Fabulous Batik of Java, Mau Lihat Rekam Jejak Batik Tempo Dulu?

Pagelaran fesyen sekaligus edukasi Fabulous Batik of Java memperkenalkan dan melestarikan kebudayaan Indonesia. Dengan menggandeng majalah Hello! Indonesia, mereka berkolaborasi merekam jejak batik tempo dulu hingga dunia mode terkini.
Deliana Pradhita Sari | 02 Maret 2014 09:44 WIB

Bisnis.com, JAKARTA -- Pagelaran fesyen sekaligus edukasi Fabulous Batik of Java memperkenalkan dan melestarikan kebudayaan Indonesia. Dengan menggandeng majalah Hello! Indonesia, mereka berkolaborasi merekam jejak batik tempo dulu hingga dunia mode terkini.

Batik akan selalu dieksplorasi karena merupakan kerajinan  yang memiliki nilai seni tinggi yang telah menjadi bagian dari budaya Indonesia sejak lama dan telah diakui oleh dunia internasional.

Ada begitu banyak filosofi penting yang terkandung dalam beragam motif batik. Saat ini batik tidak hanya dikenakan oleh kalangan tertentu, tetapi telah merambah dunia mode yang semakin mengukuhkan batik sebagai warisan bangsa yang patut diapresiasi.

Penyiar radio yang kini merambah sebagai educator batik sekaligus perancang busana batik, Raden Wethandrie Ramadhan atau kerap disapa Iwet Ramadhan ini, memamerkan koleksi kain batik tulisnya yang beraneka ragam. Tiap ragam memiliki kisah sejarah tersendiri.

Dia menjelaskan rekam sejarah serta motif batik Yogyakarta dan Solo. Di antara koleksi Iwet terdapat kain batik motif lereng yang melambangkan rejeki dan motif ceplokan yang menggambarkan keteraturan dan kesempurnaan.

Selain itu terdapat motif truntum yang merupakan simbol cinta abadi dan motif semenan yang menerjemahkan kisah pewayangan.

Motif ini sering diadaptasi oleh para pengusaha karena melambangkan keteguhan dan ketekunan dalam berusaha sehingga mampu mendatangkan rejeki.

Motif terakhir yang dia pamerkan adalah motif galung manten yang merupakan simbol kedewasaan yang mampu untuk menghasilkan keturunan. Motif ini biasanya dipakai oleh calon pengantin.

Kisah klasik batik yang dipaparkan oleh Iwet menuntun pemaparan lanjut oleh Nonita Respati dengan label Purana Batik dan Bai Soemariono dalam labelnya Populo Batik. Bentuk pemaparan kisah modern batik ditunjukkan lewat gelaran fesyen yang menampilkan koleksi masing-masing.

Purana Batik milik Nonita memiliki kesan modern feminin tetapi juga ada kesan androgini. Motif batik empat busana yang ditampilkan terinspirasi dari konstruksi  rumah-rumah kuno di kampung batik yang terdapat di Yogyakarta dan Solo.

Dominasi warna Purana Batik adalah warna cerah seperti kuning, hijau tosca dan biru. Namun jangan salah, busana batik pada Purana ini bukan merupakan busana batik full tetapi selingan batik.

Konsep ini menghadirkan motif batik hanya pada bagian belakang punggung blouse, tepian leher T-Shirt , tepian lengan pada blazer dan tepian kaki pada celana. Hal ini dilakukan untuk meminimalisasi jahitan.

Bahan yang digunakan pada koleksi Purana Batik adalah Thai Silk yang memiki kesan formal tetapi nyaman dan trendy. Ragam mix and match juga dapat dimainkan dalam bahan ini, seperti yang diperagakan di panggung catwalk yaitu blouse dengan rok, blouse putih dipadu dengan blazer dan bawahan celana panjang.

Koleksi Purana Batik ditujukan kepada perempuan yang sudah memiliki personal taste yang tidak mau didekte oleh mode yang sedang nge-hits. Busana pada purana batik juga didesain untuk dapat digunakan para perempuan dari berangkat kerja hingga cocktail atau acara pada malam hari.

Bagi Nonita, tidak ada aksesoris khusus untuk menemani Purana Batik. Aksesoris digunakan untuk penyeimbang yang berfungsi sebagai pemercantik seperti pemilihan tas, sepatu, kalung atau headband. Namun tips Nonita adalah jangan sampai aksesoris terkesan berlebihan dan menutupi apa yang seharusnya ditonjolkan lewat busana.

Peragaan fesyen batik modern kedua adalah Populo Batik. Busana rancangan Bai ini memilki detail batik yang unik. Rancangannya terkesan sederhana berupa short dress, long dress, blouse dan blazer tetapi motif batiknya begitu berbeda dengan motif lainnnya. Jika dilihat dari kejauhan, busana Populo tak tampak seperti batik, tetapi jika mendekat, akan terlihat simpul-simpul yang menawan.

Motif batik yang sengaja Bai tunjukkan adalah motif Geomatrik. Motif ini menggambarkan susunan bangunan seperti segitiga sama sisi, segitiga siku-siku, kotak-kotak, zig zag, gelombang, gedek, diamond, bintang, bunga dan sisik ikan.

Dominasi warna coklat pada koleksi yang dipamerkan Populo Batik juga menambah kesan elegan.  Salah satu contoh dress warna coklat tua yang ditampilkan adalah koleksinya dengan motif beras utah atau beras tumpah. Rancangan ini merefleksikan harrapan yang indah terhadap musim panen dan di satu sisi terlihat bunga mekar yang melambangkan kecantikan perempuan yang sedang tumbuh dewasa.

Tak hanya itu, sebagai penutup, Bai merancang batik unik lainnya yang berkonsep Batik for Winter. Batik ini sengaja ditargetkan untuk pasar luar negeri.  Batik ini dikombinasikan dengan kain wool halus dan juga bulu angsa untuk memperhangat badan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
budaya, batik

Editor : News Editor

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top