BEDAH BUKU: Hasan Aspahani Tampilkan Etos Penyair Chairil Anwar

Siapa Chairil Anwar? Nyaris tak ada yang tak mengenal penyair besar yang juga dikenal sebagai ‘sang binatang jalang’ dalam puisinya Aku ini
Azizah Nur Alfi | 02 November 2016 06:44 WIB
Sosok Chairil Anwar kembali dikupas dalam buku berjudul Chairil. - .

Bisnis.com, JAKARTA - Siapa Chairil Anwar? Nyaris tak ada yang tak mengenal penyair besar yang juga dikenal sebagai ‘sang binatang jalang’ dalam puisinya Aku ini.

Karya-karyanya dipelajari hampir semua anak yang bersekolah di Indonesia, khususnya Krawang ke Bekasi hingga Aku. Melalui karyanya pula, Chairil memperkaya Bahasa Indonesia. 

Banyak ulasan mengenai karya-karya penyair yang dipanggil Nini saat kecil ini. Namun, bagaimana dengan sosoknya, kisah hidupnya, latar belakang hingga tercipta sajak-sajaknya? Muncul anggapan pula menjadi penyair identik dengan gaya hidup bohemian, perokok berat, eksentrik, dan perempuan. Namun, sebatas itukah kehidupan seorang penyair?

Penyair, wartawan, dan penulis biografi, Hasan Aspahani, menyampaikan pandangan hidup sosok Chairil Anwar melalui bukunya Chairil. Tak hanya berkisah soal kesukaan masa kecilnya hingga membentuknya menjadi penyair besar, tetapi juga cerita dibalik terciptanya puisi-puisi tersebut. 

Siapa yang tahu jika Chairil sudah menentukan jalan hidupnya sebagai penyair sejak usia 15 tahun. Saat itu Chairil sempat ditangkap polisi Belanda karena membacakan cuplikan roman karya Sutan Takdir Alisjahbana Layar Terkembang (1937), dengan suara nyaring. Peristiwa itu lantas membekas pada pemikiran Chairil, bahwa karya sastra rupanya bisa menakutkan bagi penguasa. 

Hasan tak lupa membuka mata pembaca tentang sosok Chairil yang rupanya bisa sedemikian kejam terhadap karya-karyanya. Pemilihan kata yang lugas dalam puisinya yang menggelorakan semangat perlawanan, dilakukan hingga berminggu-minggu. Penyuntingan karya bisa melalui empat sampai lima kali. Hal ini terbukti dari manuskripnya yang tersimpan di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin.

Tidak heran jika banyak pihak menyebut kekayaan bahasa dalam penciptaan Chairil, menjadikan puisi-piuisinya seolah datang dari masa depan, bukan dari masa lalu. Keinginannya untuk hidup seribu tahun lagi seperti ditulis dalam sajak Aku, memancar dalam sajaknya yang hidup seribu tahun lagi.

“Sekejam dan segigih itu dia pada sajak-sajaknya,” tutur Hasan. 

Melalui buku Chairil, Hasan ingin menampilkan sosok sang penyair secara utuh. Baginya penting menampilkan Chairil yang hidup sama halnya dengan orang lain. Kesukaan Chairil pada ketan srikaya buatan istrinya, Hapsah. Begitu pula, keinginannya menyiapkan buku-buku puisinya, dimana honor dari buku itu diniatkan untuk mengawini kembali istrinya. 

Selain beredar mitos tentang Chairil, melalui bukunya, Hasan ingin menunjukkan etos Chairil yang bisa menjadi pembelajaran. Butuh waktu satu tahun bagi Hasan untuk riset dan menyusun buku ini. Dia melakukan wawancara pada anak tunggal Chairil Evawani Alissa, adiknya Nini Toeraiza, arsip, buku, dan lain lain.

Harapannya, buku Chairil dapat mengenalkan lembaran-lembaran baru tentang Chairil Anwar, menjadi inspirasi untuk menghidupkan kembali puisi dan keberanian mengeksplorasi bahasa Indonesia.

Judul Buku: Chairil
Penulis: Hasan Aspahani
Penerbit: Gagas Media
Tebal: 316 halaman
Ukuran: 14 x 20 cm
Cetakan: Pertama, 2016
ISBN: 978-979-780-869-3

Tag : buku
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top