Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ini Pentingnya Masalah Air

Menanggapi suara masyarakat yang mengatakan mereka tidak pernah merusak lingkungan, tidak pernah membuang sampah sembarangan, tidak menggunakan air berlebihan, hanya untuk minum, mandi, memasak, bahkan tidak pernah menebang hutan ternyata mereka tidak tahu perhitungan jejak air.
Atiqa Hanum
Atiqa Hanum - Bisnis.com 29 Juli 2015  |  19:35 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—Menanggapi suara masyarakat yang mengatakan mereka tidak pernah merusak lingkungan, tidak pernah membuang sampah sembarangan, tidak menggunakan air berlebihan, hanya untuk minum, mandi, memasak, bahkan tidak pernah menebang hutan ternyata mereka tidak tahu perhitungan jejak air.

Sebagai salah satu contoh kebutuhan sehari-hari, misalnya daging. Berdasarkan kalkulator digital perhitungan jejak air, ternyata untuk memproduksi 1 kilogram daging dibutuhkan sekitar 15.000 liter air.

Dengan perkiraan konsumsi daging pada tahun 2015 yang mencapai 640.000 ton,  bisa dihitung sendiri berapa juta liter air yang diperlukan.

Tokoh lingkungan hidup Indonesia Emil Salim menegaskan manusia tidak bisa menyerahkan semua tanggung jawab ke satu pihak saja karena masalah air adalah masalah semua orang.

Lebih dari 70% permukaan bumi terdiri dari air. Dengan berlimpahnya air, manusia seringkali mengindahkan pentingnya pelestariannya. 

Padahal, jika air tidak kita lestarikan,  air yang dapat dimanfaatkan/dikonsumsi manusia hanya sekian persen dari total jumlah air di bumi .

“Pengertian konsumsi disini tidak terbatas untuk diminum saja, namun juga termasuk untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ungkapnya Rabu (29/7).

Dia juga menambahkan semua barang yang manusia gunakan, dari makanan, pakaian, sepatu, buku, seluruhnya membutuhkan pasokan air dalam proses produksi maupun perawatannya. 

Pada saat itulah kemudian mencuat perbincangan bahwa terdapat sebuah konsep perhitungan jejak air atau water footprint yang umum dipergunakan untuk mengindikasikan jumlah air yang dipergunakan individu, komunitas maupun industri saat membuat/merawat sebuah barang.

“Perhitungan jejak air tersebut diartikan secara virtual, karena menggabungkan estimasi pemakaian air hujan (green water footprint), air permukaan/air tanah (blue water footprint) sampai air untuk mengolah limbah barang tersebut (grey water footprint). Angkanya bervariasi tergantung proses produksi, lokasi, bahkan cuaca,” terangnya.

Selain daging, contohnya, ternyata 1 potong  celana jeans membutuhkan sekitar 8.000 liter air untuk memproduksinya. Sadarkah kita semua sudah menggunakan air sebanyak 40.000 liter jika mereka memiliki 5 celana jeans di lemari pakaiannya. Begitu pula dengan memproduksi 1 kilogram coklat cair, dibutuhkan air sebanyak 17.000 liter bahkan lebih banyak daripada daging.

“Kita semua adalah bagian dari masyarakat yang memiliki peran  dalam melestarikan air dan lingkungan. Misalnya pemerintah mengatur kebijakan, masyarakat merawat, akademisi menyediakan teknologi manajemen lingkungan, media memotivasi gerakan pelestarian, sedangkan Lembaga Swadaya Masyarakat mengorganisir pemberdayaan masyarakat,” paparnya.

Inisiator Indonesia Berkebun Sigit Kusumawijaya perhitungan jejak air seharusnya memberikan kesadaran bagi kita semua untuk turut berpartisipasi melestarikan air. Caranya sederhana, kita cukup dengan bijak memilih produk yang efisien air dalam proses produksinya.

Dia mengungkapkan dengan pertumbuhan jumlah penduduk yang pesat saat ini, tidak mungkin menghentikan konsumsi barang-barang untuk memenuhi kebutuhan manusia sehari-hari. Namun pada dasarnya memang tidak menjadi masalah jika masyarakat masih terus membeli pakaian, terus mengkonsumsi makanan yang disukai, asalkan bersama-sama menjaga kualitas, kuantitas dan keberlanjutan. “Sumber Daya Air adalah sumber daya alam yang terbarukan,” katanya.

Perlu adanya rekam jejak mengikuti peran serta melestarikan air seperti AQUA Grup dengan melakukan program-program sosial dan lingkungan di bawah AQUA Lestari. Karyanto Wibowo, Sustainable Development Director, PT. Tirta Investama (AQUA Grup) mengatakan program pelestarian air dan lingkungan yang dilakukan berbasiskan Daerah Aliran Sungai (DAS) dari hulu sampai hilir. Program-program tersebut dikembangkan untuk mempertahankan kualitas, kuantitas dan keberlanjutan sumber daya air.

“Kami mengembangkan program konservasi seperti penanaman pohon, pembuatan embung, rehabilitasi saluran irigasi, pembuatan sumur resapan, pengembangan pertanian organik, biopori di daerah hilir. Program tersebut diikuti dengan pemberdayaan masyarakat, peningkatan akses air bersih dan penyehatan lingkungan, pendidikan tentang pelestarian air serta peningkatan kesejahteraan,” terangnya.

Sebelumnya tahun 2014, tambahnya, AQUA Grup menandatangani MOU dengan Kementerian Kehutanan RI untuk menjalankan program konservasi di area yang ditentukan bersama. Kedua pihak sepakat untuk menanam kembali pohon sebanyak 12 juta pohon dalam setahun.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

air minum lingkungan hidup air bersih
Editor : Rustam Agus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top