Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

5 Vaksin Booster Covid-19 Dikategorikan Homolog dan Heterolog, Ini Bedanya

Badan POM bersama dengan pihak-pihak terkait secara bertahap telah melakukan pengkajian keamanan, khasiat dan mutu terhadap beberapa vaksin Covid-19 yang telah memperoleh penggunaan persetujuan darurat atau EUA sebagai vaksin primer untuk dievaluasi sebagai vaksin booster berdasarkan data hasil uji klinik terbaru yang mendukung.
Ni Luh Anggela
Ni Luh Anggela - Bisnis.com 10 Januari 2022  |  14:32 WIB
Petugas kesehatan menyuntikkan vaksin COVID-19 kepada seorang pelajar di gedung Taman Budaya, Banda Aceh, Aceh, Senin (6/12/2021). Pemerintah akan melakukan vaksinasi COVID-19 dosis ketiga atau booster/penguat secara paralel pada Januari 2022 kepada masyarakat secara gratis dan sebagian lainnya berbayar. ANTARA FOTO/Ampelsa - wsj.
Petugas kesehatan menyuntikkan vaksin COVID-19 kepada seorang pelajar di gedung Taman Budaya, Banda Aceh, Aceh, Senin (6/12/2021). Pemerintah akan melakukan vaksinasi COVID-19 dosis ketiga atau booster/penguat secara paralel pada Januari 2022 kepada masyarakat secara gratis dan sebagian lainnya berbayar. ANTARA FOTO/Ampelsa - wsj.

Bisnis.com, JAKARTA – Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM) pada hari ini Senin (10/1) resmi mengeluarkan izin darurat untuk lima merek vaksin untuk booster: CoronaVac, Pfizer, AstraZeneca, Moderna dan Zifivax.

Adapun kelima vaksin booster ini dibagi menjadi dua kategori berdasarkan pemberiannya, yaitu homolog dan heterolog.

Ketua Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) Sri Rezeki menuturkan bahwa hemolog merupakan pemberian dosis atau booster vaksin Covid-19 lanjutan dengan menggunakan jenis vaksin yang sama dengan dosis primer pertama dan kedua. Sementara, heterolog merupakan jenis vaksin yang berbeda dengan dosis primer.

“Untuk booster memang agak membingungkan ada istilah homolog dan heterolog . Mungkin saya kira sudah menjadi pandangan dari masyarakat bahwa untuk booster ini ada dua kategori, bisa dibooster oleh dirinya sendiri (homolog) atau di booster dengan vaksin lain (heterolog). Ini yang mungkin diceritakan Ibu Penny (Kepala BPOM) bagaimana Badan POM berusaha mencari heterolog yang cocok yang mana, yang memberikan keamanan yang tinggi itu yang mana,” kata Sri dalam Konferensi Pers Vaksin Covid-19 Dosis Booster/Lanjutan, Senin (10/1/2021)

Sejak November 2021 lalu, Badan POM bersama dengan pihak-pihak terkait secara bertahap telah melakukan pengkajian keamanan, khasiat dan mutu terhadap beberapa vaksin Covid-19 yang telah memperoleh penggunaan persetujuan darurat atau EUA sebagai vaksin primer untuk dievaluasi sebagai vaksin booster berdasarkan data hasil uji klinik terbaru yang mendukung.

Berdasarkan data tersebut, sudah ada lima vaksin yang telah mendapatkan penggunaan izin darurat atau EUA. Kelima vaksin tersebut adalah:

1. CoronaVac

CoronaVac untuk booster homolog akan diberikan sebanyak 1 dosis setelah 6 bulan dari vaksinasi primer dosis Coronavac untuk usia 18 tahun. Kepala Badan POM Penny K Lukito menjelaskan, berdasarkan hasil pertimbangan kejadian tidak diinginkan yang sering terjadi dan berhubungan dengan vaksin yaitu reaksi lokal seperti nyeri di tempat suntikan, sakit kepala, nyeri otot, nyeri sendi, demam, umumnya dengan tingkat keparahan di grade 1-2.

“Imunigenitas menunjukkan peningkatan titer antibodi netralisasi hingga 21 sampai 35 kali setelah 28 hari pemberian vaksin booster ini pada subjek dewasa.” kata Penny.

2. Pfizer

Pfizer juga akan digunakan untuk booster homolog, dimana akan diberikan sebanyak 1 dosis, minimal setelah 6 bulan dari vaksinasi primer untuk usia 18 tahun ke atas.

“Data-data menunjukkan keamanan, kejadian tidak diinginkan umumnya lokal adanya nyeri ditempat suntikan, sakit kepala, nyeri otot, nyeri sendi, demam dengan grade 1-2. Imunogenitas menunjukkan peningkatan nilai rata-rata titer antibodi netralisasi setelah satu bulan sebesar 3,3 kali,” ungkap Penny.

3. AstraZeneca

Vaksin booster homolog berikutnya adalah AstraZeneca. Data-data menunjukkan keamanan dapat ditoleransi dengan baik, serta KIPI bersifat 55 persen ringan dan 37 persen sedang.

“Imunigenitas menunjukkan peningkatan nilai rata-rata titer antibodi netralisasi dari 1.792 menjadi 3.700 an, sekitar 3,5 kali,” katanya.

4. Moderna

Vaksin Moderna bisa digunakan sebagai booster homolog dan heterolog dengan dosis setengah. Sebagai booster heterolog , Moderna ditujukan untuk vaksin AstaZeneca, Pfizer dan J&J dengan dosis setengah.

“Ini menunjukkan respon imun 13 kalinya setelah pemberian booster dan pada subjek juga dewasa 18 tahun ke atas.” tutur Penny.

5. Zifivax

Zifivax akan digunakan untuk booster heterolog dengan primer Sinovac / Sinopharm, dan juga diberikan setelah enam bulan ke atas, setelah mendapatkan vaksin lengkap. Imunogenitas menunjukkan peningkatan nilai rata-rata titer antibodi netralisasi meningkat lebih dari 30 kali pada subjek yang telah mendapatkan vaksin primer Sinovac / Sinopharm.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Vaksin Covid-19 Vaksin Booster
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper
To top