Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Hasil Peneltian: Booster Lebih Kuat Jika Sinovac Dicampur Vaksin Corona Merek Lain

Peneliti Brasil dan University of Oxford menyebutkan bahwa penerima vaksin Sinovac perlu ditambah dengan booster dengan merek lain supaya membentuk proteksi dari varian Omicron.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 22 Januari 2022  |  09:35 WIB
Vaksin Sinovac. - Antara
Vaksin Sinovac. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Sebuah studi dari peneliti Brasil dan University of Oxford menyebutkan bahwa penerima vaksin Sinovac perlu ditambah dengan booster dengan merek lain supaya membentuk proteksi dari varian Omicron.

Dilansir Bloomberg pada Sabtu (22/1/2022), pada responden yang menerima vaksin Sinovac dosis ketiga mengalami peningkatan antibodi dalam 28 hari kemudian. Namun, peningkatan antibodi ditemukan jauh lebih tinggi pada orang yang didorong dengan vaksin dari Pfizer Inc., AstraZeneca Plc, atau Johnson & Johnson.

Hasil penelitian menunjukkan, booster Pfizer meningkatkan antibodi 152 kali, kenaikan terbesar di semua suntikan yang dipelajari. Sementara itu, peningkatan antibodi dari dosis ketiga CoronaVac hanya 12 kali lipat.

Penelitian ini dirilis pada Jumat (21/1/2022) di The Lancet yang melibatkan 1.240 responden di Brazil berumur 18 tahun ke atas yang telah mendapat suntikan Sinovac dalam 6 bulan terakhir.

Pendekatan booster dengan mencampur atau mix and match menunjukkan perlindungan antibodi yang lebih kuat terhadap delta dan omicron, dibandingkan dengan dosis ketiga vaksin Sinovac, yang dikenal sebagai CoronaVac. Hal ini sejalan dengan temuan dari penelitian lain yang mendukung jadwal peningkatan heterolog.

Direktur Oxford Vaccine Group Sue Ann Costa Clemens mengatakan data ini menunjukkan respons luar biasa dari dosis ketiga vaksin Virus Corona dalam jadwal vaksin heterolog.

“Data ini juga akan memandu negara-negara berpendapatan rendah dan menengah dalam menyiapkan program booster yang paling optimal dan terjangkau," ujarnya.

Pada akhir tahun lalu, Sinovac Biotech Ltd., mengatakan perusahaan sudah memperkirakan kemerosotan pendapatan setelah beberapa penelitian menunjukkan keraguan kemanjuran vaksinnya terhadap Omicron, bahkan setelah suntikan booster.

Sinovac dan Sinopharm, penyedia vaksin Covid-19 utama lainnya di China, mengandalkan teknologi vaksin yang lebih tradisional dan tidak aktif, sedangkan Pfizer menggunakan teknologi messenger RNA yang lebih baru dalam inokulasi mereka.

Studi ini juga menemukan semua booster aman sebagai tindak lanjut dari dua dosis CoronaVac. Namun, temuan efeks samping ditemukan pada satu orang yang mendapat suntikan Johnson & Johnson dan dua orang yang menerima Pfizer. Efek samping serius muncul, tetapi semuanya pulih sepenuhnya.

Salah satu keterbatasan penelitian adalah tidak mengukur kekebalan sel T, yang akan memberikan indikasi perlindungan terhadap penyakit parah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sinovac Vaksin Covid-19 Vaksin Booster
Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top