Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ketika Cemara 6 Galeri Menjadi Museum

Toeti Heraty Rossenno, memutuskan mulai Rabu (16/4) mengubah status Cemara 6 Galeri miliknya untuk berubah fungsi dari ruang privat menjadi sebuah museum yang dapat dinikmati masyarakat umum. Galeri yang berisi lebih dari 300 lukisan dari maestro-maestro pelukis tanah air serta lebih dari 6000 buku tersebut dapat dinikmati masyarakat hanya dengan membayar Rp10.000 sekali masuk.
Puput Ady Sukarno
Puput Ady Sukarno - Bisnis.com 19 April 2014  |  13:56 WIB
Lukisan Tumpah Darahku Karya Basoeki Abdullah Yang Terdapat Di Cemara 6 Galeri/Museum
Lukisan Tumpah Darahku Karya Basoeki Abdullah Yang Terdapat Di Cemara 6 Galeri/Museum

Bisnis.com, JAKARTA - Ketika menghadiri peresmian beralihnya status aset milik Toeti Heraty Rossenno, yakni Cemara 6 Galeri menjadi Cemara 6 Galeri-Museum, Rabu (16/4/2014), pandangan saya langsung tertuju pada sebuah lukisan abstrak berukuran sekitar 1 m x 2 m, dengan dominan warna hitam, merah dan dasaran putih yang tergantung pada dinding bagian atas di ruang auditorium lantai dua gedung tersebut.

Seakan ada tarikan energi yang membuat saya semakin penasaran untuk mengetahui siapa nama pelukis dan judul lukisan yang sengaja ditempatkan pada titik strategis tersebut. Kala itu adalah kali pertama saya memperhatikan cukup lama sebuah lukisan bertema abstrak.

Hingga belakangan, dari informasi sejumlah orang yang begitu menggenal Toeti Heraty Rossenno dan Cemara 6 Galeri-Museum, saya ketahui bahwa lukisan itu adalah hasil karya maestro Basoeki Abdullah yang berjudul Tumpah Darahku.

Jawaban nama Basoeki Abdullah semakin membuat saya penasaran, mengingat pelukis yang masih cucu Dr Wahidin Sudiro Husodo tersebut, selama ini dikenal sebagai maestro lukisan beraliran realis dan naturalis, bukan abstrak.

"Lukisan yang ada di auditorium itu berjudul Tumpah Darahku, dan itu satu-satunya lukisan abstrak karya Basoeki Abdullah," tutur pemerhati seni, Chandra Johan saat ditemui di sela acara.

Menurutnya lukisan itu dibuat oleh Basoeki Abdullah dan khusus diberikan kepada Bu Toeti, tepat sebulan sebelum maestro kelahiran Surakarta itu ditemukan meninggal dunia, lantaran dibunuhm, di kediaman pribadinya pada 1993.

Apabila diperhatikan, lukisan abstrak berjudul Tumpah Darahku itu, pada goresan lukisan itu, warna hitam seolah membentuk sesosok tubuh manusia yang sedang jatuh tertelungkup dengan ceceran darah berwarna merah di sekitar kepalanya dan terdapat sesuatu benda di samping tubuhnya.

Jika dikait-kaitkan, gambaran itu seperti sebuah pertanda akan kepergian pelukis Istana Negara dan Kepresidenan Indonesia tersebut. Karena, ketika peristiwa pembunuhan itu terjadi, Basoeki Abdullah (78) ditemukan tewas dalam posisi tertelungkup di kamar tidur di rumahnya, Jl Keuangan Raya No 19, Cilandak, Jakarta Selatan.

Katika itu, kuat dugaan bahwa pelukis nyentrik itu tewas dibunuh perampok, karena puluhan arloji koleksinya yang bernilai ratusan juta rupiah telah lenyap.

Saat diketemukan, kondisi bagian belakang kepalanya luka parah, dan dahinya luka memar, yang diduga dipukul dengan popor senapan angin. Mengingat senjata seberat 5 kilogram yang terpatah menjadi dua dari larasnya itu, ditemukan di dekat mayat korban.

"Entah seperti pertanda atau apa. Tetapi judul lukisan Tumpah Darahku itu seperti mengandung pesan tertentu yang diberikan kepada Bu Toeti sebulan sebelum Pak Basoeki meninggal," ujarnya.

