Hubert de Givenchy: Bapak Gaya Desain Romantis yang Elegan

Givenchy merupakan desainer empat dekade dan dikenal dengan desain-desainnya yang romantis nan elegan. Karya-karyanya selalu menjadi perhatian.
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh | 16 Maret 2018 16:00 WIB
Desainer Prancis Hubert de Givenchy (paling kiri) menghadiri inagurasi Museum Cristobal Balenciaga di Getaria, Spanyol pada 2011. - Reuters/Vincent West

Bisnis.com, JAKARTA -- Pertengahan bulan ini menghadirkan suasana yang kelam bagi dunia mode internasional. Hubert de Givenchy, pendiri brand fesyen kenamaan Givenchy, meninggal pada akhir pekan lalu di usia 91 tahun.

Givenchy merupakan desainer empat dekade dan dikenal dengan desain-desainnya yang romantis nan elegan. Karya-karyanya selalu menjadi perhatian.

Kliennya sangat beragam. Tidak hanya datang dari kalangan bangsawan dari berbagai negara, tapi juga artis dan selebriti kenamaan dunia.

Audrey Hepburn, Grace Kelly, Jacqueline Kennedy Onassis (Jackie Kennedy) dan Farah Pahlavi, istri dari Shah Iran Mohammad Reza Pahlavi, termasuk dalam deretan kliennya. Namun, karyanya yang paling dikenal mungkin adalah gaun hitam sederhana yang dikenakan mendiang Hepburn dalam adegan pembuka di film Breakfast at Tiffany's.

 

 

Hubert de Givenchy di tengah-tengah karyanya.

 

Givenchy adalah perancang laki-laki generasi pertama yang berani mendirikan butik di Paris pasca perang. Dia terkenal dekat dengan pelanggannya dan mendesain pakaian untuk perempuan dengan gaya yang tidak terduga.

Fashion show pertamanya digelar pada Februari 1952 dan salah satu rancangannya adalah "Bettina Blouse" yang dia buat untuk model utamanya saat itu, Bettina Graziani. Graziani adalah model terkenal di Paris pada saat itu.

Pagelaran pertamanya mendapat perhatian khusus dari para penggemar fesyen dan mendapatkan pemberitaan yang luar biasa dari media. Padahal, waktu itu Givenchy masih berumur 24 tahun.

Tak lama kemudian, dia mendesain pakaian Hepburn. Sang aktris ternyata sangat menyukai rancangan Givenchy dan memintanya untuk mendesain setiap pakaian yang akan dikenakannya di setiap film.

Pada 1961, Hepburn dan Givenchy membuat sebuah pakaian yang paling diingat dalam dunia mode di abad 20. Hepburn, saat itu berperan sebagai Holly Golightly dalam Breakfast at Tiffany's, mengenakan kacamata hitam besar, kalung mutiara, sarung tangan hitam panjang hingga lengan, dan gaun hitam sederhana yang cantik.

 

 

Audrey Hepburn dalam Breakfast at Tiffany's.

 

Untuk generasi muda khususnya perempuan pada masa itu, imej Holly yang diperankan Hepburn terlihat sangat ideal di mata mereka. Namun, gaun tersebut ternyata menjadi sesuatu yang ikonik dan pada 2006 dress ini terjual dalam acara amal di London dengan harga US$923.187 atau sekitar Rp12,7 miliar.

Meskipun sudah banyak sebelum Givenchy yang membuat gaun berwarna hitam dengan potongan mode yang senada, tapi di tangannya gaun hitam menjadi lebih unik dan sederhana.

Audrey Hepburn yang Tak Mau Lepas ‘Memakai’ Givenchy

Saking cintanya pada karya-karya Givenchy, Hepburn juga mengenakan pakaian karya sang desainer dalam film Funny Face, Love in the Afternoon, Paris When it Sizzles, How to Steal a Million, Charade, dan Love Among Thieves. Bahkan, untuk acara sehari-hari dan acara resmi Hepburn setia mengenakan rancangan dari Givenchy.

 

Sebagian karya Givenchy yang pernah digunakan Audrey Hepburn./Reuters

 

Meski demikian, ada cerita cukup unik antara Givenchy dan Hepburn. Givenchy pernah bercerita bahwa sejujurnya ketika dia mendengar ada aktris bernama Hepburn ingin bertemu, dia berharap Katherine Hepburn yang bermain dalam film Roman Holiday lah yang datang.

Givenchy juga pernah bercerita bahwa Audrey Hepburn menginginkannya membuat pakaian untuk digunakan dalam film Sabrina, di mana dia berperan sebagai Sabrina Fairchild. Namun, Givenchy beralasan dirinya sibuk mempersiapkan koleksi keduanya dan tidak memiliki waktu untuk membuat pakaian khusus.

