Saat yang Tepat untuk Menulis Wasiat

Pada saat masih sehat dan bugar, banyak orang yang mengabaikan persiapan menghadapi ajal. Bukan sekadar persiapan iman dan spiritual, tetapi persiapan mewariskan harta benda yang mereka miliki selama hidup.
Wike Dita Herlinda
Wike Dita Herlinda - Bisnis.com 29 April 2017  |  10:06 WIB
Saat yang Tepat untuk Menulis Wasiat
Buku "Jangan Matii Dulu Sebelum Tulis Wasiat - Bisnis Indonesia/Wike Dita Herlinda

Judul buku    : Jangan Mati Dulu Sebelum Tulis Wasiat

Penulis            : Andreas Freddy Pieloor

Penerbit          : Gramedia Pustaka Utama

Tebal              : 185 halaman

Cetakan          : Pertama, Maret 2017

ISBN-13         : 978-602-040-031-0

Pada saat masih sehat dan bugar, banyak orang yang mengabaikan persiapan menghadapi ajal. Bukan sekadar persiapan iman dan spiritual, tetapi persiapan mewariskan harta benda yang mereka miliki selama hidup.

Sebagian besar orang Indonesia baru pusing memikirkan tentang surat wasiat saat menyadari kondisi mereka sudah kritis atau hidup mereka tidak akan bertahan lama. Bahkan, tidak sedikit juga orang pada akhirnya yang tak sempat menulis wasiat hingga ajal menjemput.

Tanpa disadari kelalaian apalagi kelupaan menulis surat wasiat yang benar berpotensi besar melahirkan warisan konflik di dalam sebuah keluarga. Sudah sangat banyak contoh riil di mana sebuah keluarga tercerai berai akibat bertikai memperebutkan warisan.

Harta warisan yang seharusnya disyukuri dan dibagi secara adil justru menjadi sumber konflik hebat di banyak keluarga Indonesia. Belum lagi, jika ada pihak-pihak yang ingin menguasai lebih karena merasa lebih berhak secara agama maupun adat.

Belajar dari fenomena sosial di Indonesia tersebut, Andreas Freddy Pieloor menyusun buku yang cukup menggelitik berjudulJangan Mati Dulu Sebelum Tulis Wasiat. Menariknya, buku ini merangkai pembelajaran hidup yang lebih berharga ketimbang sekadar rebutan harta.

“Dari keprihatian dan rasa sedih saya akan fenomena yang terjadi di masyarakat Indonesia dewasa ini, maka saya ingin berbagi nilai dan paham harta kekayaan dan warisan kepada Anda sekalian,” tutur Andreas.

Alih-alih sekadar memaparkan bagaimana cara yang benar untuk menyusun surat wasiat, buku ini lebih memaparkan inspirasi nilai-nilai yang harus ditanamkan oleh seorang kepala keluarga kepada istri dan anak-anaknya.

Nilai-nilai itu termasuk prinsip bahwa harta kekayaan dan warisan bukan sesuatu yang seharusnya memisahkan tali persaudaraan, tetapi justru menjadi awal suka cita bagi seluruh keluarga dengan melakukan pembagian warisan yang adil dan bermartabat.

Di kata pengantar, Andreas menulis secarik wasiat yang sangat menyentuh kepada istrinya. Surat itu berjudul If Tomorrow Never Comes (Jika Esok Tak Pernah Datang). Meskipun wasiat, surat itu ditulis Andreas dalam kondisi sehat saat di perjalanan menuju kantor.

Ketimbang memaparkan siapa layak mendapatkan warisan apa, surat itu justru merangkai pesan-pesan mendalam dari Andreas untuk istrinya jika sewaktu-waktu dia meninggal. Dia mengucapkan terima kasih dan permohonan maaf jika memiliki kesalahan selama hidup.

Dia juga meminta agar harta bendanya tidak langsung diwariskan kepada ketiga anak mereka, tetapi dipergunakan untuk hidup layak istrinya pada masa tua. Dia juga berpesan agar istrinya memberi nasehat kepada anak-anak dalam memilih pasangan hidup.

“Papa minta tubuh papa diperabukan saja, agar tidak menyusahkan dan merepotkan. Tidak perlu membeli kavling di San Diego atau membayar iuran tanah setiap tahun pada Pemda DKI. Lebih baik dananya diberi ke fakir miskin,” tulisnya. 

Pelajaran bermakna dari buku ini adalah bagaimana menulis dan mempersiapkan surat wasiat ketika kondisi tubuh masih prima. Bagaimana wasiat seharusnya ditulis dengan pikiran jernih sebagai bentuk rasa syukur selama hidup dan pesan kepada orang yang ditinggalkan.

Wasiat seharusnya bukan sesuatu yang baru ditulis saat sudah sekarat atau ajal sudah mendekat. Justru pada saat usia masih produktif dan kondisi jasmani masih bugar, seseorang bisa lebih menghargai hidup yang diberikan kepadanya melalui secarik wasiat.

Seseorang bisa lebih memahami bahwa segala harta yang dimilikinya adalah titipan dan tidak akan dibawa mati, apalagi disombongkan. Saat pikiran masih sehat, seseorang juga bisa menyadari jangan sampai uang mengalahkan ikatan darah.

Hal itu terefleksi seperti saat Andreas menuliskan wasiat untuk anak-anaknya. “Pergunakanlah harta yang ada sebaik-baiknya dengan hidup tetap sederhana, tidak mengubah gaya dan standar hidup kalian. Tetaplah hemat dan hindari hidup konsumtif.”

Bahkan, jika wasiat dituliskan saat kondisi tubuh masih prima dan pikiran masih jernih, ada banyak hal yang bisa disampaikan kepada ahli waris dengan lebih bijaksana. Misalnya saja menitipkan pesan untuk menginvestasikan warisan ke sesuatu yang memiliki yield tinggi.

Semua pesan mulia itu tidak akan bisa dirumuskan dengan matang dan baik jika seseorang baru kepikiran untuk menulis wasiat ketika ajal sudah mendekat. Jadi, jangan sepelekan kekuatan wasiat dan jangan tunggu sampai sekarat untuk mewariskan kebaikan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
buku

Editor : Nancy Junita
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top