Bisnis.com, JAKARTA - Penyakit ginjal kronik saat ini menjadi salah satu tantangan kesehatan yang semakin meningkat di Indonesia. Secara global, sekitar 1 dari 10 orang dewasa mengalami gangguan ginjal, dan tren yang sama juga terjadi di Indonesia seiring meningkatnya jumlah penderita diabetes dan hipertensi, dua
faktor risiko utama kerusakan ginjal.
Kondisi ini turut memberikan dampak signifikan terhadap sistem kesehatan nasional, karena pengobatan penyakit ginjal termasuk salah satu beban pembiayaan
terbesar dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Di sisi lain, pelayanan penyakit ginjal di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan. Banyak kasus penyakit ginjal kronik yang baru terdiagnosis pada stadium lanjut sehingga penanganannya menjadi lebih kompleks dan membutuhkan terapi jangka panjang yang berkelanjutan.
Selain itu, ketimpangan akses layanan kesehatan antar wilayah serta besarnya beban pembiayaan kesehatan turut mempengaruhi penanganan penyakit ini.
Sebagai bagian dari tata laksana anemia pada pasien PGK, terapi Erythropoietin (EPO) memiliki peran penting dalam membantu menjaga kadar hemoglobin.
Eritropoietin (EPO) adalah hormon glikoprotein yang diproduksi oleh sel peritubular korteks ginjal. Hormon ini merangsang produksi sel darah merah sebagai respons terhadap tekanan parsial oksigen (pO2) yang rendah.
Agen perangsang eritropoiesis (ESA), seperti epoetin, darbepoetin, dan metoksi polietilen glikol-epoetin β, adalah bentuk rekombinan EPO yang disintesis secara farmakologis. ESA diindikasikan untuk kondisi yang terkait dengan gangguan produksi sel darah merah.
Jika Anda menjalani dialisis, kemungkinan besar Anda menderita anemia — kekurangan sel darah merah. Dan, Anda mungkin mengonsumsi EPO untuk mengobatinya. Studi telah menyebabkan peringatan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) tentang EPO.
Setiap bulan, Anda menjalani tes darah untuk hemoglobin (Hb atau Hgb). Hb mengambil oksigen di paru-paru Anda dan membawanya ke semua sel Anda. Pada wanita sehat, Hb normal adalah 12,1 hingga 15,1 gram per desiliter (g/dL); pada pria, 13,8 hingga 17,2 g/dL. (Kadar "normal" bervariasi tergantung laboratorium.)
Pada pasien dialisis, target Hb berada di bawah normal: 12 g/dL atau lebih tinggi pada wanita dan pria. Bahkan, sekarang tidak ada batas bawah. 3 Kadar Hb sekarang turun sangat rendah sehingga banyak penderita gagal ginjal membutuhkan transfusi darah.
Untuk memperkuat upaya peningkatan kesadaran dan penanganan penyakit ginjal kronik di Indonesia, kolaborasi antara komunitas medis, industri, dan pemangku kepentingan lainnya menjadi sangat penting.
Dr. dr. Pringgodigdo Nugroho, Sp.PD-KGH, Ketua Umum PB PERNEFRI mengatakan “Penguatan sistem deteksi dini menjadi fondasi penting dalam menekan laju progresivitas penyakit ginjal kronik di Indonesia. Saat ini banyak pasien masih terdiagnosis pada stadium lanjut, sehingga peluang
memperlambat kerusakan ginjal menjadi terbatas.
Melalui kolaborasi berbagai pemangku kepentingan dan dukungan inovasi terapi, penanganan penyakit ginjal diharapkan semakin terintegrasi dan mampu meningkatkan kualitas hidup pasien.
“Kami percaya bahwa kolaborasi adalah kunci untuk memperluas akses pengobatan. Dengan dukungan ekosistem kesehatan yang kuat, mulai dari edukasi, ketersediaan terapi, hingga penguatan produksi dalam negeri, kita dapat bersama-sama meningkatkan kualitas hidup pasien penyakit ginjal kronik di Indonesia,” tambah Roy.
Dalam rangka memperingati Hari Ginjal Sedunia, PT Etana Biotechnologies Indonesia (Etana) mendorong peningkatan akses terapi anemia bagi pasien penyakit ginjal kronik (PGK) di Indonesia.
Upaya ini menjadi bagian dari kontribusi Etana dalam mendukung penanganan penyakit ginjal secara komprehensif sekaligus meningkatkan kualitas hidup pasien secara
berkelanjutan.
Untuk mendukung ketersediaan terapi tersebut, Etana menghadirkan Renogen, produk EPO yang diproduksi di dalam negeri dan telah digunakan dalam pelayanan kesehatan sesuai dengan standar medis serta praktik klinis nasional.
Roy Priadi, Director of Renal & Cardio Business Unit Etana, mengatakan “Penyakit ginjal kronik tidak hanya berdampak pada fungsi organ, tetapi juga pada kualitas hidup pasien. Karena itu, memastikan akses terhadap terapi yang tepat menjadi sangat penting. Melalui produksi lokal, Etana berupaya menghadirkan pengobatan yang berkualitas, lebih mudah diakses, dan berkelanjutan bagi pasien di Indonesia.”
Melalui kemampuan produksi EPO secara lokal, Etana berupaya mendukung ketersediaan obat yang lebih stabil sekaligus memperkuat kemandirian industri farmasi nasional, sehingga terapi yang dibutuhkan pasien dapat tersedia secara lebih luas dan berkelanjutan