Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Arswendo Ingin Tularkan Humor Bergizi

Makna utama dari peristiwa humor adalah membawa pesan demi kebaikan bersama. Namun, beberapa tahun belakangan, makna ini mulai memudar dengan panggung humor Tanah Air yang hanya mementingkan rating, tanpa memerhatikan isi pesan dan nilai.
Azizah Nur Alfi
Azizah Nur Alfi - Bisnis.com 10 September 2016  |  11:48 WIB
Ilustrasi humor - Istimewa
Ilustrasi humor - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Makna utama dari peristiwa humor adalah membawa pesan demi kebaikan bersama. Namun, beberapa tahun belakangan, makna ini mulai memudar dengan panggung humor Tanah Air yang hanya mementingkan rating, tanpa memerhatikan isi pesan dan nilai.

Arswendo Atmowiloto, pengarang dan pengamat kebudayaan, merasa mulai ada yang hilang dari peristiwa humor ketika jenis komika ala stand up comedy yang kini merajalela. Menurutnya, jenis humor ini memang renyah, tetapi bisu terhadap kadaan sosial. Dia menyebutnya humor kurang gizi.

Humor kurang gizi biasanya tampil asal lucu mengundang tawa dan tepuk tangan penonton. Beberapa dari sekian banyak contoh materi humor tersebut seperti, memuja perempuan cantik, mem-bully yang dianggap tidak cantik atau mereka yang sudah tua, atau memelesetkan nama selebriti ternama.

Hal ini disampaikannya saat menutup Simposium Humor Nasional: Humor yang Adil dan Beradab di Mall Of Indonesia Jakarta. Simposium Humor Nasional diselenggarakan oleh Institut Humor Indonesia Kini (Ihik) dan Perhimpunan Pecinta Humor (Pertamor).

Menurutnya, kondisi tersebut berbeda dengan tradisi humor Indonesia berupa seni lawak yang diwariskan melalui wayang dengan tokoh Panakawan, terutama Semar. Tidak hanya mengundang tawa, tokoh Semar mengingatkan pada peristiwa humor yang membawa pesan demi kebaikan bersama. Pesan kebaikan dan nilai-nilai juga tertuang dalam lakon lain seperti, Semar Papa, Semar Kuning, dan Semar Mesem.

Di Indonesia, tradisi humor Panakawan dapat disaksikan pada grup lawak Bagito yang pernah naik daun di era 1980-an dan 1990-an. Bagito adalah contoh grup lawak yang tetap kritis. Tradisi serupa juga sedang diupayakan Cak Lontong yang sesekali lucu, tetapi juga sesekali menyuarakan kritik.

Arswendo berharap dapat mengajak para pelaku lawak untuk kembali pada humor yang sarat tata nilai dan kritik.

"Begitu banyak kisah Semar atau para Panakawan, tetapi begitu sedikit yang mau melihat untuk belajar," paparnya.

Simposium Humor Nasional diselenggarakan oleh Institut Humor Indonesia Kini (Ihik) dan Perhimpunan Pecinta Humor (Pertamor). Beberapa tokoh hadir memaparkan pandangan mereka seperti, Wirma Witoelar, Jaya Suprana, Deddy ‘Mi'ing’ Gumelar, Sys Ns, dan Sarlito Wirawan Sarwono, Rocky Gerung, Pipiet R Kartawidjaja, dan lain lain.

Adapun pelaku lawak yang turut hadir seperti, Maman Suherman, Kiwil. Hadir pula sastrawan Agus Noor, Seno Gumira Ajidarma. 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

komedi
Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top