Tetapi, semua itu berubah ketika Hepburn mengatakan akan melakukan apa saja untuk sang perancang jika mau membuat desain khusus untuknya. Hepburn mengklaim rancangan Givenchy membuatnya lebih percaya diri saat beraksi di depan kamera maupun di belakang kamera.

Kehidupan Pribadi Givenchy

Count Hubert James Marcel Taffin de Givenchy lahir di Beauvais, Prancis pada 21 Februari 1927. Dia adalah anak bungsu dari dua bersaudara dari pasangan Beatrice Badin dan Lucien Taffin de Givenchy, Marquis Givenchy.

Keluarga ibunya sangat dekat dengan pengrajin permadani Beauvais dan ayahnya adalah orang yang terkenal di kawasan Eropa. Setelah ayahnya meninggal karena penyakit influenza pada 1930, Hubert dan kakaknya, Jean Claude dibesarkan oleh sang ibu dan orang tua ibunya, yang merupakan seorang perancang dan pemilik pabrik karpet ternama. 

Ketika Givenchy berusia 10 tahun, dia dan keluarga melihat pameran mode di Paris, yang diselenggarakan oleh Jeanne Lanvin. Dari situlah dia terinspirasi untuk menjadi seorang desainer.

Untuk mewujudkan mimpinya, Givenchy memutuskan berangkat ke Paris dan belajar fesyen di École des Beaux-Arts. Pada 1945, dia magang di tempat desainer Jacques Fath dan setahun kemudian bekerja di studio Robert Piguet dan Lucien Lelong.

Pada tahun yang sama, dia bekerja bersama Balmade Pierre dan Christian Dior. Lalu, pada periode 1947-1951, bekerja untuk perancang Elsa Schiaparelli.

Akhirnya, pada 1952, Givenchy membuka rumah mode miliknya di Paris. Gaya mode yang dibuat olehnya sangat modern dibandingkan dengan desain yang konservatif yang dibuat Dior pada awal-awal berdiri.

 

Kantor pusat Givenchy di Paris, Prancis./Reuters

 

 

Pada usianya yang ke-25, dia dikenal sebagai perancang termuda yang progresif dari Paris. Koleksi pertamanya menggunakan kain yang agak murah karena modal yang dimilikinya saat itu belum terlalu besar. Tetapi, rancangannya selalu dinanti karena dianggap berbeda dan unik.

Tidak hanya fokus membuat pakaian, Givenchy juga menciptakan koleksi parfum. Koleksi perdananya dinamakan L'Interdit dan Le de Givenchy.

Audrey Hepburn menjadi brand ambassador dari koleksi parfum pertama Givenchy dan melakukannya secara gratis atas nama persahabatan.

Dalam sejarah kariernya, Givenchy juga sempat bertemu dan berbagi ide fesyen dengan idolanya, Cristóbal Balenciaga. Meski saat itu namanya sudah masuk dalam jajaran perancang mode terkenal, Givenchy tidak hanya mencari inspirasi dari dunia haute couture, tapi juga dari nuansa yang lebih modern dan simpel.

Pada 1954, koleksi prêt-à-porter Givenchy memulai debutnya dan empat tahun kemudian dia Givenchy menciptakan 'mantel balon' ikonik dan gaun 'Baby Doll'. Koleksi laki-laki dari Givenchy mulai diciptakan pada 1969.

Pada 1976-1983, Ford Motor Company menawarkan kerjasama dalam merancang mobil mewah Monaco. Pada 1988, Givenchy bergabung dengan LVMH Moet Hennessy Louis Vuitton, sehingga mulai saat itu bisnis mode dan parfumnya dikelola oleh perusahaan tersebut. 

 

Hubert de Givenchy.

 

Pensiun dan Meninggal

Pada 1995, Givenchy memutuskan untuk pensiun dari dunia desain. Dalam masa pensiunnya, dia fokus mengumpulkan patung perunggu dan marmer dari abad ke-17 dan ke-18.

Sekarang, direktur kreatif label Givenchy dipegang oleh Clare Waight Keller yang menggantikan dari Riccardo Tisci.

 

Givenchy tinggal di Château du Jonchet, sebuah kastil bersejarah yang terdaftar di Romilly-sur-Aigre, Eure-et-Loir, dekat Paris. Pada 10 Maret 2018, perancang busana legendaris ini meninggal dalam tidurnya.

Kisah Givenchy memberikan sebuah pelajaran yaitu memiliki pikiran yang berbeda tidak akan menjadi sebuah masalah selama kita mengaplikasikannya dalam bentuk karya yang positif dan memiliki DNA dalam sebuah karya itu sangatlah penting.

Tag : desainer
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top