Konsumi Protein Tak Sekadar Adopsi Sarapan Bule

Pada suatu ketika seorang kawan yang baru kembali ke Tanah Air menceritakan pengalamannya selama menimba ilmu di Amerika Serikat. Salah satu yang paling membekas baginya adalah merasakan hari demi hari ‘dicekokin’ budaya sarapan ala Negeri Paman Sam.
Wike Dita Herlinda | 29 April 2017 11:09 WIB
Daging merah berprotein - boldsky.com

Bisnis.com, JAKARTA - Pada suatu ketika seorang kawan yang baru kembali ke Tanah Air menceritakan pengalamannya selama menimba ilmu di Amerika Serikat. Salah satu yang paling membekas baginya adalah merasakan hari demi hari ‘dicekokin’ budaya sarapan ala Negeri Paman Sam.

“Di Indonesia [saya] enggak biasa sarapan, karena perut enggak enak kalau makan pagi-pagi. Di sana sarapannya jumbo; BLT [bacon, lettuce, tomato], telur dua porsi, keju, sosis, tambah susu, ditambah lagi dengan OJ [orange juice/jus jeruk], kadang masih tambah hash brown.”

Dia lalu berkelakar tentang gurauan semasa kecil bahwa orang bule bertubuh tinggi karena sarapan susu, keju, dan daging.

“Mungkin benar kata orangtua ya. Orang Indonesia pendek karena enggak suka sarapan. Kalaupun sarapan sukanya yang karbohidrat tinggi; nasi goreng, bubur ayam, atau nasi dengan ‘lauk’ mi.”

Bagi sebagian kalangan, mengonsumsi protein hewani seperti daging, susu, telur, atau keju masih dipandang mahal. Maka tidaklah mengherankan jika konsumsi protein hewani per kapita Indonesia masih kalah dari Malaysia, Vietnam, Thailand, atau Singapura.

Menurut Federasi Masyarakat Perunggasan Indonesia, daya beli sebagian masyarakat RI terhadap sumber protein hewani belum cukup kuat. Itulah mengapa mengonsumsi daging sapi, susu, atau keju tidak menjadi prioritas di dapur masyarakat kelas menengah kebawah.

Padahal, sebenarnya ada banyak sumber-sumber protein hewani yang lebih terjangkau seperti daging ayam, telur, atau ikan. Namun demikian, tetap saja konsumsi protein hewani yang terjangkau itu pun belum menjadi prioritas sebagian warga Indonesia.

Sebagai gambaran, pada 2015 konsumsi daging ayam per kapita di Indonesia hanya 7 kg/kapita/tahun, jauh dibawah Malaysia sebanyak 36 kg/kapita/tahun. Konsumsi telur di Indonesia hanya 87 butir/kapita/tahun, jauh dari Malaysia sejumlah 288 butir/kapita/tahun.

Melihat kondisi tersebut, pemerintah mulai menggelontor program perbaikan standar gizi nasional. Pemerintah juga menargetkan kenaikan konsumsi daging ayam menjadi 40 kg/kapita/tahun dan telur menjadi 720 butir/kapita/tahun.

Kampanye

Tidak hanya itu, pemerintah juga menggandeng perusahaan-perusahaan pengolahan makanan hewani untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya konsumsi protein. Salah satunya seperti melalui kampanye Gemar Ikan yang digelar oleh PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk.

Perusahaan pengolahan makanan berbasis hewani itu menggandeng Dinas Perikanan dan Peternakan di Tuban, Jawa Timur untuk mengampanyekan pentingnya konsumsi protein terutama bagi pemenuhan gizi anak-anak dalam masa pertumbuhan.

Head of Social Investment JAPFA, R. Artsanti Alif, mengatakan edukasi kepada masyarakat penting dilakukan agar masyarakat Indonesia tidak lagi berpandangan ‘makan asal kenyang’, tetapi lebih memperhatikan asupan gizi yang seimbang.

“Kami ingin mengampanyekan gemar makan ikan, yang merupakan sumber protein baik. Apalagi Tuban berada di wilayah pesisir yang memiliki banyak hasil laut. Kami ingin mengajarkan bahwa makanan sehat itu mudah didapat dan diolah,” ujarnya belum lama ini.

Kampanye dilakukan dengan cara-cara menyenangkan seperti mengajak ibu-ibu PKK dan anak-anak untuk berlomba membuat cipta kreasi resep berbahan dasar ikan, maupun pelatihan asah otak anak melalui pertandingan catur.

Artsanti menambahkan kampanye mengonsumsi protein sebelumnya juga dilakukan di beberapa kota. Misalnya saja di Sukabumi, dengan memberikan bantuan pasokan produk ayam dan telur.

“Kami ingin mengubah kebiasaan orang tua agar tidak menyepelekan pola konsumsi. Konsumsi rokok di Indonesia saja mencapai 1.180 batang/kapita/tahun, padahal kalau dihitung-hitung harga rokok lebih mahal dibandingkan harga telur atau daging ayam.”

Tag : protein
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top