Program Medical Tourism, RSPI Pilih Fokus ke Pasien Lokal

Pemerintah telah menetapkan program medical tourism sejak 2012, namun tidak semua rumah sakit ternama di Indonesia merasa program tersebut memiliki urgensi untuk digarap dalam jangka pendek. Sekalipun oleh rumah sakit yang sudah terstandar internasional.
Wike Dita Herlinda | 18 April 2017 13:18 WIB
Wisata medis - travelinsuranceoffie.com

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah telah menetapkan program medical tourism sejak 2012, namun tidak semua rumah sakit ternama di Indonesia merasa program tersebut memiliki urgensi untuk digarap dalam jangka pendek. Sekalipun oleh rumah sakit yang sudah terstandar internasional.

Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI), misalnya, mengaku lebih memprioritaskan program untuk menggaet pasien lokal agar tidak berobat ke luar negeri ketimbang mengembangkan fasilitas medical tourism. Berikut penuturan CEO RSPI Yanwar Hadiyanto:

Apakah RSPI sudah punya fasilitas untuk medical tourism? Sejak kapan?

Kami memang banyak melayani pasien orang asing, terutama dari negara-negara Barat dan dari Jepang. Namun, sejauh pengamatan kami, mereka adalah WNA yang berdomisili di Indonesia alias ekspatriat yang bekerja atau kebetulan sedang mengunjungi Indonesia dan sedang membutuhkan pelayanan kesehatan.

Sedangkan, kalau medical tourism itu kan artinya orang asing datang khusus ke Indonesia untuk mencari pengobatan. Pasien yang seperti itu belum banyak di RSPI.

Selain itu, pada prinspinya, kami lebih berkonsentrasi untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat atau WNI. Sebab, kami melihat tantangan terbesar di Indonesia adalah bagaimana membendung agar pasien WNI tidak ke luar negeri untuk mencari pengobatan.

Jadi, kami melihat tantangan jangka pendek di Indonesia sebenarnya adalah bagaimana agar pasien dari dalam negeri tidak berobat ke luar negeri. Itu yang lebih penting.

Sekarang, kita mau menggaet warga asing untuk berobat ke Indonesia, tapi di satu sisi banyak WNI yang berobat ke luar negeri. Bagaimana mau dipercaya oleh bangsa asing, kalau oleh bangsa sendiri saja pelayanan kesehatan di dalam negeri belum dipercaya.

Bagaimanapun, sejauh ini kami merasa cukup ada perbaikan di kalangan pasien lokal. Kami melihat trennya semakin lama semakin banyak pasien yang tadinya sering berobat ke luar negeri, sekarang mulai berobat ke RSPI. Sepuluh tahun lalu, mereka dikit-dikit berobatnya ke Singapura atau Malaysia.

Selain itu, kami melihat para ekspatriat di Jakarta sudah memiliki kepercayaan terhadap pelayanan kami. Mereka selalu mencari fasilitas pengobatan terpercaya di rumah sakit kami.

Program/fasilitas apa saja yang ditawarkan untuk pasien asing/ekspatriat di RSPI?

Banyak sekali. Namun, yang paling sering adalah pelayanan ibu dan anak, pelayanan operasi lutut, dan pelayanan bedah umum. Kami tidak mematok pelayanan spesifik untuk orang asing, tetapi fasilitas kami cukup banyak dan terstandar.

Jadi dalam waktu dekat medical tourism masih belum akan menjadi fokus RSPI? Apa tantangan pengembangannya?

Saat ini memang [medical tourism] belum menjadi fokus kami. Karena sebenarnya membangun medical tourism adalah persoalan multifungsi dan multisektoral. Bukan sekadar persoalan rumah sakitnya, tetapi juga infrastrukturnya, transportasinya, kemudahan mendapatkan visanya, imigrasinya, akomodasinya. Itu semua saling terkait.

Selain itu, kalau mau mengembangkan medical tourism, kita harus punya spesifikasi. Negara-negara yang sudah sukses dengan medical tourism itu pasti punya spesifikasi. Ada negara yang khusus untuk dentistry, ada yang juga yang khusus bedah kosmetik.

Sebenarnya di Indonesia ada cukup banyak RS yang sudah siap untuk membuka fasilitas medical tourism. Namun, saat ini upaya-upaya untuk melakukan promosi dan memberikan kemudahan bagi pasien asing masih belum maksimal.

Tidak hanya itu, infrastruktur dan hal-hal lain yang berhubungan dengan program medical tourism masih belum terbangun dengan baik. Misalnya, Indonesia masih belum punya pelayanan transfer [pasien] via udara yang memadai.

Makanya, kalau kita bicara soal medical tourism, kita tidak bisa melihatnya hanya dari aspek medis atau rumah sakitnya saja. Bagaimanapun, di RSPI, kami memiliki prinsip untuk melayani secara berkualitas apapun kebangsaan pasiennya.

Bagaimana strategi RSPI agar bisa bersaing dengan RS asing yang sudah matang medical tourism-nya?

Yang terutama, kami meningkatkan kualitas dalam segala hal; baik pelayanan medis, servis, kemudahan pasien, hingga bagaimna kami bisa mengadopsi teknologi dengan cepat supaya bisa bersaing. Sebab, [bisnis rumah sakit] semakin ketat berlomba-lomba dalam hal kompetensi dan teknologi.

Kami memberikan fasilitas dan pelayanan yang setara dengan rumah sakit internasional. Bayangkan, ada 500.000 pasien Indonesia yang berobat ke Singapura. Tentunya, mereka akan dianggap dan diperlakukan sebagai tamu yang dihormati.

Pasien Indonesia pun merasa dimanjakan di Singapura. Nah, kami tidak mau kalah. Kami pun memberikan fasilitas dan pelayanan yang sama baiknya. Jangan sampai ada pasien yang terlantar atau mengantre terlalu lama.

Dari sisi medis, kami juga terus meningkatkan kemampuan tenaga ahli untuk menangani kasus-kasus medis yang susah. Kami terus mengembangkan teknologi agar pasien bisa didiagnosis lebih akurat dan sembuh lebih cepat.

Tag : rumah sakit
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top