RESENSI BUKU: Donald Trump di Balik Layar Gedung Putih

Jauh sebelum menduduki posisi commander in chief Amerika Serikat, bos The Trump Organization itu sudah dikenal sebagai sosok yang tak bisa jauh-jauh dari sorotan. Sayangnya, highlight yang tertuju padanya lebih sering bermuatan kontroversi.
Wike Dita Herlinda | 18 Februari 2018 23:15 WIB
Fire and Fury: Inside the Trump White House - Reuters

Judul : Fire and Fury: Inside the Trump White House

Penulis : Michael Wolff

Penerbit : Henry Holt & Company

Tebal : 336 halaman

Cetakan : Pertama, Januari 2018

ISBN-11 : 125-015-806-0

ISBN-13 : 9781250158062

Bisnis.com, JAKARTA - Jauh sebelum menduduki posisi commander in chief Amerika Serikat, bos The Trump Organization itu sudah dikenal sebagai sosok yang tak bisa jauh-jauh dari sorotan. Sayangnya, highlight yang tertuju padanya lebih sering bermuatan kontroversi.

Pria flamboyan yang dikenal dengan gaya rambut jambul pirang itu lebih cocok disebut pebisnis selebritas, alih-alih politisi. Tidak heran jika banyak yang meragukan kapabilitasnya saat taipan 71 tahun itu secara tak terduga memenangkan Pemilihan Presiden AS awal tahun lalu.

Sejak bertakhta di Gedung Putih pada 20 Januari 2017, tidak sedikit orang yang penasaran seperti apa cara Trump mengendalikan Washington. Rasa penasaran publik itulah yang ingin dijawab Michael Wolff dalam bukunya yang berjudul Fire and Fury: Inside the Trump White House.

Buku ini menarasikan sudut pandang orang dalam Gedung Putih. Pasalnya, dalam proses penyusunan bukunya, Wolff memiliki akses eksklusif untuk mencermati peristiwa-peristiwa ‘di balik layar’ Sayap Kiri Gedung Putih selama sembilan bulan pertama administrasi Trump.

“Sejak Donald Trump mengucap sumpah sebagai Presiden ke-45 AS, negara ini—dan seluruh dunia—menjadi saksi era pemerintahan penuh gejolak sekaligus menyita perhatian, yang merefleksikan volatilitas dan keberanian sang presiden terpilih,” tulisnya.

Menurutnya, respons publik yang sangat beragam terhadap pemerintahan Trump sebenarnya menggambarkan dinamika dan ‘kekacauan’ yang terjadi di Oval Office (ruang kerja Presiden AS di Gedung Putih).

Segala dinamika itulah yang dipaparkan Wolff dalam bukunya, yang menyingkap seperti apa cara Trump menangani tugasnya sebagai pemimpin negara adidaya tersebut.

Berbagai fakta menarik yang disuguhkan sang penulis membuat buku ini menjadi menarik untuk dilahap.

Wolff menuliskan hal-hal yang ingin diketahui publik, seperti; apa yang sebenarnya dirasakan atau dipikirkan staf Gedung Putih tentang Trump, atau apa yang membuat Trump merasa dia selalu dibayangi oleh President Barack Obama.

Buku yang menduduki posisi puncak New York Time Bestsellers selama lebih dari empat pekan ini juga mengupas alasan di balik pemecatan Direktur Federal Bureau of Investigation (FBI) James Comey.

Hal-hal menggelitik lain yang disingkap di dalam tulisan Wolff mencakup mengapa kepala ahli strategi Steve Bannon dan menantu Trump, Jared Kushner, tidak mau berada di satu ruangan atau siapa yang sebenarnya mengendalikan setiap strategi dalam pemerintahan Trump pascapemecatan Bannon.

Selama ini, banyak orang yang mengirang Trump adalah figur yang keras kepala dan tidak mau mendengarkan saran atau masukan. Untuk itu, di dalam buku ini Wolff mengungkapkan bagaimana sebenarnya cara berkomunikasi yang tepat untuk menghadapi Trump.

Salah satu ulasan dan sudut pandang yang juga unik di dalam buku ini adalah bagaimana Wolff menggambarkan kemiripan pemerintahan AS di bawah kepemimpinan suami Ivanka Zelníková dengan film The Producers.

Selengkapnya, buku ini adalah jendela yang membuka pandangan publik tentang cerita yang belum pernah diungkapkan sebelumnya di balik sosok Presiden Trump yang kontroversial.

Gaya pelaporan yang jernih dan narasi yang segar menjadikan Fire dan Fury sebagai salah satu buku wajib baca tahun ini, khususnya bagi para pemerhati dinamika perpolitikan AS.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
resensi buku

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top