Satu dari Tiga Orang Pernah Mengalami Bipolar, Bagaimana Menanganinya?

Dokter spesialis kesehatan jiwa Hervita Diatri menuturkan gangguan perasaan senang ataupun sedih yang berlebihan dapat dikatakan sebagai gangguan bipolar. Gangguan kesehatan tersebut dipengaruhi tiga fungsi yakni fungsi sosial, pekerjaan dan fungsi psikologis.
Asteria Desi Kartika Sari | 31 Maret 2018 11:12 WIB
Bipolar - wikipedia

Bisnis.com, JAKARTA -- “Sejak dari TK saya merasa ada yang aneh dengan diri saya. Saya sering berhalusinasi. Perjalanan hidup saya up and down, sering merasa depresi dan di suatu saat saya ingin memberontak,” kata Hana Alfikih atau Hana Madness, pribadi dengan gangguan bipolar.

Hana bercerita gangguan bipolarnya semakin parah karena ketidaktahuan keluarga tentang penyakit tersebut. Ketika memasuki Sekolah Menengah Atas, dia mengaku tidak merasa nyaman tinggal di rumah, namun di luar rumah pun juga merasa tersiksa.

Barulah pada 2010 dia didiagnosis memiliki gangguan bipolar. Meski sudah didiagnosis bipolar, Hana tetap ingin memberikan hal yang positif baik untuk memberi dukungan kepada penderita lain maupun masyarakat secara umum.

Kini ia pun menekuni dunia seni. “Banyak yang bisa saya sampaikan melalui seni dan saya bangga dengan hasil positif yang bisa saya ciptakan,” tuturnya.

Sebagai gambaran, manusia memiliki enam dasar perasaan, yaitu marah, jijik, takut, senang, sedih serta kaget. Perasaan senang dan sedih merupakan perasan yang wajar diekspresikan setiap orang, tetapi ada kalanya ekspresi tersebut menjadi tak wajar.

Ketika perasaan, pikiran, dan perilaku berubah secara makna atau ketika menimbulkan penderitaan dan ganggungan fungsi yang nyata, hal itu bisa disebut sebagai ganggungan jiwa.

Dokter spesialis kesehatan jiwa Hervita Diatri menuturkan gangguan perasaan senang ataupun sedih yang berlebihan dapat dikatakan sebagai gangguan bipolar. Gangguan kesehatan tersebut dipengaruhi tiga fungsi yakni fungsi sosial, pekerjaan dan fungsi psikologis.

“Perasaan ini terjadi dalam waktu cukup lama, yang mengakibatkan gangguan fungsi dan penderitaan baik untuk orang yang mengalami dan orang lain,” kata Hervita belum lama ini.

Sebagai informasi, gangguan bipolar dialami oleh sekitar 34%-36% populasi. Artinya, satu dari tiga orang di dunia sedikitnya pernah mengalami gangguan bipolar.

Angka tersebut lebih besar dindingkan penyakit fisik lainnya seperti hipertensi sebesar 30%, kanker 13%, diabetes melitus 8,8%, dan stroke 2,7%. Oleh karena itu, gangguan bipolar menjadi hal yang harus menjadi perhatian banyak pihak.

Dia menuturkan penyebab gangguan bipolar sulit ditetapkan lantaran bersifat multifaktoral, yakni melibatkan faktor biologis, psikologis, sosial, kultural, dan spiritual.

Faktor biologis memegang peran besar dikaitkan dengan faktor genetik dan neurotransmitter di otak. Sementara itu secara psikososial, gangguan ini dikaitkan dengan pola asuh pada masa kanak dan berbagai faktor stres dari ligkungan.

Dia memaparkan gangguan bipolar memiliki dua tipe yakni tipe 1, ditandai dengan episode manik atau gembira berlebihan diikuti dengan episode hipomanik gembira atau depresi (perasaan sedih).

Tipe 2, ditandai dengan episode hipomanik artinya saat ini atau sebelumnya mengalami satu gejala depresi mayor. “Orang dengan gejala gangguan bipolar tipe dua tidak pernah mengalami episode manik,” jelasnya.

Menurutnya, untuk membantu menurunkan intensitas gejala, memperpendek masa sakit, atau bahkan mengembalikan fungsi, keluarga dan lingkungan menjadi faktor pendukung terbaik bagi penderita gangguan bipolar. Apalagi, bipolar merupakan kondisi yang umum dijumpai.

Kejadian bunuh diri pada orang dengan gangguan bipolar 15 kali lipat dibandingkan orang tanpa ganggungan. Bunuh diri sering terjadi pada saat awal munculnya gangguan, ketika pada tekanan pekerjaan atau studi, tekanan emosional dalam keluarga pada tingkat yang paling berat.

Dukungan keluarga, kerabat, maupun teman adalah hal terpenting sebagai upaya pemulihan seseorang dengan gangguan bipolar. Hal tersebut dapat memberikan harapan positif dan memberikan rasa percaya diri.

Lingkungan juga dapat mendukung dan mendorong dalam membuat perencanaan aktivitas menyenangkan dengan target realistis.

PELUKAN

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia Jakarta (PDSKJI Jaya) Nova Riyanti Yusuf mengatakan, dalam menyongsong Hari Bipolar Sedunia tahun ini tema yang diambil adalah Hug, Help, Solve The Puzzle untuk memberikan edukasi kepada masyarakat dengan simbol boneka Hugi.

Dia mengatakan dukungan keluarga sangat dibutuhkan terutama saat mengalami episode manik atau depresi berat. Menurutnya kesendirian justru dapat menimbulkan efek negatif, lebih fatal lagi dapat mengakibatkan bunuh diri.

Melalui kehangatan dari keluarga dan teman diharapkan dapat membantu melakukan deteksi dini dan mendukung seseorang dengan bipolar untuk melakukan pengobatan.

“Kesendirian yang dirasakan cenderung menimbulkan efek negatif bahkan dapat menimbulkan bunuh diri. Perasaan sendiri dan tidak mendapatkan dukungan dapat menyebabkan minor emotional injuries yang diakumulasi,” jelasnya.

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah, kesehatan, bipolar
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top