Infeksi Meningokokus Invasif Ancam Calon Jemaah Haji dan Umrah, Sebabkan Kematian dalam 24 Jam/cidrap.umn.edu
Health

Infeksi Meningokokus Invasif Ancam Calon Jemaah Haji dan Umrah, Sebabkan Kematian dalam 24 Jam

Mutiara Nabila
Jumat, 5 Desember 2025 - 11:10
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Indonesia menjadi salah satu negara dengan penduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia. Banyaknya warga Muslim beriringan dengan tingginya tingkat perjalanan untuk haji dan umrah ke Tanah Suci. 

Ketua Umum Perhimpunan Kedokteran Haji Indonesia (PERDOKHI), Dr. dr. Syarief Hasan Lutfie menyebutkan, setiap tahunnya ada sekitar 221.000 jemaah haji yang berangkat dari Indonesia. Jumlah tersebut belum termasuk tambahan kuota yang diberikan dari Pemerintah Arab Saudi. 

Selain itu, untuk umrah, rata-rata sekitar 150.000 jemaah berangkat setiap bulannya. Dalam tiga tahun terakhir, ada 1 juta - 1,5 juta masyarakat Indonesia yang melakukan perjalanan umrah.  

Namun, sebelum melakukan ibadah umrah atau haji ke Tanah Suci, ada baiknya calon jemaah melakukan persiapan, tak hanya soal dana, tapi juga kesiapan fisik. 

"Pasalnya, di tengah tingginya pergerakan orang, akan sejalan dengan semakin tingginya risiko penularan penyakit. Sementara itu, di Tanah Suci, ada banyak orang berkumpul dari berbagai negara, yang masing-masing bisa membawa penyakit endemiknya," ungkapnya dalam Media Briefing di Jakarta, Kamis (4/12/2025). 

Salah satu penyakit yang mengancam jemaah haji dan umrah adalah Meningitis, khususnya Meningokokus Invasif. Penyakit ini rentan menyerang jemaah haji dan umrah serta dapat menyebabkan kematian hingga cacat permanen jika tidak ditangani dengan segera dan tepat. 

Apa itu Meningokokal Invasif?

dr. Suzy Maria dari Satgas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) menjelaskan bahwa penyakit Meningokokus Invasif (Invasive Meningococcal Disease/IMD) disebabkan infeksi bakteri Neisseriae meningitidis (N. meningitidis). 

"Penyakit ini lebih berbahaya karena dapat menyebabkan kematian kurang dari 24 jam. Bila seseorang sembuh pun masih terdapat gejala sisa seperti kehilangan pendengaran, kejang, dan amputasi," jelasnya dalam Media Briefing di Jakarta, Kamis (4/12/2025).

Penularannya bisa melalui droplet saat batuk atau bersin, kontak erat dengan orang yang terinfeksi. Selain itu, penyebab penularan lainnya adalah kontak dengan jemaah haji yang berasal dari daerah endemis IMD. 

"Angka kejadian carrier [pembawa penyakit] juga biasanya meningkat setelah kepulangan haji dan umrah, sehingga dapat menularkan ke keluarga," tambahnya. 

Dr. Syarief juga menambahkan bahwa potensi penularan penyakit meningokokus invasif dipengaruhi suhu, kelembapan, kontak erat, polusi udara, dan kelelahan fisik. 

"Risiko semakin tinggi karena terdapat jutaan jemaah dari ratusan negara berkumpul di Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji dan umrah. Termasuk, jemaah dari wilayah sub-sahara afrika yang termasuk kawasan meningitis belt,” jelas Dr. Syarief. 

Gejala Meningokokus Invasif

Umumnya, gejala penyakit meningokokus invasif adalah demam tinggi, sakit kepala, dan kaku kuduk. Gejala yang umum ini menjadi salah satu penyebab penyakit ini kerap terlambat terdeteksi. 

“Namun patut diwaspadai fakta bahwa bakteri Neisseriae meningitidis bisa bertahan hingga berbulan-bulan di area nasofaring yang terletak di belakang hidung dan tenggorokan. Infeksinya juga cenderung mengarah tanpa gejala," jelasnya. 

Adapun, gejala lanjutannya meliputi kulit menghitam, dan kerusakan pada otak. 

"Sehingga bagi yang terkena ini dan sembuh bisa jadi fungsi otaknya sudah berkurang, dan membuat pasiennya jadi tidak bisa kembali normal ke kondisinya saat sehat," jelasnya.

Pencegahan Meningokokus Invasif

Untuk pencegahan, melakukan vaksinasi meningitis adalah cara yang paling efektif untuk melindungi diri dan keluarga dari penyakit meningokokus invasif. Salah satunya dengan menggunakan vaksin meningitis konjugat generasi terbaru. 

Jika dibandingkan dengan vaksin meningitis polisakarida, vaksin meningitis konjugat memiliki respons imun kuat, mampu membentuk sel memori sehingga jangka waktu perlindungannya lebih lama. 

Tak kalah penting, teknologi vaksin meningitis konjugat generasi terbaru ini juga dapat menurunkan risiko carrier N. meningiditis. 

Berdasarkan hasil studi pada orang berusia 15 - 55 tahun menunjukan efektivitas perlindungan terhadap empat serogroup bakteri meningokokus. Yaitu meningokokus A sebanyak 93.5%, meningokokus C sebanyak 93.5%, meningokokus W sebanyak 94,5%, dan meningokokus Y sebanyak 98.6%.  

Persiapan Kesehatan Menjelang Haji dan Umrah  

Sebelum melakukan ibadah haji atau umrah, pastikan stamina tubuh yang fit, diperlukan perencanaan yang matang demi kelancaran rangkaian ibadah haji dan umrah. 

Salah satunya vaksinasi meningitis konjugat untuk menjaga kesehatan diri sendiri dan sebagai wujud tanggung jawab bersama untuk melindungi sesama sehingga kita bisa menekan penyebaran penyakit meningokokus invasif. 

Dr. Syarif menegaskan agar masyarakat yang hendak melaksanakan ibadah haji dan umrah melakukan vaksinasi meningitis bukan sekadar untuk memenuhi persyaratan, tapi karena ingin menjaga diri sendiri dan keluarga dari penyakit yang mungkin menyerang saat sedang melangsungkan ibadah. 

"Hal ini juga harus dilakukan dengan niat ibadah lebih khusyuk. Karena ibadah seperti haji dan umrah ketika sudah sampai di Tanah Suci ini kita harus hadir melakukan sendiri, bukan hal yang bisa digantikan. Dan jangan jadikan meninggal di tanah suci menjadi target sehingga pasrah tidak melakukan perlindungan diri dari sebelum berangkat," tegasnya. 

Vaksinasi meningitis konjugat bisa dilakukan paling lambat 10 hari sebelum keberangkatan di fasilitas pelayanan kesehatan yang berwenang dan menerbitkan e-ICV (Electronic-International Certificate of Vaccination). 

“Vaksin meningitis konjugat diwajibkan oleh Kementerian Kesehatan Arab Saudi untuk mencegah penularan, kematian, hingga kejadian luar biasa [KLB] penyakit meningokokus invasif. Manfaat vaksinasi meningitis yang dilakukan oleh para jemaah terbukti berhasil menekan angka kejadian penyakit meningokokus invasif yang terakhir terjadi pada musim haji dan umrah 2001,” lanjut Dr. Syarief.

Adapun, vaksinasi meningitis bisa bertahan dan berlaku selama lima tahun, sehingga bagi yang ingin beribadah umrah berulang setiap tahun pun tidak perlu melakukan vaksinasi setiap akan berangkat. 

Selain itu, para calon jemaah juga diimbau untuk makan makanan bergizi, mengonsumsi multivitamin, dan berolahraga sebelum menjalankan ibadah di Tanah Suci, untuk mempersiapkan tubuh yang lebih sehat dan daya tahan tubuh yang lebih tinggi. 

"Ini mengapa orang yang berangkat haji atau umrah disarankan tidak berusia 80 tahun ke atas. Tapi, saya menegaskan harusnya lebih kepada tingkat fit tubuhnya, kesiapan fisiknya, karena belum tentu yang lebih muda lebih sehat dari yang di atas 80 tahun," tambahnya.

Add Bisnis.com as a preferred source on Google
Penulis : Mutiara Nabila
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro