Benarkah Vape Tidak Berbahaya? Ternyata...

Sementara itu, rokok elektrik atau vape, tidak menghasilkan asap seperti rokok biasa, melainkan uap, sehingga tidak menghasilkan tar.
Asteria Desi Kartika Sari | 09 Februari 2018 07:33 WIB
Vape - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- Apabila diabandingkan dengan rokok, vape sering dianggap lebih aman karena tidak berisi tembakau, hanya berisi cairan berbagai macam rasa. Namun, benarkah anggapan vape tidak berbahaya?

Untuk rokok, komponen dari asapnya merupakan karsinogenik yang dapat menimbulkan risiko kanker paru-paru. Adapun nikotin merupakan zat adiktif yang dapat mengakibatkan kecanduan.

Secara umum, rokok yang dibakar menghasilkan 4.000 zat berbahaya yang dapat memicu kanker paru karena secara langsung masuk ke tubuh perokok.

Salah satu zat yang dihasilkan dari pembakaran rokok adalah tar, yang juga dapat ditemui pada asap pembakaran kayu, sampah, batu bara atau asap dari knalpot kendaraan bermotor atau polusi.

Sementara itu, rokok elektrik atau vape, tidak menghasilkan asap seperti rokok biasa, melainkan uap, sehingga tidak menghasilkan tar.

Kendati begitu, dokter spesialis paru RSUP Persahabatan Elisna Syahruddin menuturkan kandungan sejumlah komponen di dalam vape juga membuat pemakai tidak terlepas dari bahaya.

“Vape itu berarti kamu juga mengiritasi saluran pernapasan, sama kayak rokok, kamu mengaliri ke pernapasanmu. Semua yang dihisap-hisap itu sama bahayanya,” jelas Elisna.

Vape menggunakan cairan untuk menghasilakan uap melalui proses pemanasan secara elektrik atau menggunakan baterai. Cairan tersebut juga mengandug zat karsinogenik atau zat yang bersifat meginduksi terjadi kanker.

Adapun bahan bersifat karsiogeni yang terkandung dalam cairan Vape antara lain gliserol dan nikotin nitrosamine. Belum lagi, proses pemanasan cairan vape diketahui melepaskan zat kimia formaldehida yang juga merupakan zat karsiogenik.

Mengutip hasil penelitian Public Health England pada 2015 mengenai rokok elektrik, produk turunan tembakau ini memiliki risiko kesehatan 5% dari uap yang dihasilkan, meskipun jauh lebih sedikit dibandingkan dengan rokok biasa.

Jika perokok pasif memiliki risiko kesehatan karena asap rokok, perokok elektrik pasif juga berisiko walaupun lebih rendah jika dibandingkan perokok konvensional pasif.

Namun, perlu diperhatikan juga kemasan likuid yang berwarna-warni dan memiliki rasa buah akan menarik perhatian anak-anak. Dengan kata lain, kanker paru juga mengancam anak-anak.

“Kecenderuangannya sekarang kan perokok muda. Kami menangani pasien paling muda berusia 13 tahun [terkena kanker paru],” katanya.

Senada, Niken Wastu Palupi, Kepala Subdirektorat Penyakit Kanker dan Kelainan Darah Kementerian Kesehatan RI mengatakan kadar tar, nikotin dalam vape belum diketahui.

Justru karena itu, lanjutnya, vape lebih berbahaya.“Kadarnya saja tidak tahu. Justru berbahaya karena tidak tahu kandungan racunnya,” katanya.

Niken mengatakan memang tidak ada keterkaitan langsung antara mengkonsumsi rokok elektrik dengan kecederuangan beralih ke rokok tembakau. Justru, dia menilai seseorang yang merasakan vape cenderung sudah nyaman.

“Dia memang tidak akan merokok lagi karena mereka pasti sudah merasa nyaman dan enak. Cairan di vape itu kan semacam ekstrak [tembakau] jadi tetap saja merangsang zat nikotin itu,” jelasnya.

Sementara itu, berdasarkan penelitian hasil kolaborasi antara UK Centre for Tobacco and Alcohol Studies, Public Health England, Action on Smoking and Health, dan DECIPHer Centre University of Cardiff menunjukkan pola yang konsisten, yakni mayoritas remaja yang baru coba-coba vaping tidak tertarik menggunakannya secara reguler.

Pada saat bersamaan, angka konsumsi rokok di kalangan generasi muda terpantau semakin turun.

Dari total remaja yang disurvei, kurang dari 3% di antaranya mengaku mengonsumsi vape secara reguler setidaknya sekali dalam sepekan, dan sebagian besar dari mereka sejak awal adalah perokok. Sementara itu, kurang dari 1% yang mengaku tidak pernah merokok.

Kepala studi tersebut, Mark Conner dari University of Leeds, mengatakan riset yang dilakukan timnya membuktikan bahwa tidak ada keterkaitan langsung antara konsumsi rokok elektrik dengan kecenderungan beralih ke rokok tembakau.

Buktinya, angka merokok di kalangan remaja di Inggris semakin menurun dari waktu ke waktu seiring dengan kian populernya penggunaan rokok elektrik. “Jadi anggapan bahwa mengonsumsi rokok elektrik dapat merangsang kecanduan rokok tidaklah terbukti,” ujarnya dikutip Reuters.

CEO Action on Smoking and Health (ASH) Deborah Arnott berpendapat para remaja yang mengonsumsi rokok elektrik mengaku tidak tertarik mencoba mengonsumsi rokok. Terbukti, angka perokok tembakau di Inggris terus merosot.

“Kalau memang mengonsumsi rokok elektrik menyebabkan seseorang mencoba merokok, maka fakta bahwa angka perokok di kalangan remaja Inggris terus menurun perlu direvisi. Sudah terbukti bahwa itu tidak terjadi. Saat ini, angka remaja perokok di Inggris mencapai rekor terendah dalam sejarah.”

Untuk berhenti merokok sebenarnya dapat menggunakan terapi pengganti nikotin (nicotine replacement theraphy/NRT). Rokok elektrik termasuk ke dalam kategori ini. Namun, jika ingin benar-benar memanfaatkan rokok elektrik, ada beberapa hal yang perlu dipahami.

Pertama, penggunaannya harus di bawah pengawasan tenaga medis. Kedua, dosis nikotin pada terapi NRT harus diatur ke level terendah. Ketiga, penggunaan terapi ini harus dibatasi oleh waktu, biasanya sekitar 3 bulan.

Tag : industri rokok
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top