Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

PENTAS MONOLOG: Jpret, Kritik Pedas untuk Pemilu di Indonesia

Namanya Jpret. Sejak lahir, lalu menginjak masa anak-anak, remaja hingga dewasa, tak berubah namanya. Sapaan orang-orang kepadanya tetap saja Jpret. Lelaki miskin berambut panjang itu mengoceh sendiri tentang hiruk pikuk suasana politik di Indonesia
Miftahul Khoer
Miftahul Khoer - Bisnis.com 27 April 2014  |  11:30 WIB
Monolog Jpret cukup berhasil menggiring penonton menertawakan kondisi politik yang ada di Indonesia.  - jjk.co.id
Monolog Jpret cukup berhasil menggiring penonton menertawakan kondisi politik yang ada di Indonesia. - jjk.co.id

Bisnis.com, JAKARTA - Namanya Jpret. Sejak lahir, lalu menginjak masa anak-anak, remaja hingga dewasa, tak berubah namanya. Sapaan orang-orang kepadanya tetap saja Jpret. Lelaki miskin berambut panjang itu mengoceh sendiri tentang hiruk pikuk suasana politik di Indonesia. Sesekali teman-temannya menimpali ocehan Jpret. Tokoh Jpret sangat antusias untuk meramaikan pesta demokrasi dengan memberikan hak suaranya memilih calon anggota legislatif (caleg).

Monolog  Jpret yang dipentaskan oleh Teater Mandiri di Salihara, Jakarta belum lama ini, dikemas dengan tata panggung sederhana. Sebuah layar kain terbentang di tengah panggung pertunjukan. Di bagian tengah layar sengaja dibuat bolong sebagai bentuk ilustrasi layar televisi. Satu kursi, kotak suara, toilet, meja makan, dan remote control digunakan sebagai pendukung pertunjukan. Monolog yang awalnya berjudul Kroco  ini disutradarai dan ditulis naskahnya oleh Putu Wijaya.

Monolog Jpret dimainkan oleh Bambang Iswantoro, Alung Seroja, Lela Lubis, Dwi Hastuti, Ucok Hutagalung, dan Gandung Bondowoso. Jpret merupakan pementasan penutup dari rangkaian Ulang Tahun Putu Wiajaya yang Ke-70, setelah sebelumnya mementaskan lakon Bila Malam Bertambah Malam dan Hah.

Pada pementasan Jpret, cara penyutradaraan Putu Wijaya yang khas tampak terlihat jelas. Unsur realisme, humor, kritis bahkan absurd menjadi satu kesatuan yang utuh. Tetapi itulah Putu Wijaya, dia kerap mengobrak-abrik estetika dalam sebuah karya. Pemakaian bahasa yang menggedor daya kejut penonton menjadi ciri khas lainnya dalam menyampaikan pesan.

Politik, misalnya, secara tidak langsung ditampakan sebagai praktik menyengsarakan rakyat. Alur cerita pementasan Jpret tidak bisa ditebak. Teror mental yang sudah lama digaungkan Putu diam-diam menyelip di beberapa percakapan antara Jpret, presenter televisi, para caleg, dan nenek tiri Jpret.

Salah satu kritik pedas untuk menyindir Pemilu di Indonesia adalah ketika sang nenek dan Jpret didatangi para calon Presiden. Mereka menanyakan berbagai kebutuhan rakyat jika mereka terpilih jadi Presiden. Padahal sebagai pemimpin, seharusnya tahu keinginan rakyat, bukan sok peduli dan terjun ke lapangan.

Monolog Jpret cukup berhasil menggiring penonton menertawakan kondisi politik yang ada di Indonesia. Dari segi cerita dan pesan, Putu memang piawai menghadirkan dengan bahasa ungkap yang lugas. Namun, masalah teknis berupa permainan cahaya, iringan musik, dan jeda antar adegan tampak kurang persiapan yang matang. Sorotan cahaya saat seniman masuk ke panggung kerap terlambat. Beruntung, kekurangan ini dapat ditutupi dengan improvisasi para aktor.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pentas
Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top