Ini Bahayanya Gunakan Kertas Daur Ulang Untuk Bungkus Makanan

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Sumatra Utara mengingatkan kepada masyarakat agar mewaspadai bahaya penggunaan kertas yang merupakan hasil daur ulang, dan dijadikan pembungkus makanan.
Newswire | 20 Desember 2016 15:29 WIB
Ilustrasi: bakteri

Bisnis.com, MEDAN - Masyarakat diimbau berhati-hati dalam menggunakan kertas untuk membungkus makanan.

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Sumatra Utara mengingatkan kepada masyarakat agar mewaspadai bahaya penggunaan kertas yang merupakan hasil daur ulang, dan dijadikan pembungkus makanan.

"Hal ini dapat menimbulkan gangguan kesehatan pada manusia, karena kertas tersebut bercampur dengan bahan kimiawi," kata Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sumut, Abubakar Siddik di Medan, Selasa (20/12/2016).

Para penjual makanan, menurut dia, harus lebih hati-hati dalam menggunakan kertas daur ulang tersebut, dan kemungkinan banyak terdapat bibit bakteri atau sumber penyakit yang akan menyerang manusia.

"Sebelum peristiwa yang tidak diingini itu dapat terjadi, alangkah baiknya kita mengingatkan penggunaan kertas pembungkus yang diperoleh dari hasil daur ulang tersebut," ujar Abubakar.

Ia menyebutkan, yang namanya kertas bekas atau hasil daur ulang, tentunya sangat rentan menimbulkan penyakit di tengah-tengah masyarakat, dan hal ini harus segera dicegah.

Masyarakat juga tidak mau mengalami jatuh sakit, hanya gara-gara menggunakan kertas daur ulang yang dihasilkan dari sebuah pabrik di negeri ini.

"Kita juga harus menyelamatkan masyarakat dari bahaya pemakaian kertas daur ulang tersebut," ucapnya.

Abubakar menjelaskan, kertas daur ulang banyak dimanfaatkan penjual makanan untuk membungkus nasi, mie, martabak, gorengan, dan lain sebagainya.

Untuk menghindari agar masyarakat tidak terkena penyakit yang sangat berbahaya itu, maka petugas Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Medan dapat turun tangan memeriksa kertas daur ulang tersebut.

Penyakit berbahaya yang bersumber dari zat-zat kimia tersebut, yakni kanker, kerusakan hati, gangguan reproduksi, dan lainnya.

"Pemerintah melalui Dinas Kesehatan, BBPOM dan institusi terkait lainnya harus meneliti terlebih dahulu kertas daur ulang tersebut, sebelum digunakan masyarakat maupun pedagag makanan," kata Ketua YLKI.

Berdasarkan riset yang dilakukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), jumlah bakteri yang terkandung dalam kertas pangan yang terbuat dari kertas daur ulang sekitar 1,5 juta koloni per gram.

Sedangkan, rata-rata kertas nasi yang umum digunakan beratnya 70-100 gram. Artinya, ada sebanyak 105 juta-150 juta bakteri yang terdapat di kertas tersebut.

Kandungan mikroorganisme di kertas daur ulang memiliki nilai tertinggi dibandingkan jenis kertas lainnya, ini melebihi batas yang ditentukan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kertas

Sumber : Antara

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top