Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Saatnya Anak Muda Memahami Sejarah Keris

Andito C. Laksono, Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia angkatan 2010 kelahiran Jakarta, 23 November 1992 ini memiliki ketertarikan dengan berbagai bentuk senjata yang kerap dilihat di film ataupun permainan dari gadget-nya.
Ipak Ayu H Nurcaya
Ipak Ayu H Nurcaya - Bisnis.com 07 Oktober 2015  |  14:40 WIB
Saatnya Anak Muda Memahami Sejarah Keris
Keris - atkinson/swords.com
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Andito C. Laksono, Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia angkatan 2010 kelahiran Jakarta, 23 November 1992 ini memiliki ketertarikan dengan berbagai bentuk senjata yang kerap dilihat di film ataupun permainan dari gadget-nya.

Andito juga aktif mengikuti kegiatan bela diri dan mulai serius mengenal keris saat bertemu dengan rekanan pecinta keris di FIB UI. Berikut hasil wawancara:

Q: Bagaimana nilai yang dimiliki sebuah keris?

A: Kalau membicarakan berapa nilai sebuah keris secara materi, maka mungkin ada dua sisi yang perlu diperhatikan, yakni status keris sebagai senjata dan sebagai benda seni. Pertama, keris sebagai senjata adalah status yang pernah dimiliki keris di zaman dahulu di mana bangsa kita masih berperang dengan senjata tajam.

Maka, untuk status pertama ini yang diutamakan adalah kekuatan dan keampuhannya sebagai senjata. Kedua, status keris sebagai benda seni. Dalam menilai keris sebagai benda seni, maka yang dinilai adalah fisik keris secara kebendaan, baik itu unik bentuknya, rapi garapannya, maupun kerumitan dalam pembuatannya. Sehingga dapat dikatakan, bahwa range nilainya akan sangat lebar dan sangat tergantung dengan fungsi keris maupun pemaknaan pemiliknya terhadap keris tersebut.

Q: Alasan tertarik mengoleksi keris?

A: Alasan saya untuk mengoleksi keris yang pertama adalah untuk menjaga warisan budaya dari nenek moyang kita. Kebetulan pula saya mendapatkan hibah keris warisan keluarga, yang kemudian saya diamanahkan untuk merawat. Jadi kakek dari Ibu saya yang tinggal di Jepara, Jawa Tengah beberapa tahun lalu meninggal dan memberikan warisan pada saya dua buah keris yakni Keris Carito dan Keris Jalak Inom.

Sebelumnya semasa hidup beliau selalu mengajarkan budaya jawa dan saya selalu tertarik menyimak. Kakek juga tidak pernah mengajarkan keris untuk hal-hal mistis. Namun koleksi saya belum banyak masih sekitar lima buah di rumah.

Kemudian, saya mulai semakin mengenal dunia perkerisan pada masa kuliah saat saya bertemu dengan rekan-rekan pecinta benda pusaka dan budaya Nusantara, khususnya di FIB UI. Setelah itu saya mulai tergerak untuk bersama-sama dengan rekan-rekan yang satu pemikiran untuk kembali menghidupkan budaya pusaka Nusantara, tetapi dengan cara yang lebih modern.

Seperti, saya pernah membuat desain animasi 3D dalam bentuk game berjudul Mount and Lath. Permainan tersebut memodifikasi berbagai senjata khas Nusantara tidak hanya keris tetapi juga pedang, tombak dan lainnya.

Menurut saya cara seperti ini yang dekat dengan anak muda akan lebih memudahkan para generasi muda tertarik dan mengenal kembali warisan bangsa. Tren yang berkembang sekarang, seperti saya juga, anak muda yang melirik keris sebagai barang koleksi meski masih banyak yang belum sepenuhnya memahami apa keris itu sebenarnya.

Layaknya strategi marketing menurut saya hal ini tetap bagus, karena dimulai dengan ketertarikan seseorang lama-lama pasti akan cari tahu lebih dalam lagi.

Q: Darimana saja mendapatkan keris?

Untuk membeli keris, saya hanya melalui mouth-to-mouth­ karena kebetulan saya masih awam dalam dunia pusaka, akan tetapi memang cara inilah yang paling umum dilakukan dalam jual-beli di dunia pusaka.

Mungkin alasannya menurut saya adalah karena keris bukan merupakan benda dagangan seperti di pasar yang senantiasa diproduksi dan dibutuhkan sehari-hari, akan tetapi sebagai benda yang dicari unsur keunikan tertentu yang  terkandung secara unik dalam tiap bilahnya, sehingga, lebih cocok apabila keris ini disebut sebagai barang yang “diburu” ketimbang sebagai barang yang “dibeli” karena merujuk kepada cara transaksinya.

Namun, bukan berarti pembelian keris secara konvensional tidak eksis. Keris juga dapat dibeli di Mpu yang benar-benar ahli (misalnya Mpu Sungkowo Harumbrodjo, Mpu Basuki Teguh Yuwono, dsb.) atau dengan ke sentra pembuatan keris massal di Madura. Tentu saja, keris yang dibeli di empu masa kini bukanlah keris tua, walaupun kualitasnya mungkin menyamai keris tua. Apalagi bila membeli di sentra pembuatan keris massal, yang sangat beragam kualitasnya.

