi (31/10/2020). - Antara/Reuters
Botol dengan stiker bertuliskan, "Covid-19 / vaksin Coronavirus / Injeksi" dan jarum suntik medis terlihat di depan logo AstraZeneca yang ditampilkan dalam ilustrasi (31/10/2020). - Antara/Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Kekhawatiran terjadinya koagulasi atau penggumpalan darah menunda AstraZeneca mendapat kepercayaan dunia atas produk vaksinnya.

Gelombang penundaan penggunaan vaksin AstraZeneca yang bermula di Eropa memunculkan pertanyaan bagaimana Indonesia menyikapi hal serupa.

Seperti diberitakan, di Indonesia vaksin dari AstraZeneca diprioritaskan untuk para lansia yang belum mendapatkan vaksin.

Di Indonesia, vaksin ini datang ke Indonesia melalui jalur COVAX Facility. COVAX merupakan program vaksin Covid-19 global yang juga dinisiasi Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO.

Indonesia sudah memiliki izin penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan untuk vaksin AstraZeneca ini. 

Astrazeneca merupakan satu dari tujuh jenis vaksin yang ditetapkan bagi program vaksinasi Covid-19 oleh pemerintah. Enam jenis lainnya, seperti diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/12758/2020 tentang Penetapan Jenis Vaksin untuk Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19 adalah vaksin yang diproduksi PT Biofarma (Persero), Sinopharm, Moderna, Pfizer Inc, Novavax, dan Sinovac.

Indonesia menerima pengiriman pertama vaksin AstraZeneca sebesar 1.113.600 vaksin jadi dengan total berat 4,1 ton dan terdiri dari 11.136 karton.

Pasokan tersebut merupakan bagian awal dari seri pertama vaksin. Pada seri pertama, Indonesia akan memperoleh 11.704.800 vaksin jadi. Pengiriman seri pertama ini akan dilakukan hingga Mei 2020 dan diharapkan akan diikuti dengan seri selanjutnya.

Belakangan vaksinasi Covid-19 dengan produk AstraZeneca ditangguhkan di sejumlah negara, terutama di Eropa. Langkah itu diambil lantaran adanya laporan pembekuan darah sebagai dampak vaksinasi.

Kehati-Hatian

Dengan alasan kehati-hatian, Indonesia akhirnya menunda distribusi vaksin AstraZeneca.

Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 menegaskan penundaan penggunaan vaksin AstraZeneca dalam program vaksinasi Covid-19 di Indonesia hanyalah sementara.

"Terkait vaksin AstraZeneca memang ada penundaan sifatnya sementara dikarenakan asas kehati-hatian, namun alasan penundaan bukan semata-mata karena adanya temuan pembekuan darah oleh beberapa negara melainkan karena pemerintah lebih ingin memastikan keamanan dan ketepatan kriteria penerima vaksin AstraZeneca," kata Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito dalam konferensi pers virtual di graha BNPB Jakarta, Selasa (16/3/2021).

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pada Senin (15/3) menyatakan Kementerian Kesehatan menunda distribusi vaksin AstraZeneca, padahal sebanyak 1.113.600 dosis vaksin AstraZeneca dari Inggris sudah tiba di Indonesia pada 8 Maret 2020 dan sisanya akan datang pada beberapa bulan ke depan.

"Sebagai informasi, saat ini Badan POM, ITAGI (Indonesian Technical Advisory Group on Immunization) dan para ahli sedang melihat kembali apakah kriteria penerima AstraZeneca apakah akan sama dengan kriteria penerima vaksin Sinovac dan Bio Farma," tambah Wiku.

Selain itu, menurut Wiku, penundaan tersebut juga dilakukan untuk memastikan hal-hal lain terkait quality control.

"Secara pararel BPOM juga melihat waktu penyuntikan dosis kedua AstraZeneca setelah WHO sebelumnya menyatakan rentang waktu optimal dosis kedua dari vaksin AstraZeneca adalah 9-12 minggu dari dosis pertama," ungkap Wiku.

Bila sudah ada rekomendasi dari BPOM terkait indikasi vaksin AstraZeneca maka selanjutnya Kementerian Kesehatan akan menentukan kelompok mana yang diprioritaskan menjadi penerima vaksin tersebut.

"Hasil evaluasi keamanan dan penentuan kriteria penerima vaksin AstraZeneca ini selanjutnya akan diinformasikan Kementerian Kesehatan dan BPOM," tambah Wiku.

Vaksin AstraZeneca yang masuk ke Indonesia diketahui memiliki masa kadaluarsa pada Mei 2021 padahal ada pada masa interval yang cukup lama.

Masa interval vaksin AstraZeneca adalah 9-12 minggu dari penyuntikan dosis pertama ke dosis kedua. Interval tersebut berbeda dengan vaksin Sinovac maupun Bio Farma yang penyuntikan kedua dapat dilakukan dalam kurun waktu 14-28 hari setelah penyuntikan dosis pertama.

Selain Indonesia, sejumlah negara yaitu Irlandia, Belanda, Thailand, Austria, Denmark dan Norwegia juga melakukan penundaan penggunaan vaksin AstraZeneca setelah vaksin tersebut menimbulkan efek samping seperti penyumbatan darah.

