Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Cintai Kebaya, Busana Tak Lekang Dimakan Zaman

Kebaya kini tak sekadar menjadi sandang yang lekat dengan perempuan Indonesia. Kebaya telah menjelma menjadi salah satu simbol budaya bangsa yang wajib dilestarikan setiap generasi.
Ipak Ayu H Nurcaya
Ipak Ayu H Nurcaya - Bisnis.com 07 November 2015  |  08:03 WIB
Cintai Kebaya, Busana Tak Lekang Dimakan Zaman
Desainer Anne Avantie (kiri) dan koleksi kebaya hasil rancangannya - Jibiphoto/Burhan Aris Nugraha
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA -- Kebaya kini tak sekadar menjadi sandang yang lekat dengan perempuan Indonesia. Kebaya telah menjelma menjadi salah satu simbol budaya bangsa yang wajib dilestarikan setiap generasi.

"Kalau orang dulu jangan ditanya, seperti ibu saya dulu bahkan dari bangun tidur sampai mau tidur lagi pakainya kebaya," kata Mien R. Uno pendiri Pendidikan Duta Bangsa di Hotel Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Kamis (5/11/2015).

Menurutnya, gaya generasi muda sekarang yang lebih suka dengan hal instan membuat mereka asing dengan kebaya. Namun, ada beragam cara yang bisa dilakukan untuk menimbulkan kecintaan generasi muda pada busana. Salah satunya dengan membiarkan anak muda berekspresi, seperti penggunaan baju kebaya yang dipadukan celana jeans.

Dengan membiarkan anak muda ini berekspresi bebas sesuai karakter dan tren sekarang, Mien yakin lambat laun akan timbul kecintaan. Para anak muda akan lebih tau banyak lagi tentang kebaya tentunya dan mengerti penggunaanya yang baik dan benar.

"Biarkan dulu mereka berekspresi dengan gayanya, lama-lama makin cinta dan makin cari tahu banyak. Ini penting untuk pelestarian kebaya," kata perempuan yang berhasil meraih Lifetime Achievement Award dari Johnny Andrean & Tokyo Instagram 2014.

Generasi muda, menurut Mien, adalah tonggak yang penting dalam kemajuan budaya. Dengan mencintai kebaya mereka juga dapat turut aktif memperkenalkan budaya ini pada masyarakat dunia.

Kagum

Mien yang baru saja pulang dari Frankfurt Book Fair (FBF) 2015, di Jerman bulan lalu mengatakan, meski belum banyak masyarakat dunia mengenal kebaya sebagai pakaian tradisional Indonesia, tapi banyak yang mengaguminya.

Hal ini terbukti dari antusias ratusan ribu pengunjung pameran terbesar pada buku karya Debbie Suryawan yang merupakan hasil pemikiran Mien tentang padu-padan dan sejarah singkat pakem kebaya Nusantara.

Melalui buku yang berjudul Kebayaku , Mien tak hanya mendorong generasi muda untuk memakai kebaya, tetapi juga mendorong setiap masyarakat mengenal lebih dekat nilai dan filosofi dalam kebaya.

Sebelumnya, buku yang terbit pada November 2014 lalu  juga telah mencuri perhatian perpustakaan nasional di Negeri Paman Sam. Buku ini dipilih oleh National Library of Congress di Washington DC, AS, untuk mengisi berbagai perpustakaan nasional di Amerika Serikat termasuk 17 universitas di sana.

Pemilihan ini berdasarkan isi buku yang merupakan hasil dari riset  dan paparan detil mengenai kebaya tradisional Indonesia.

“Ranah mode tanah air tak lekang dalam mengembangkan kebaya sebagai bagian dari industrinya dan terbukti mampu memenuhi kebutuhan pasar dalam berbagai segmentasi,” ujar Mien yang memiliki koleksi lebih dari 100 kebaya.

Buku

Lebih jauh, buku Kebayaku bertujuan menjadi bagian dari upaya pelestarian kebaya sebagai busana nasional wanita dan wastra Indonesia yang bernilai tinggi.Tak hanya itu, buku ini diharapkan dapat menjadi acuan perempuan Indonesia dalam padu padan kebaya modern tanpa meninggalkan kebersahajaan serta nilai kearifan budaya bangsa.

Berbagai sambutan positif telah diterima oleh buku Kebayaku di FBF 2015, antara lain dengan akan diterbitkannya buku ini ke dalam bahasa Inggris dalam waktu dekat.

“Ke depannya, saya mengharapkan akan lebih banyak lagi para penulis buku yang mau mengangkat warisan budaya bangsa, seperti kostum tradisional sebagai materi,” kata Mien.

Marketing Internastional, Gramedia Pustaka Yudith Andhika menambahkan, dengan mendapatkan tempat istimewa di perhelatan pameran buku terbesar dunia, Indonesia dilihat sebagai negara yang memiliki potensi literatur yang tinggi, baik dari sisi kualitas dan bisnis.

“Kami menurunkan 200 judul buku, dan buku yang berisi tentang khasanah budaya dan sastra seperti Kebayaku memang yang banyak diminati pengunjung di sana,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

budaya
Editor : Nancy Junita
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top