SONI IRAWAN: Warna kuning di atas kanvas

 
Inria Zulfikar
Inria Zulfikar - Bisnis.com 21 Februari 2012  |  22:54 WIB

 

JAKARTA: PerupaSoni Irawan menyelenggarakan pameran tunggal bertema Mellow Yellow di Kendra Gallery of Contemporary Art  dengan menampilkan karya terbarunya.
 
Pameran yang berlangsung kemarin malam sampai 18 Maret 2012 itu menampilkan karya seni yang dominan berwarna kuning. Paling tidak setiap karyanya dibubuhi warna kuning.
 
Soni Irawan percaya bahwa kuning itu menandai jenis perasaan manusiawi yang tidak cuma satu. Dia memaknai suasana mellow pada warna kuning. Karyanya memang tak lagi mengungkit-ungkit zaman kuningisasi, tapi agaknya dia mengganggap bahwa tiap kekerasan atau ideologisasi akan menimbulkan semacam derau yang panjang. 
 
Lukisan-lukisan dengan latar kuning dan gambar-gambar Soni di pameran ini umumnya membawa kita pada suasana groundless. Ini tidak berarti dia gemar menjungkirbalikkan sosok pada karyanya, agar terkesan melayang tak menjejak; atau mendorong fantasinya sejauh yang bisa, untuk berkelit dari gambaran kenyataan. 
 
Gambar-gambarnya tembus pandang, menyajikan celah atau zona menganga seperti jendela terbuka. Tapi ini bukan metafisika tentang yang “ada” di seberang sana. Rongga, lubang atau tembus-pandang pada karya Soni adalah sebuah perspektif (cara) gambar, yakni soal manakah natar (latar yang surut ke belakang) dan manakah imba (citra) pusat perhatian? 
 
Soni menimpa dan memungkas gambar-gambarnya yang seakan berfungsi sebagai natar, layaknya cerita kepanjangan yang perlu disunting. Tapi menumpuk atau menimpa tidak sama dengan menghapus tilas. Semua “berkas” yang tak masuk hitungan tidak dilempar ke tong sampah, tetapi tetap di atas meja gambar. Ini menghasilkan semacam suasana derau yang padat, sekaligus suasana mengambang pada gambar-gambar Soni. 
 
Belum lagi gaya menggambarnya yang bebas “melanggar” permukaan, yang mengingatkan kita pada gestur artistik tags-tags grafiti oleh para bomber di lingkungan urban. 
 
Dia utamanya tidak melukis orang-perorang, tapi suasana, kiasan atau alegori keadaan sekitar. Soni mengatakan, karya-karyanya pada umumnya menggambarkan rasa tak nyaman kehidupan di sekitarnya, dengan cara dan gayanya yang mellow. Dengan cara itu dia mau bersikap lebih lembut dan toleran dengan keadaan, tanpa menjerit atau memproduksi teriakan. 
 
Gaya begini bukan sejenis abstraksi yang nir-empati, tapi semacam subjektivasi yang moody, mengikuti pasang-surut suasana hati.  Pada pameran ini Soni menampilkan lukisan dan gambar-gambarnya yang terbaru (2012) dan beberapa temuan objek sehari-hari yang disusunnya menjadi karya-karya instalasi. 
 
Selain dikenal sebagai perupa muda yang dekat dengan kecenderungan baru yang tertarik pada langgam atau gaya subkultur di Yogya, Soni Irawan juga dikenal melalui grup band indie yang dibentuknya pada 1999, yakni Seek Six Sick. Hit pertamanya, Antimacho Rockstar. Kalau mellow ditakrifkan sebagai “anti kekerasan”, maka mengelola derau menjadi eksperimen bunyi-bunyian termasuk mellow juga. Di situ, kedua ranah itu ketemu pada keartistikan dan sensibilitas Soni Irawan.  
 
Soni Irawan dilahirkan di Yogyakarta, 15 Januari 1975. Dia belajar seni rupa di Jurusan Seni Grafis, Institut Seni Indonesia. Dia pernah memenangi The Best Five Phillip Morris Indonesian Art Award (2011), mengerjakan beberapa proyek dan workshop untuk seni mural. (sut)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Sutarno
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top