Dua Bulan

Sebagian masyarakat yang menanti-nanti suntikan AstraZeneca mesti bersabar. Kepastian penggunaan vaksin merek AstraZeneca di Tanah Air diperkirakan baru diketahui 1-2 pekan ke depan. 

Menurut Kepala LBM Eijkman Profesor Amin Soebandrio, waktu tersebut dibutuhkan oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) sebelum mengeluarkan pengumuman resmi penggunaan vaksin yang beberapa waktu lalu sudah mendapatkan izin penggunaan darurat (emergency use authorization/EUA).

"Jadi, kalau semua informasi sudah jelas, risikonya memang tidak ada, itu baru akan diberikan izinnya. Mungkin ini akan memakan waktu 1-2 pekan," ujar Amin pada saat dihubungi, Selasa (16/3/2021).

Dia menilai langkah yang dilakukan BPOM terhadap vaksin AstraZeneca dengan menerapkan prinsip kehati-hatian sudah tepat. Badan tersebut, lanjutnya, memang perlu mengumpulkan banyak informasi sebelum memberikan lampu hijau terhadap AstraZeneca.

Diberitakan sebelumnya, penggumpalan darah para penerima vaksin AstraZeneca di sejumlah negara yang diikuti dengan penghentian penggunaan merek tersebut akan ditindaklanjuti oleh pemerintah sebelum didistribusikan ke masyarakat.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan untuk penanganan pandemi Covid-19 Siti Nadia Tarmidzi mengatakan kementerian sedang menunggu tindakan lebih lanjut dari BPOM terkait dengan perihal AstraZeneca tersebut.

Kandungan Vaksin AstraZeneca

Associate Professor dan Peneliti Kimia Farmasi Universitas Putra Malaysia Bimo A. Tejo mengatakan vaksin buatan AstraZeneca mengandung bahan aktif adenovirus dari simpanse (ChAdOx1) yang disisipi gen bagian protein spike dari virus SARS-Cov-2.

Mengutip SehatQ, adenovirus adalah jenis virus penyebab munculnya flu pada hewan simpanse.

Vaksin buatan farmasi AstraZeneca dan Oxford ini menggunakan adenovirus pada simpanse yang sudah dilemahkan.

Kemudian, kode genetik dari adenovirus diubah para peneliti supaya tidak berkembang biak saat masuk ke tubuh manusia.

Saat digunakan pada tubuh manusia, tubuh akan melihatnya sebagai virus Corona sehingga sistem imun tubuh dapat belajar untuk mengalahkannya.

"Adenovirus yang telah disisipi gen protein spike ini akan memasuki sel manusia dan memproduksi protein spike yang memicu kekebalan terhadap virus SARS-CoV-2," tulis Tejo dalam akun Instagramnya dikutip Bisnis, Jumat (12/3/2021). 

Selain bahan aktif, vaksin AstraZeneca juga mengandung bahan inaktif seperti L-histidine, L-Histidine hydrochloride monohydrate, ethanol yang berfungsi melindungi vaksin dari kerusakan akibat radikal bebas. 

Kemudian magnesium chloride hexahydrate atau garam penstabil adenovirus, polysorbate 80 yang berfungsi mencegah melekatnya bahan aktif ke dinding botol kaca, sucrose atau gula untuk melindungi vaksin pada suhu rendah. 

Selanjutnya sodium chloride atau garam dapur agar vaksin bersifat isotonik, disodium edetate dehydrate yang mampu menangkap pengotor logam, dan terakhir yaitu air. 

Seperti diberitakan sebelumnya, sejumlah negara di Eropa menghentikan penggunaan vaksin AstraZeneca.  terkait kekhawatiran terjadinya penggumpalan darah pascavaksinasi.

Pemerintah Irlandia dan Belanda termasuk yang memutuskan penghentian penggunaan vaksin AstraZeneca ini.

Sementara itu, otoritas kesehatan Norwegia melaporkan 3 orang tenaga kesehatan yang menerima vaksin AstraZeneca mendapatkan perawatan karena pendarahan, penggumpalan darah, dan menurunnya kadar trombosit. Kasus yang sama juga ditemukan di Denmark dan Austria.

Ketiga negara itu juga sudah menghentikan pemberian vaksin AstraZeneca yang sebelumnya sempat menimbulkan polemik terkait keamanannya ketika diberikan kepada lansia.

Di Indonesia, vaksin AstraZeneca akan digunakan untuk program Vaksinasi Nasional. Pemerintah Indonesia sudah menerima sebanyak 1.113.600 vaksin jadi AstraZeneca buatan perusahaan farmasi asal Inggris pada Senin (8/3/2021) petang.

Total berat keseluruhan vaksin yang tiba di Tanah Air itu mencapai 4,1 ton dan terdiri dari 11.136 karton. Vaksin tersebut masuk ke Indonesia melalui program vaksin Covid-19 global yang juga dinisiasi Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

vaksinasi Vaksin Covid-19 AstraZeneca

Sumber : Bisnis.com/Antara

Editor : Saeno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top