Tren Postwedding: Ladang Cuan Baru Para Fotografer

Sudah sejak lama masyarakat mengenal dan menggunakan jasa fotografer prewedding sebagai bagian dari rangkaian selebrasi pernikahan. Namun, belakangan muncul tren baru di dunia dokumentasi pernikahaan, yaitu fotografi postwedding.
Wike Dita Herlinda
Wike Dita Herlinda - Bisnis.com 20 Agustus 2016  |  13:00 WIB
Tren Postwedding: Ladang Cuan Baru Para Fotografer
/JIBI

Bisnis.com, JAKARTA - Sudah sejak lama masyarakat mengenal dan menggunakan jasa fotografer prewedding sebagai bagian dari rangkaian selebrasi pernikahan. Namun, belakangan muncul tren baru di dunia dokumentasi pernikahaan, yaitu fotografi postwedding.

Sesuai namanya, fotografi postwedding mengabadikan momen pasangan pascapernikahan mereka. Sebab, saat ini banyak pasangan yang ingin didokumentasikan tidak hanya sebelum dan saat menikah, tetapi juga setelah menikah.

Biasanya fotografi postwedding dilakukan pada saat pasangan melakukan bulan madu (honeymoon). Mereka sengaja menyewa dan memboyong fotografer profesional untuk menjepret momentum bahagia mereka pascamenikah.

Tren baru ini menjadi ladang cuan yang menjanjikan bagi para fotografer pernikahan. Salah satu vendor fotografi yang sering kebanjiran pesanan foto postwedding adalah Elreas Photographie, yang dimiliki pasangan Ella Pamela Tanu dan Andreas Cihendra.

Mereka kerap mendapatkan orderdokumentasi pascapernikahan di sela-sela bulan madu pasangan. Tidak jarang Elreas di-booking khusus untuk mengikuti pasangan tersebut hingga ke luar negeri. Oleh karena itu, biaya sewa fotografer postwedding tidaklah murah.

Lantas, seperti apa tren fotografipostwedding ini? Bagaimana permintaannya, tantangannya, serta prospek bisnisnya? Berikut penuturan Ella dari Elreas Photographie tentang serba-serbi jasa fotografi postwedding:

Sejak kapan menyediakan jasa fotografi untuk honeymoon?

Kami menyediakan jasa untuk fotografi postwedding sejak dua tahun lalu. Mungkin dikarenakan pada tahun-tahun sebelumnya, fotografi pascapernikahan belum menjadi tren. Sekarang ini banyak orang yang mulai menggunakan jasa fotografi untuk postwedding.

Lalu apa yang membedakan fotografipostwedding dengan prewedding?

Perbedaannya bisa dilihat dari tujuan mengapa pasangan tersebut ingin menggunakan jasa fotografipostwedding. Ada beberapa alasan yang kami tangkap, berdasarkan pengakuan para klien yang pernah kami layani.

Pertama, karena pada saat prewedding, mereka hanya sempat sesi foto di studio saja. Sehingga setelah menikah, mereka ingin mencari tiket promo ke luar negeri dan membuat dokumentasi yang lebih bagus saat bulan madu.

Kedua, ada yang menginginkan sesi foto postwedding sebagai kado atau hadiah pernikahan. Banyak istri-istri baru yang sengaja minta kado sama suaminya berupa foto-foto bulan madu saja, ketimbang membuat pesta pascapernikahan besar-besaran.

Ketiga, karena pada saat preweddingmereka tidak sempat melakukan sesi foto, sehingga setelah menikah mereka menyempatkan menyewa fotografer untuk mengabadikan momen kemesraan mereka.

Keempat, ada juga yang karena memang pada dasarnya hobi atau senang difoto. Ini adalah alasan yang paling sering. Banyak klien yang memang suka difoto atau maunya semua didokumentasikan, mulai dari prewedding, wedding, sampai postwedding.

Kelima, ada juga yang alasannya karena mereka sengaja menggelar pernikahan yang sederhana dan tidak terlalu mewah. Sehingga, budget-nya bisa dihemat atau disimpan khusus untuk foto-foto postwedding saat libur bulan madu.

Bagaimana dengan tren permintaannya?

Sebenarnya untuk foto postwedding ini masih relatif sedikit permintaannya. Sebab di Indonesia memang tren ini masih relatif baru. Klien saya justru banyak datang dari orang-orang asing atau ekspatriat.

Kalau orang Indonesia kebanyakan lebih memilih menghabiskan budgetuntuk menggelar pesta pernikahan yang besar, ketimbang dokumentasipostwedding. Kalau diskala, permintaan sesi foto postwedding dan prewedding dalam sebulan sekitar 2:8.

Biasanya konsep foto yang diminta pelanggan seperti apa?

