Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Epidemiolog : Vaksin Covid Bukan Tidak Aman untuk Anak, Tapi...

Bukan karena vaksin masalahnya, tetapi kondisi anaknya memang sudah ada penyakit. Ya jangan dipaksakan kalau begitu
Ni Luh Anggela
Ni Luh Anggela - Bisnis.com 20 Januari 2022  |  16:52 WIB
Seorang anak memperlihatkan kartu vaksinasi usai mendapatkan suntikan vaksin COVID-19 di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 2 Kediri, Jawa Timur, Selasa (14/12/2021). Pemerintah akan menggunakan 6,4 juta dosis vaksin Sinovac untuk anak hingga akhir Desember 2021. ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani -
Seorang anak memperlihatkan kartu vaksinasi usai mendapatkan suntikan vaksin COVID-19 di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 2 Kediri, Jawa Timur, Selasa (14/12/2021). Pemerintah akan menggunakan 6,4 juta dosis vaksin Sinovac untuk anak hingga akhir Desember 2021. ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani -

Bisnis.com, JAKARTA – Epidemiolog, dan peneliti Indonesia dari Universitas Griffith, Australia Dicky Budiman menegaskan bahwa program vaksinasi Covid-19 pada anak sangat penting untuk dilakukan.

Selain karena jumlah populasi anak di Indonesia yang sangat besar, yakni lebih dari 20 persen, anak-anak juga lebih rentan terinfeksi Covid, terutama dengan adanya varian Omicron yang dengan cepat menginfeksi.

“Bukan hanya rawan masuk rumah sakit, tapi pada kematiannya tinggi sekarang, kalau bicara tentang anak di era Omicron ini,” ungkap Dicky saat dihubungi Bisnis, Kamis (20/1/2022).

Selain itu, dia mengungkapkan, tanpa adanya proteksi vaksinasi, anak-anak akan mengalami potensi jangka panjang apabila terinfeksi Covid yang tentunya dapat menurunkan kualitas hidup sang anak. Bahkan, akan ada kerusakan di beberapa organ tubuh anak yang sulit untuk dihindari dan diobati.

“Ini yang harus dipahami terlebih dahulu,” kata Dicky, yang juga merupakan seorang dokter.

Berbicara mengenai kasus kematian anak pasca vaksinasi Covid-19, Dicky menjelaskan bahwa itulah mengapa perlunya berhati-hati dalam mempersiapkan dan memitigasi strategi komunikasi atau literasi ini. Sebab, anggapan buruk terhadap vaksin Covid-19 sudah lahir lebih dulu sebelum vaksin Covid-19 itu lahir.

Menurutnya, adanya kasus kematian anak pasca vaksinasi Covid-19 bukan karena vaksinnya tidak aman, melainkan dikarenakan dari kondisi yang rawan dari segi kesehatan seperti virus, penyakit saraf, atau penyebab lainnya. Sehingga menurutnya, perlu adanya sistem skrining yang kuat dan ketat serta literasi.

“Kalau ada yang meragukan, tunda dulu, jangan dipaksakan dulu, ptm di rumah dulu. Ya seperti itu sampai kondisinya aman dari sisi skrining kesehatan. Jangan sampai karena tidak ada sistem skrining yang kuat dan ketat, divaksinasi, dan disaat yang bersamaan si penyakit yang sebelumnya sudah ada itu timbul dan berakibat fatal dalam hal ini kematian, maka akan panjang ceritanya. Dan ini yang terjadi di beberapa kasus seperti ini, bukan hanya di Indonesia. Umumnya di negara berkembang. Karena [kurangnya] literasi,” jelasnya.

Bagaimanapun, menurutnya vaksin Covid-19 sangat aman, dan miliaran orang yang meninggal disebabkan oleh penyakit Covid-19, bukan vaksin Covid-19. Kalaupun ada yang meninggal akibat vaksin Covid-19, “mungkin ada dalam miliaran itu, satu dua ya ada. Tapi karena kondisi tubuhnya juga. Ini artinya amat sangat kecil dalam statistik,” ungkapnya.

Tanggapan ini datang setelah ramainya tagar #HentikanPaksaVaksinAnak di Twitter yang sempat menjadi trending topik siang tadi, Kamis (20/1), yang dipicu oleh kabar kematian beberapa anak yang disebut meninggal dunia pasca vaksinasi Covid-19.

Dicky berharap, adanya kasus ini menjadi alat untuk evaluasi untuk semua daerah sebagai perbaikan untuk kasus serupa.

“Bukan karena vaksin masalahnya, tetapi kondisi anaknya memang sudah ada penyakit. Ya jangan dipaksakan kalau begitu,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

anak Vaksin Covid-19
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top