Misteri lukisan abstrak karya Basoeki Abdullah itu adalah salah satu dari sekian banyak hal unik yang dapat ditemui ketika berkunjung ke Cemara 6 Galeri-Museum.

Lukisan itu menjadi salah satu dari lebih dari 300 lukisan, karya 60 perupa terkenal Indonesia yang menjadi koleksi Toeti Heraty di Cemara 6 Galeri-Museum.

Beberapa karya yang bisa dinikmati di bangunan yang berdiri di atas lahan 1500 m2 tersebut, antara lain lukisan karya Salim, Zaini, Sudjojono, Otto Djaja, Agus Djaja, Basoeki Abdullah, Affandi, Nashar, Hendra Gunawan, Bagong Kusudiardjo, dan lain-lain.

Bangunan yang terbagi dua namun menyambung itu, yakni di Jalan Hos Cokroaminoto No.09-11 seluas 850 m dan Jalan Cemara No.6 Jakarta Pusat seluas 650 m tersebut terdiri dari beberapa ruangan, antara lain ada yang berfungsi untuk ruang pameran, perpustakaan, auditorium, ruang rapat, café, lima unit kamar homestay, serta tempat tinggal Toeti Heraty.

Sejarah Cemara 6 Galeri
Cemara 6 Galeri didirikan pada 27 November 1993, tepat pada hari jadi Toeti Heraty Rossenno ke-60 tahun. Momentum pendiriannya pada saat dirinya menampung koleksi pelukis Salim, yang terkatung-katung sesudah pameran di Taman Ismail Marzuki (TIM). saat itu tidak dapat dijual karena persyaratan pihak bea dan cukai tidak terpenuhi. Jadi, satu-satunya penyelesaian adalah dibeli secara keseluruhan untuk kepentingan umum.

Situasi itulah yang menggerakkan Toeti mengambil prakarsa untuk langsung mengoleksi 53 lukisan Salim, dengan sebelumnya sudah memiliki koleksi dari beberapa perupa lainnya. Karya Salim inilah yang memantapkan langkahnya untuk mendirikan sebuah galeri seni.

Banyak seniman hebat yang pernah datang berkunjung ke tempat tersebut antara lain, Asrul Sani, Rendra, Sudjojono, Affandi, Mochtar Lubis, PK Oyong, Y.B. Mangunwijaya (Romo Mangun), Wiratmo Sukito, dan lain sebagainya.

Menurut Toeti Heraty bahwa dengan adanya krisis menyeluruh, masyarakat amat perlu kebangkitan diberbagai bidang kehidupan. “Saya amat mencintai kehidupan, Dan seni adalah salah satu hal yang saya rasa dapat menjadikan bangsa ini bangkit, ekspresif , dan kreatif,” tuturnya.

Dirinya sangat berharap kehadiran Cemara 6 Galeri-Museum dapat menjadi tempat berhenti sejenak menghela nafas ditengah rutinitas atau kesibukan kota metropolitan Jakarta dengan siraman seni untuk menyeimbangkan jiwa raga.

Tidak alasan lain bagi Toeti selain ingin mengabdikan ruang privatnya itu untuk dapat dinikmati masyarakat. “Saya kan tinggal sendiri, jadi saya pikir ingin menikmati koleksi saya dengan masyarakat luas dengan dijadikan galeri-museum,” tuturnya, Rabu (16/4)

Toeti juga ingin berbagai kisah bahwa di bangunan ini banyak menyimpan sisi historis bagi perjalanan Ibu Kota Jakarta. Seperti ketika terjadi rapat reformasi, rapat menjelang demo Suara Ibu Peduli di Bundaran Hotel Indonesia (HI) pada 1998, dan banyak agenda lainnya.

Selain menikmati sejumlah karya seniman Indonesia, baik dari old master hingga kontemporer, maupun menggelar pameran, atau membaca sebuah buku dari sekitar 6.000 buku koleksinya dari berbagai dunia dan bahasa, homestay yang ada di sana juga dapat di sewa, hanya dengan Rp300.000/hari.

Sejumlah pameran lukisan, maupun pertunjukan seperti tari, musik, sastra juga sesekali digelar di sini. Begawan filsafat itu mempersilakan siap saja untuk datang dan pergi mengunjungi ruang publiknya yang baru tersebut.  Dan cukup dengan merogoh Rp10.000, Toeti Heraty sudah menyediakan minuman dan snack layaknya tamu pribadinya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

museum
Editor : Sepudin Zuhri

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top