Ditinggal Hugh Hefner, Playboy Kebingungan?

Kepergian bos majalah Playboy, Hugh Hefner, meninggalkan pertanyaan mengenai apa yang akan dilakukan para penerus perusahaan yang selama ini hidup di bawah spotlight.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 29 September 2017  |  14:40 WIB
Ditinggal Hugh Hefner, Playboy Kebingungan?
Hugh Hefner saat hadir pada the 30th annual Playboy Jazz Festival di Hollywood Bowl, Hollywood, California 14 Juni 2008. - Reuters/Fred Prouser

Bisnis.com, JAKARTA – Kepergian bos majalah Playboy, Hugh Hefner, meninggalkan pertanyaan mengenai apa yang akan dilakukan para penerus perusahaan yang selama ini hidup di bawah spotlight

Rizvi Traverse, firma investasi yang telah mempertahankan dan menciptakan kembali pamor Playboy, diisukan kehilangan sosok yang selama ini memberi citra pada perusahaannya.

Firma ini dihadapkan dilema untuk tetap membangun citra ‘Hef’ yang terkenal dengan piyama dan gadis Playmate atau menggunakan momentum ini mengubah citra Playboy untuk hal lainnya. 

“Brand itu begitu melekat padanya (Hefner) serta gaya hidup yang ia jalani dan perannya di mata publik. Ini menambah permasalahan,” ujar Carrie Pitzulo, penulis buku “Bachelors and Bunnies: The Sexual Politics of Playboy, seperti dikutip dari Bloomberg, Jumat (29/9/2017).

Pamor Playboy memudar seiring beralihnya para pembaca majalah tersebut ke pasar digital dan pornografi online. Pada Maret 2016, para pemilik majalah Playboy menjajaki kemungkinan penjualan, dengan publikasi yang lebih normatif. Namun langkah tersebut tidak berlangsung lama.

Meski anggota keluarga Hefner masih terlibat dengan aktivitas perusahaan tersebut, selama bertahun-tahun Playboy berada di bawah kendali Rizvi Traverse, yang juga dikenal untuk investasinya di Twitter Inc. dan Snap Inc.

Pendiri Rizvi Traverse, Suhail Rizvi dan John Giampetroni, menjalani gaya hidup yang low profile, serta menerapkan gaya konvensional dalam setiap tampilan mereka, jauh berbeda dengan Hefner yang terkenal dengan piyama sutranya.

Ben Kohn, managing partner Rizvi Traverse yang ditunjuk tahun lalu untuk menjalankan Playboy sebagai CEO sementara, bahkan menggunakan bahasa strategi korporasi untuk menggambarkan merek gaya hidup global modern yang dibangunnya.

“Tapi menjual gaya hidup seperti itu menjadi lebih sulit saat ‘Hef’ (sebutan untuk Hefner) tidak ada untuk mempromosikannya,” kata Pitzulo.

Rizvi Traverse mengakuisisi saham mayoritas Playboy setelah perusahaan yang didirikan Hefner tersebut go private pada tahun 2011 melalui buyout senilai US$207 juta. Kohn mengambil alih kepemimpinan setelah CEO sebelumnya, Scott Flanders, hengkang untuk menjalankan eHealth.

Seperti diketahui, Hugh Hefner meninggal dunia pada Rabu (27/9) waktu setempat di usia 91 tahun. Hefner meninggal secara alamiah di rumahnya di Playboy Mansion, Los Angeles, California.

Kohn sendiri telah menolak untuk diwawancarai terkait cerita Playboy selanjutnya, dengan alasan untuk menghormati keluarga Hefner.

Dalam sebuah pernyataan, salah seorang putra Hefner, Cooper Hefner, mengatakan bahwa ayahnya telah mendefinisikan gaya hidup dan etos kerja yang terletak di jantung merek Playboy, salah satu merek paling dikenal dan abadi dalam sejarah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
majalah playboy

Editor : Andhika Anggoro Wening
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top