PERINGATAN WHO: Waspadai 7 Penyakit Pemicu Wabah

Regional Coordinator di WHO South East Asia Regional Office Tjandra Yoga Aditama mengatakan WHO baru saja mengeluarkan daftar tujuh penyakit yang dianggap mungkin dapat memicu wabah besar.
Tisyrin Naufalty Tsani | 02 Januari 2016 17:00 WIB
Wabah MERS di Korea Selatan - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Guinea, salah satu negara di Afrika Barat, mendeklarasikan telah terbebas dari penularan Ebola pada Selasa (29/12/2015). Virus Ebola memang sangat mengusik kehidupan masyarakat di negara-negara yang berada di wilayah Afrika Barat.

Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) pun kemudian menyatakan bahwa Ebola adalah salah satu penyakit yang berpotensi menjadi wabah besar yang mendunia.

Wabah Ebola terburuk di dunia bermula di Kota Gueckedou, timur Guinea, pada Desember 2013 sebelum menyebar ke Liberia, Sierra Leone, dan tujuh negara lainnya. Terdapat sekitar 3.800 kasus di Guinea dari lebih dari 28.600 kasus secara global. Dari semua kasus, terdapat lebih dari 11.300 orang tewas karena virus tersebut. Ebola telah membuat 6.200 anak-anak di Guinea menjadi yatim.

"Tidak pernah ada wabah yang mengakibatkan begitu banyak kerugian di Guinea selain Ebola. Jika pemerintah dan mitra asingnya telah berhasil menaklukan penyakit itu, kami hanya bisa bersyukur kepada Tuhan," kata salah satu warga Guinea Mamady Traore, seperti dilansir Reuters.

Namun, kekhawatiran akan kasus baru bisa muncul kembali. Pada puncaknya, Ebola memicu ketakutan di seluruh dunia dan pemerintah dan bisnis mengambil tindakan pencegahan.

Regional Coordinator di WHO South East Asia Regional Office Tjandra Yoga Aditama mengatakan WHO baru saja mengeluarkan daftar tujuh penyakit yang dianggap mungkin dapat memicu wabah besar.

Belum ada obat dan atau program penanganan yang benar-benar ampuh sekarang ini untuk penyakit-penyakit tersebut. Ebola rupanya tergolong dalam daftar. "Daftar penyakit ini akan di evaluasi dari waktu ke waktu dan mungkin saja berubah bergantung situasi yang ada," tegasnya.

Pertama, Crimean Congo hemorrhagic fever (CCHF) yang merupakan sejenis demam, menular lewat sejenis kutu yang disebut tick. Penyakit ini pertama kali ditemukan di daerah Crimea pada 1944, dan menyebar luas di Congo pada 1969.

Sekarang penyakit ini dilaporkan dari berbagai negara, termasuk Asia. Gejalanya hampir mirip dengan Ebola, seperti pembesaran hati, demam, nyeri otot dan muntah. Belum ada vaksin yang tersedia untuk penyakit ini.

Kedua, Ebola virus disease (EVD). Seperti telah dijelaskan sebelumnya, penyakit ini cukup menghebohkan dunia sehubungan wabah di Afrika Barat belum lama ini. Angka kematiannya bisa mencapai 90%, walaupun rata-rata 50%. Penularannya di duga bermula dari hewan (zoonosis), lalu berkembang menular antarmanusia. "Seperti diketahui, saat ini belum ada obat untuk membunuh virus ebola.

Vaksinnya juga belum tersedia luas, walaupun sudah ada beberapa penelitian yang cukup menjanjikan sekarang ini," kata pria yang merupakan mantan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI tersebut.

Ketiga, Marburg hemorrhagic fever. Penyakit ini ditemukan pada 1967 sebagai penyakit misterius yang timbul di Eropa, kerap terjadi pada petugas laboratorium yang menangani monyet dari Uganda. Belakangan diketahui penyebabnya adalah jenis filovirus, satu kelompok dengan virus penyebab Ebola.

Keempat, Lassa fever. Penyakit ini awalnya ditemukan di Afrika barat dan terjadi pada orang yang kontak dengan kotoran binatang Mastomys rats, atau kontak dengan cairan tubuh orang yang terkena penyakit ini. Gejala yang timbul dapat berkisar dari keluhan ringan seperti demam tidak tinggi sampai pada keadaan berat berupa perdarahan, radang otak, dan shock. Demam merupakan gejala utama, dan salah satu komplikasinya adalah gangguan pendengaran sampai tuli.

"Pengobatan yang mugkin diberikan adalah obat anti virus ribavirin yang efektif pada sebagian kasus. Vaksin belum tersedia," katanya.

Kelima, Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Keduanya disebabkan oleh kelompok coronavirus family, dan menimbulkan penyakit pada saluran napas.

Sejauh ini belum ada obat anti viral yang benar-benar ampuh untuk membunuh virus korona penyebab penyakit ini, dan penelitian terkait vaksin masih dilakukan.

Keenam, Nipah virus infection. Penyakit Nipah virus pertama kali diidentifikasi pada 1998 di Malaysia, pada peternak babi. Belakang penyakit ini juga ditemukan negara lain, seperti di Bangladesh dan India.

Nipah virus ini memicu peradangan otak, kejang dan bahkan perubahan kepribadian. Belum ada vaksin untuk pencegahan penyakit ini.

Ketujuh, Rift Valley fever. Rift Valley fever berawal pada peternak domba di Kenya pada 1931, dan sejak itu berkali-kali menjadi wabah di benua Afrika. Penularan terjadi dengan menyentuh jaringan binatang yang sakit, minum susu yang terinfeksi dan atau tergigit nyamuk yang terinfeksi.

Sejauh ini tidak ada penularan dari manusia ke manusia. Gejalanya menyerupai meningitis dan terkadang sulit dideteksi pada fase awal.

Belum ada vaksin untuk penyakit ini.

Selain ketujuh penyakit tersebut, para pakar WHO membuat dua kategori lain.

Kategori pertama, yaitu kelompok serius dan perlu penelitian pengembangan segera yaitu Chikunguya, severe fever with throm-bocytopaenia syndrome, dan Zika.

Penyakit-penyakit ini juga ditemukan di Asia, dan sebagian juga terdapat laporan dari Indonesia.

Kategori kedua, penyakit yang punya potensi epidemi, seperti HIV/AIDS, tuberkulosis, malaria, avian influenza (flu burung), dan dengue. "Perlu disadari bahwa penyakit-penyakit yang masuk kategori satu dan dua ini tentu juga perlu diwaspadai," tegasnya. Penyakit dalam dua kategori tersebut mungkin saja menjadi sama berbahayanya dengan tujuh penyakit yang berpotensi menjadi wabah besar. (Tisyrin Naufalty T)

Sumber : Bisnis Indonesia, Sabtu (1/1/2016)

Tag : wabah
Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top