Kesenian Tradisional Masih Minim Perhatian Pemerintah

Kesenian tradisional yang bahkan sudah eksis sejak Indonesia belum merdeka saat ini malah sepeti tidak bisa hidup layak di rumahnya sendiri. Hal itu tidak disambut baik oleh turunnya bantuan pemerintah.nn
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 19 April 2017  |  06:05 WIB
Kesenian Tradisional Masih Minim Perhatian Pemerintah
Jatilan atau reog termasuk di antara kesenian tradisional yang ditampilkan di Festival Seni Tradisi Yogyakarta. - Antara

Bisnis.com JAKARTA – Kesenian tradisional yang bahkan sudah eksis sejak Indonesia belum merdeka saat ini malah sepeti tidak bisa hidup layak di rumahnya sendiri. Hal itu tidak disambut baik oleh turunnya bantuan pemerintah.

Dirjen Kebudayan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid mengakui bahwa pemerintah masih sangat terbatas dalam memberikan bantuan. Padahal kondisi kelompok kesenian saat ini makin terpinggirkan oleh hiburan kesenian modern.

Berbagai kesenian seperti ludruk, wayang orang, ketoprak, wayang kulit, macapat, atau seni tari akhirnya harus bertahan dengan modal semangat dari masing-masing kelompok.

“[Anggarannya] terbatas sekali. Satu paket nilaiya berkisar Rp90 juta – Rp100 juta untuk satu kelompok. Dalam satu tahun ada 200 paket. Jadi sekitar Rp20 miliar,” ujarnya saat dihubungi Bisnis, Selasa (18/4/2017).

Dengan keterbatasan investasi oleh pemerintah, dia khawatir kesenian tradisonal dalam negeri tidak bisa berkembang alias hanya bisa jalan di tempat.

Pimpinan Ngesti Pandowo Joko Mulyono mengatakan sudah dalam tiga tahun terakhir tidak mendapatkan dana bantuan dari Pemerintah Provinsi. Sebelumnya, Ngesti Pandowo mendapatkan anggaran sekitar Rp200 juta dalam setahun.

Ngesti Pandowo adalah paguyuban wayang orang yang berbasis di Semarang, Jawa Tengah. Hingga saat ini Ngesti Pandowo diberi keleluasaan untuk menggunakan gedung TBRS milik pemerintah daerah untuk melakukan pertunjukan setiap Sabtu malam.

Dengan biaya tiket sekitar Rp30.000 per orang, tidak pernah bisa menutupi pengeluaran setiap kali pertunjukan yang mencapai Rp5 juta.

Joko menilai perbaikan untuk membangun kesenian tradisional yang berkelanjutan harus dimulai dengan menumbuhkan rasa cinta anak-anak muda terhadap kesenian tradisional.

Senada dengan Joko, Hilman berharap dengan menumbuhkan kecintaan terhadap budaya bangsa kepada anak sekolah lewat jalur kurikulum formal maupun informal.  bisa menjadi strategi untuk mengembalikan pamor kesenian tradisional.

Baru-baru ini Ngesti Pandowo banyak mendapat perhatian dari instansi pendidikan untuk menumbuhkan rasa senang menonton wayang orang. Sekitar 4.500 siswa TK mendaftar untuk menonton pagelarannya. Untuk menarik anak-anak tersebut durasi cerita diperpendek menjadi 1 jam.

Selain itu, Joko juga banyak menampilkan karakter hewan dan raksasa untuk menarik perhatian anak-anak.

“sebetulnya banyak paguyuban dan sanggar seni. Jadi tidak mungkin kesenian tradisional itu punah terlepas dari campur tangan pemerintah. Jadi tergantung pengelolaan kita. Kita harus pandai-pandai agar kesenian kita tetap hidup. Syukur bisa berkembang.”

 

 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tradisional, kesenian

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top