Kalau gaya, kebanyakan sekarang permintaannya lebih mengarah kecandid atau foto spontan a la hasiljepretan paparazzi. Bukan hanya untuk postwedding saja, tren untuk foto prewedding sekarang lebih ke gaya candid.

Untuk konsep postwedding, saya rasa tidak terlalu jauh berbeda denganprewedding. Hanya saja untuk postwedding, biasanya pasangan lebih banyak yang meminta gaya intim atau lebih mesra karena mereka sudah menikah, sehingga lebih leluasa dan bisa untuk koleksi pribadi.

Namun, yang jelas konsep untuk foto postwedding ini biasanya cenderung lebih casual. Sebab, klien lebih tidak mau capek atau habis banyak energi untuk sesi foto, karena setelahnya mereka masih ingin menikmati libur bulan madu.

 

 

 

 

Jadi, untuk tema biasanya mereka memilih yang casual dan candid untuk foto bulan madu. Atau gaya intim, karena mereka sudah tidak malu-malu lagi setelah menikah. Kalaupun ada yang minta difoto dengan gaun, biasanya itu hanya untuk variasi saja.

Apa tantangannya untuk fotografi postwedding ini, dibandingkan foto prewedding?

Kalau tantangan sih malah hampir tidak ada. Justru lebih sulit fotografi prewedding. Sebab, sesi fotografi prewedding itu kerap melibatkan orang tua, yang mana sulit kalau mau dibawa-bawa ke luar kota atau luar negeri. Paling lokasinya jarak dekat saja.

Kalau orang tuanya kolot, kasihan juga pasangannya. Lalu, kalau fotografi prewedding juga sering terbentur masalah hotel, karena pasangan yang belum menikah tidak boleh tidur berdua, jadi harus ditemani keluarga atau saudara. Akibatnya budget membengkak.

Bahkan, terkadang ada juga yang orang tuanya minta ikut saat sesi fotografi prewedding. Lalu, ada juga pasangan yang masih malu-malu beradegan mesra. Nah, kalau sudah menikah, biasanya mereka lebih leluasa jadi tidak kaku. Tantangannya lebih sedikit.

Biasanya ke mana saja tempat fotografi postwedding favorit klien?

Selama ini, masih di kawasan Asia saja. Kami pernah melayani permintaan ke Jepang dari klien yang orang Singapura. Kami juga pernah melayani permintaan ke Bali dari klien yang asli orang Suchou, China. Selain Jepang, pernah juga di Hong Kong dan Singapura. Kalau di dalam negeri, paling banyak di Bali, Bromo, dan Labuan Bajo.

Bagaimana dengan sistem sewa jasanya, terutama bila harus mengajak fotografer ke luar kota/negeri? Dihitung berdasarkan apa pula tarifnya?

Kalau sistemnya sih tergantung paket atau promo yang ada. Ada beberapa rute yang kami bikin promo dan biasanya sudah mencakup biaya tiket dan hotel kami. Namun, tidak termasuk biaya tiket dan hotel klien.

Kalau tidak ada promo, berarti harga belum termasuk akomodasi, tiket dan hotel untuk fotografer. Jadi, harganya murni untuk biaya fotografi saja. Biasanya klien bisa ‘patungan’ untuk membayar tiket fotografer, agar lebih menghemat. Namun, hotel tetap kami bayar sendiri.

Paket jasa postwedding biasanya dihitung per hari. Ada yang satu atau dua hari. Satu hari itu kisaran jam kerjanya kurang lebih 6 jam. Dan, satu hari itu biasanya lokasi fotonya ada di dua tempat.

Kalau kebetulan jarak antarlokasi berdekatan, biasanya kami melayani tiga tempat untuk sesi foto dalam sehari. Akan tetapi, kalau jaraknya berjauhan, biasanya dua lokasi saja dalam sehari. Untuk tarif dan harganya sihtergantung tempat dan berapa hari [sewa jasa] yang mereka ambil.

Kalau dari segi bisnis, bagaimana prospeknya? Apakah bisa sustain permintaannya, atau ini hanya tren sesaat?

Kalau untuk fotografi postwedding, dilihat dari kecenderungannya sih[lebih sesuai] untuk orang yang tidak mau ribet atau keluar budget besar untuk resepsi pernikahannya. Mereka lebih menyimpan dananya untuk dokumentasi ketika berlibur bulan madu.

Jadi, saya lihat segmen bisnis fotografi postwedding ini bisa bertahan untuk jangka waktu panjang, karena biaya untuk pernikahan semakin mahal, sehingga banyak orang yang memilih ‘menikah [sambil] liburan’ sebagai solusi alternatif. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
postwedding

Editor : Fatkhul Maskur
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top