Tenaga Perfilman Indonesia Masih Kurang Literatur

Industri perfilman nasional kini tampak bergairah. Tiap tahun selalu muncul film-film baru beragam genre. Begitu juga dengan jumlah penonton yang terus meningkat. Di tengah situasi ini, pasokan tenaga-tenaga terampil perfilman pun kian dibutuhkan.
Dika Irawan | 21 Februari 2018 10:18 WIB
Ilustrasi film - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- Industri perfilman nasional kini tampak bergairah. Tiap tahun selalu muncul film-film baru beragam genre. Begitu juga dengan jumlah penonton yang terus meningkat. Di tengah situasi ini, pasokan tenaga-tenaga terampil perfilman pun kian dibutuhkan.

Sutradara Sidi Saleh menilai saat ini tak sedikit anak-anak sekolah yang sudah mampu membuat film secara mandiri. Namun, menurut sutradara film Pai Kau ini, tenaga perfilman di Indonesia sejatinya sudah mumpuni. Mereka sudah menguasai persoalan teknis perfilman.

“Tenaga perfilman di Indonesia sebenarnya sudah di atas rata-rata. Untuk saat ini pekerja filmnya sudah bagus terutama di bidang teknis,” tuturnya, Selasa (20/2/2018).

Namun yang masih menjadi persoalan adalah minimnya literatur-literatur tentang film di sekolah. Literatur yang memberikan pemahaman kepada siswa bahwa film adalah sebuah karya seni dan hiburan. Bukan sebaliknya memahami film sebagai sesuatu yang nyata sehingga bila tidak sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku maka jadi peredebatan.

“Kalau di sini [Indonesia] semua [film] seakan [menggambarkan hal yang] riil. Akibatnya film dengan karya bukan [film] tidak bisa dibedakan. Makanya di sini film konflik terus,” tuturnya.

Dia pun menyarankan kepada perumus kebijakan agar tak hanya menggali aspek teknis. Namun lebih dari itu yaitu upaya menghadirkan literasi ke dalam benak para siswa.

Sutradara peraih penghargaan Festival Film Venice ke-71 untuk film pendeknya Maryam itu menambahkan, persoalan tak kalah pentingnya adalah memberikan ruang kepada para tenaga perfilman untuk berkarya. Sebab akan terasa percuma bila tenaga filmnya melimpah sementara ruang berekspresinya hanya dikuasai oleh segelintir pihak.

Seperti diwartakan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan siap merevitalisasi sekitar 18 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di sejumlah daerah. Sekolah-sekolah tersebut diproyeksikan akan menghasilkan lulusan-lulusan yang dapat diserap industri perfilman nasional.

Untuk mematangkan rencana tersebut, Kemendikbud melalui Pusat Pengembangan Perfilman dan Direktorat Pembinaan SMK bekerjasama menyiapkan mekanisme bantuan teknis dan non teknis.

"Kemendikbud, dalam hal ini Pusbangfilm dan Direktorat Pembinaan SMK dapat memberikan pembinaan kepada SMK di bidang broadcasting agar dapat menyediakan tenaga perfilman yang berkualitas," tutur Sekretaris Jenderal Kemendikbud Didik Suhardi belum lama ini.

Di luar rencana tersebut, Didik mengatakan, Kemdikbud juga telah memetakan 112 SMK yang memiliki jurusan atau peminatan broadcasting di seluruh Indonesia. Sekolah-sekolah tersebut dinilai mumpuni untuk dikembangkan menjadi SMK perfilman.

Upaya ini, lanjutnya, sejalan dengan rencana pemerintah mengembangkan industri kreatif melalui film. Mulai dari upaya peningkatan kuantitas produksi film lokal, peningkatan jumlah penonton, hingga peningkatan kualitas perfilman nasional.

Tag : film
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top