Jika ditanya soal harga berapa, saya hanya bisa menjawab dengan tanpa mengurangi rasa hormat, bahwa keris bisa dibeli di mana saja dengan harga berapa saja. Walau mungkin terkesan tidak menjawab pertanyaan, tapi itulah jawaban yang menjadi fakta lapangan.

Sebagai contoh, Anda bisa saja menemukan keris baru (biasanya keris baru harganya lebih murah) yang dijual di toko barang antik dan tidak tahu siapa yang membuat, ditambah lagi kualitas logamnya juga jelek, namun harganya bisa selangit, bisa seharga laptop misalnya.

Anda bisa juga menemukan sebuah keris sepuh jaman kerajaan Demak dengan kualitas pembuatan yang bagus, namun dijual dengan seharga kemeja kantoran. Hal tersebut sangat biasa terjadi, disebabkan karena harga keris sangat dipengaruhi oleh faktor ABC, yaitu Asal, Bentuk dan Cerita.

 Asal itu maksudnya adalah asal muasal keris itu sendiri, daerahnya, masa pembuatannya, empunya, dsb. Bentuk adalah rupa secara fisik, yaitu dhapur, pamor, warangka, dsb. Cerita itu adalah unsur non kebendaan yang terkandung dalam sebuah keris, misalnya sebuah keris diyakini sebagai milik Pangeran Diponegoro, atau keris yang diyakini mampu menyembuhkan penyakit ebola misalnya. Sebagai contoh lagi, saya pribadi memiliki keris yang maharnya sekitar Rp500.000 namun ada juga yang maharnya Rp25. Itu juga karena faktor ABC tadi.

Q: Jenis keris yang disuka?

Saya pribadi tidak memilih-milih keris berdasarkan tangguh, dhapur atau pamornya ya, namun saya mengoleksi keris itu hanya berdasarkan penglihatan dan rasa, di saat saya melihat keris itu bagus dan saya rasa keris itu sesuai selera saya, maka saya berminat.

Namun bila tidak, ya saya tidak tertarik. Kalau soal tangguh, itu pasti ada orang yang memiliki preferensi tertentu sesuai kebutuhannya. Saya pernah mendengar bahwa orang cenderung menghindari tangguh-tangguh yang kerajaannya berusia singkat, seperti Pajang misalnya, karena dianggap sebagai pertanda buruk.

Untuk pamor, tiap pamor punya makna masing-masing dan sesuai kepercayaan pemiliknya. Ada pamor yang dicari-cari seperti “pamor Udan Mas” yang diyakini mampu membawa rezeki. Ada pula pamor yang dihindari seperti “pamor Buntel Mayit” yang dianggap membawa  petaka. Ada pula pamor yang unik seperti “pamor Blarak Sineret” yang dihindari di Yogyakarta namun dicari di Jawa Timur. Untuk membahas soal pamor, tangguh dan dhapur sepertinya  akan sangat panjang jadi hanya saya singkat saja untuk gambaran umumnya.

Q: Bagaimana perawatannya?

A: Keris dirawat dengan cara tradisional dari dahulu hingga sekarang, hanya saja materinya yang mungkin sedikit berubah. Keris harus rutin diminyaki agar tidak mudah berkarat, seperti halnya benda lain yang terbuat dari baja. Sebagian orang ada yang suka menggunakan minyak yang diberikan pewangi namun ada pula yang tidak suka diberikan pewangi. Selain itu, setiap satu periode sekali (tergantung pemiliknya untuk menentukan satu periode itu berapa lama), keris harus dijamas.

Jamasan berarti mencuci, dan dalam hal ini bukan mencuci dengan air, namun dengan zat yang bernama warangan. Tujuannya adalah agar menghilangkan karat pada keris dan mengilapkan kembali pamor yang menempel di tubuh keris. Biasanya penjamasan dilakukan pada malam Satu Suro (malam 1 bulan Muharram). Untuk saat ini,  bahan pencuci keris, yakni warangan, sudah kerap digantikan dengan bahan kimia Arsenik.

Q: Bagaimana membedakan keris asli atau palsu?

A: Tadi untuk proses jual  beli keris itu sendiri  sudah saya jelaskan di atas ya, bisa mouth-to-mouth, bisa pesan langsung di Mpu, atau bisa ke toko atau pusat kerajinan keris. Nah untuk mengetahui keris itu asli atau palsu, itu merupakan proses yang sulit dan membutuhkan pengalaman. Pertama, kita tidak bisa mengatakan keris itu asli  atau palsu, karena semua keris itu asli.

