Pulau Banda di Maluku/skyscrapercity.com
Entertainment

Sebelum Nonton Filmnya, Simak Dulu Sejarah Singkat Kepulauan Banda

Ramdha Mawaddha
Kamis, 27 Juli 2017 - 12:53
Bagikan
Bisnis.com, JAKARTADirilis pada 3 Agustus tahun ini, film dokumenter 'Banda the Dark Forgotten Trail' akan menyuguhkan sejarah Kepulauan Banda yang terletak di Provinsi Maluku.  
 
Film yang disutradarai oleh Jay Subiyakto ini akan mengulas sejarah Banda hingga kondisi pulau bersejarah tersebut hingga hari ini. 
 
Dalam sebuah kesempatan Jay mengatakan, Banda tak hanya tentang jalur rempah. Di luar itu, Banda memiliki banyak keistimewaan yang seharusnya diketahui banyak orang.
 
Sebelum Indonesia meredeka, Banda menjadi wilayah titik nol nusantara dan tempat orang Eropa berlomba mencari rempah bernama pala yang lebih mahal dari emas.  
 
“Kolonialisme ada di sana tapi jug aide-ide kebangsaan lahir di Banda. Pada 1999 ada konflik agama yang sekarang marak juga terjadi. Itu yang ingin saya tunjukkan di film ini sampai Banda saat ini,” katanya kepada Bisnis beberapa waktu lalu.  
 
Sebelum menonton film 'Banda', coba simak sejrah singkatnya berikut yang dikutip dari keterangan tertulis tim produksi film Banda. 
 
Kepulauan Banda yang kini terlupakan pada masa lalu menjadi satu dari beberapa kawasan paling diburu karena menghasilkan pala. Sejak diperkenalkan oleh para pedagang Cina, pala menjadi salah satu komoditi rempah yang ditaksir dengan harga yang sangat tinggi. 
 
Segenggam pala pernah dianggap lebih bernilai dari segenggam emas.
 
Hal tersebut membuat para pedagang Cina menutupinya dengan kain sutera. Jalur Sutera begitu dikenal di seluruh dunia yang sebenarnya merupakan usaha menutupi Jalur Rempah.
 
Namun kebenaran sesungguhnya, karena rempah-lah ekspedisi-ekspedisi besar dari Eropa diluncurkan, saling berlomba untuk mencapai pulau kecil di Timur ini. 
 
Sejarah Banda penuh dengan darah dan kesedihan. Masa depan Banda dan pala  berubah saat Jan Pieterszoon Coen yang saat itu sudah berbendera VOC tiba di Banda dan melakukan aksi paling brutal sepanjang sejarah. Dari jumlah 14.000 orang, setelah peristiwa pembantaian pada tahun 1621 jumlah penduduk asli kepulauan Banda hanya tersisa 480 orang. 
 
Eksodus besar-besaran dari Banda mengakibatkan penduduk asli Banda sulit sekali ditemukan terutama di kepulauan Banda.
 
Di sisi lain, eksodus besar-besaran tersebut menjadikan Banda sebuah kawasan yang unik karena dihuni berbagai suku bangsa di Nusantara, Arab, Tionghoa, dan Eropa.
 
Masyarakat inilah yang membentuk masyarakat Banda hari ini. 
 
Perseteruan Belanda dan Inggris selama bertahun-tahun di Banda, berakhir dengan ditandatanganinya Perjanjian Breda pada tahun 1667 yang berisi penyerahan Pulau Run dari Inggris ke Belanda dan sebagai gantinya Inggris mendapatkan hak atas Nieuw Amsterdam (Mannhatan, New York) yang waktu itu dinilai sebagai ganti rugi yang cukup atas Pulau Run. 
 
Banda turut pula berperan penting dalam lahirnya Indonesia. Di Banda, kolonialisme dimulai, namun di Banda pula ide-ide kebangsaan lahir. Pada saat hampir bersamaan 4 orang founding fathers Indonesia, Moh Hatta, Sutan Sjahrir, Dr. Tjipto Mangunkusumo, dan Iwa Kusuma Sumantri dibuang ke Banda Neira.
 
Kisah terusirnya pribumi dan kedatangan bangsa-bangsa yang kemudian menjadi orang Banda dalam ragam interaksi sosial budaya membuat Sutan Sjahrir menjadikannya sebagai salah satu gagasan dalam perumusan Undang-Undang Dasar 1945. Banda dan keberagamannya merupakan cerminan Indonesia dengan keberagaman budayanya.
 
Mengisahkan kehidupan di Kepulauan Banda dan pala saat ini adalah mengisahkan kisah-kisah tersembunyi yang membentuk kehidupan manusia hari ini.
 
Kepulauan Banda dengan pala pada satu masa telah menjadi penyebab migrasi manusia secara besar-besaran dari satu kawasan ke kawasan lain dan menciptakan ruang akulturasi bangsa bangsa dari seluruh penjuru dunia. 
 
Saat ini Banda tetap bertahan dengan  industri perikanan dan pariwisata bawah lautnya. Pala banda yang pernah menjadi koordinat penting dalam sejarah penjelajahan dan penaklukkan manusia, hari ini dihadapkan dengan kenyataan bahwa saat ini tidak lagi lebih dari komoditas sampingan karena tidak adanya inovasi dan kebaruan. Banda tetap bertahan walaupun dengan denyut nadi yang lemah. 
 
Banda the Dark Forgotten Trail, menuturkan ulang kisah sejarah Kepulauan Banda dan pala, sebuah cerita yang hampir terlupakan yang sebetulnya mampu membangkitkan kembali suatu semangat kebangsaan dan persatuan bangsa Indonesia saat ini.

 

Penulis : Ramdha Mawaddha
Editor : Rustam Agus
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro