Isun Sunaryo, Penjaga Budaya di Makam Raden Saleh

Isun Sunarya, Ia dikenal warga sebagai penjaga makam sang Maestro Raden Saleh. Dengan senyum sumringah, pria yang berusia 77 tahun ini menemui pengunjung. Meski usianya yang tidak muda lagi, namun ia masih ingat betul sejarah Raden Saleh. Isun, sapaan akrabnya, mengaku menjadi saksi hidup dari kisah Raden Saleh.
Asteria Desi Kartika Sari | 02 Januari 2016 15:52 WIB
Logo Perpustakaan Digital Budaya Indonesia - budaya/indonesia.org

Bisnis.com, BOGOR. Isun Sunarya, Ia dikenal warga sebagai penjaga makam sang Maestro Raden Saleh. Dengan senyum sumringah, pria yang berusia 77 tahun ini menemui pengunjung. Meski usianya yang tidak muda lagi, namun ia masih ingat betul sejarah Raden Saleh. Isun, sapaan akrabnya, mengaku menjadi saksi hidup dari kisah Raden Saleh.

Menurut cerita Isun Sunarya, situs makam Raden Saleh ditemukan oleh Adung Wiraatmaja yang masih satu kerabat dengannya. Saat itu, Adung menemukan makam tersebut tanpa sengaja di balik alang-alang dan pohon-pohon besar saat ia sedang membersihkan lahan tersebut.

Bersama Adung Wiraatmaja, ia mendapat amanat untuk menjadi pemelihara makam tersebut. Ini kondisi makam yang dulu, katanya sambil menunjukkan secarik kertas foto. Melalui foto itu tampak kondisi makam Raden Saleh berbentuk batu nisan marmer, seperti makam Belanda.

Keseriusan dari Adung Wiraatmaja dan Isun Sunarya untuk tetap menjaga situs itu, makam semakin diakui oleh Presiden Soekarno. Kemudian, Presiden Soekarno juga turut ambil bagian dalam pembangunan pusaran Raden Saleh. Mulai 16 September 1953, situs pemakaman mulai dipugar dan diresmikan. Tidak hanya sampai disitu, apresiasi juga diberikan saat kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yakni penghargaan Bintang Mahaputra.

Isun mengakui bahwa makam Raden Saleh masih sepi pengunjung. "yang banyak itu kemarin hanya dari kelompok mahasiswa Seni Rupa", jelasnya kepada Bisnis.

Menyoal dana yang diberikan dari pemerintah Kota Bogor perbulannya kadang melebihi biaya operasional pemakaman, Isun menghiraukannya. Tak sedikitpun tersirat dipikirannya untuk membiarkan makan Raden Saleh tidak terurus.

Tag : seni budaya
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top