Istilah yang lebih tepat digunakan adalah keris itu sudah sesuai namanya atau belum? Mengapa saya mengatakan hal tersebut, adalah karena kebanyakan kasus penipuan di dunia perkerisan adalah rekayasa cerita mengenai sebuah keris. Yang membuat sebuah transaksi keris menjadi sebuah penipuan adalah karena ada ketidak sesuaian antara apa yang diharapkan dan apa yang diceritakan dari sebuah keris.

Sebagai contohnya adalah saya mau membeli sebuah keris yang diyakini sebagai keris Majapahit, seperti diungkapkan penjualnya. Setelah saya membeli keris tersebut dengan nominal yang seharga IPhone 6, ternyata setelah dilakukan crosscheck, benda tersebut tak lain merupakan keris baru yang dibuat hanya merupai keris tua.

Maksud saya di sini adalah, secara jual beli, penjualan tersebut adalah sah karena ada barang dan ada uang, kemudian saya menyetujui harga yang ditawarkan penjual, namun unsur C, dalam faktor ABC di atas, tidak terpenuhi  seperti yang dijanjikan, sehingga terjadilah kasus penipuan.

Sementara itu, untuk mengetahui kasus-kasus seperti itu dan guna mengidentifikasi potensi masalah seperti di atas, langkah yang harus dilakukan yaitu; mengetahui kebutuhan kita, melihat ciri-ciri barang yang akan kita beli, cek referensi dan validasi informasi. Pertama, mengetahui barang yang akan kita beli sangatlah penting. Kita harus mencari tahu ciri barang yang kita mau.

Sebagai contoh, kita mau memiliki keris Jalak dengan tangguh Majapahit, maka kita harus tahu bahwa ciri-ciri keris era Majapahit adalah kecil, pamornya rapat dan bajanya keras. Kita juga harus melihat kira-kira bagaimana kondisi keris Majapahit yang masih ada sekarang, agar kita tidak tertipu di lapangan.

Kedua, melihat ciri-ciri barang yang akan kita beli adalah langkah yang harus ditempuh ketika melihat barang yang akan dibeli/dimaharkan. Kita kemudian menyesuaikan informasi yang sudah kita miliki dengan apa yang kita lihat, sudah sesuai atau belum. Ketiga, jangan lupa untuk cek referensi, baik tentang kerisnya maupun tentang penjualnya. Cek referensi ini bisa ke rekan pecinta budaya pusaka maupun ke pihak otoritas, dalam hal ini Serikat Nasional Perkerisan Indonesia (SNKI). Ini untuk menghindarkan diri agar tidak menjadi korban penipuan pedagang yang terkenal jahat.

Dan terakhir, pastikan untuk memvalidasi informasi yang diberikan kepada kita, harus kita cek dahulu kebenarannya. Misalnya, ada orang yang menawarkan kita keris dengan harga fantastis. Saat ditanya alasan harga tersebut, ternyata keris tersebut adalah keris peninggalan raja ke-tiga Majapahit, yakni Eyang Subur. Nah, apakah benar raja ke-tiga dari Majapahit adalah Eyang Subur? Tentu bukan, karena yang benar adalah Hayam Wuruk. Dengan demikian, kita sangatlah perlu untuk memiliki informasi yang memadai guna menghindarkan diri dari penipuan seperti ini.

Tips lain dari saya adalah membeli keris pada teman atau yang sudah kita kenal. Pencinta keris biasanya berputar pada orang yang itu-itu saja, ada baiknya kita bergabung dan mulai menjalin pertemanan dengan sesama pecinta keris tersebut.

Q: Tren keris sekarang?

A: Untuk jenis keris yang dikoleksi dan diburu saat ini juga telah saya jabarkan di atas, bahwa itu semua tergantung preferensi masing-masing individu. Umunya dahulu orang cenderung menghindari keris Kamardhikan, karena modern itu dianggap identic dengan kualitas yang jelek.

Namun tren kini sudah bergeser di mana orang kini mulai melihat dan mengoleksi keris-keris buatan Mpu yang memiliki daya seni yang baik, misalnya ada Keris Gelombang Cinta, yang bentuknya unik, keris Yudhoyono yang memiliki hiasan bergambar muka SBY. Keris-keris yang saya sebutkan di atas adalah keris Kamardhikan namun juga dicari karena kualitas seni dan filosofi yang terkandung di dalamnya.

Q: Ceritakan tentang komunitas keris UI?

A: Dulunya pada 2009 komunitas ini namanya Komunitas Pusaka tetapi anggotanya kebanyakan pengajar atau alumni yang sudah tua. Saya mulai gabung 2012 dan pada akhir 2013 dipilih sebagai ketua meskipun saya sendiri bukan dari FIB tetapi Fakultas Psikologi.

Sekarang anggotanya terdiri dari mahasiswa, alumni dan para pecinta keris di luar UI yang kurang lebih berjumlah 20 an orang. Kami banyak melakukan kegiatan diskusi rutin dan pernah beberapa kali seminar.

Kedepan dengan komunitas keris UI ini diharapkan dapat lebih mengedukasi masyarakat tentang salah satu senjata warisan Nusantara ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

budaya
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top