PAMERAN LUKISAN: Suara Sudita Nashar pada Gitar

Jika ada seorang tukang ojek yang pandai melukis, jawabannya tentu saja dialamatkan kepada Sudita Nashar. Dengan bangga dan percaya diri Sudita Nashar yang juga putra seorang pelukis besar, Nashar menamakan dirinya sebagai Ojek Berkarya.
Miftahul Khoer | 06 April 2014 02:50 WIB
Warna kuning, merah, hijau, biru dan putih tampak menghiasi lukisan tersebut. - bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Jika ada seorang tukang ojek yang pandai melukis, jawabannya tentu saja dialamatkan kepada Sudita Nashar. Dengan bangga dan percaya diri Sudita Nashar yang juga putra seorang pelukis besar, Nashar menamakan dirinya sebagai Ojek Berkarya.

Pria berusia 52 tahun ini menggelar pameran tunggalnya di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki Jakarta pada 20-28 Maret 2014. Pameran bertajuk Pameran Tunggal Lukisan Sudita Nashar ini mengangkat tema gitar. Sebanyak 25 lukisan yang dipamerkan mengambil unsur gitar yang ditafsirkan secara bebas, dipajang di dinding pameran untuk dinikmati.

Gitar di tangan Sudita Nashar, tidak sekadar sebagai alat petik yang mampu menghasilkan suara. Dia memposisikan gitar sebagai metafora realitas dan fenomena yang terjadi. Pada lukisan Dialog Menuju Kemunafikan (cat minyak di atas kanvas, 125 x 145 cm, 2013), Sudita menggoreskan tiga gitar tanpa senar dan kepala gitar.

Gitar itu disusunnya dalam segitiga berbentuk piramida berwarna putih yang menjadi latar belakang lukisan. Sementara, senar-senar tersebut yang berbentuk garis merah dia simpan seolah terpisah dari gitar yang seharusnya terpasang pada tiga gitar tersebut. Jika dicermati, pada lukisan ini dia ingin mencoba bermain dalam warna.

Bisa dilihat, warna kuning, merah, hijau, biru dan putih tampak menghiasi lukisan tersebut. Artinya, pada lukisan Dialog Menuju Kemunafikan, Sudita Nashar ingin mengaitkan wacana politik yang kerap kali tak seirama dengan apa yang dilakukan oleh para politisi.

Penggunaan objek gitar pada lukisan ini setidaknya, membawa Sudita untuk menyampaikan sindirannya terhadap hiruk pikuk perpolitikan yang terjadi di Indonesia. Simbol yang digunakan pada warna-warna lukisan tersebut mengacu pada karakter dan warna partai politik yang tengah bertarung di pemilihan umum. Dengan demikian, kiranya Sudita Nashar telah mafhum bahwa kemunafikan yang mengacu pada lukisan tersebut tercipta berdasarkan gagasan atau ingatannya terhadap janji-janji para politisi.

Pada lukisan lainnya, Sudita Nashar juga mencoba mengembalikan makna gitar. Atau setidaknya, alat musik yang menggunakan senar ini memiliki fungsi utama yakni menghasilkan sebuah harmoni yang indah untuk didengar. Namun, lagi-lagi, Sudita masih menggunakan metafora gitar untuk membentuk imaji visual lainnya. Lukisan berjudul Penyatuan Harmoni (cat minyak di atas kanvas, 140 x 140 cm, 2013) misalnya, Sudita menggambarkan lima batang gitar tanpa tubuh. Kelima gitar tersebut berdiri tegak yang seolah menghadap sebuah surau atau tempat ibadah. Batang-batang gitar tersebut juga memiliki warna beragam.

Di sinilah, Sudita ingin menyampaikan pesan bahwa representasi gitar ditujukan kepada aktivitas masyrakat Indonesia. Lukisan tersebut menunjukan sebagaimana orang melakukan sembahyang. Pada lukisan ini juga, Sudita mencoba mengaitkan relasi kelompok masyarakat satu agama yang memiliki fanatisme yang berbeda. Kelompok masyarakat tersebut tampak harmonis satu sama lain ketika berada dalam satu tempat ibadah.

Artinya, beberapa penanda seperti gitar, senar dan sebuah surau menjadi penting sebagai bentuk relasi estetika yang dihadirkan Sudita Nashar. Sang pelukis tentu saja sadar, fenomena sosial yang terjadi di masyarakat kerap diributkan oleh ormas Islam dan percekcokan satu sama lain. Namun, pada lukisan Penyatuan Harmoni ini, Sudita seolah mengajak semuanya  untuk saling rukun dan damai. Menyimak sejumlah karya yang dipamerkan, Sudita Nashar tampaknya merupakan salah satu pelukis yang akrab merenungkan kehidupan. Dia bisa saja menggoreskan kanvasnya dan berbicara tentang apa yang tengah terjadi di sekitarnya. Bukan urusan dunia saja, dalam beberapa karyanya, Sudita mengisahkan tentang pengalaman batiniahnya selaku manusia yang percaya terhadap ajal dan kematian.

Lukisan bertema kemurungan tersebut bisa dilihat pada Perempatan Maut (cat minyak di atas kanvas, 145 x 145, cm), Matahari Tenggelam (cat minyak di atas kanvas, 140 x 140 cm, 2011), dan Menuju Angan-Angan (cat minyak di atas kanvas, 145 x 145, cm). Pada lukisan tersebut, Nashar dengan apik membentuk perumpamaan gitarnya masing-masing sebagai jalan yang berliku, jalan lurus menuju cahaya dan jalan menuju ke atas—kepada Sang Pencipta.

Maka tidak heran, dari kesemua lukisan yang menggunakan objek bertema gitar, Sudita menjadikan gitar sebagai barang seni yang tidak hanya menghasilkan bunyi. Akan tetapi, gitar menurut pandangan Sudita adalah ruang yang mewujud, estetis dan sebagai karya yang indah bagi penikmat seni seperti halnya suara gitar.

Tag : pameran lukisan
Editor : Fatkhul-nonaktif

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top