Sukmawati Soekarnoputri/Antara
Relationship

Seni Itu Murni

Bambang Supriyanto
Selasa, 10 April 2018 - 19:36
Bagikan

Seni itu bebas nilai. Tiada ikatan apa pun. Tiada kaitan dengan siapa pun. Siapa saja berhak menciptakan karya seni.
Seni juga bahasa. Bahasa pemersatu antarsuku dan bahasa pemersatu antarbangsa. Seni juga murni, tanpa dosa.
Banyak sekali definisi dan pengertian dari kata seni. Filsuf Yunani Aristoteles mengatakan bahwa seni adalah bentuk yang pengungkapannya dan penampilannya tidak pernah menyimpang dari kenyataan. Seni itu meniru alam.
Immanuel Kant menyatakan bahwa seni itu sebuah impian karena rumus-rumus tidak dapat menggambarkan kenyataan.
Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara membatasi seni sebagai hasil keindahan sehingga dapat menggerakkan perasaan indah orang yang melihatnya.  Oleh karena itu, perbuatan manusia yang dapat memengaruhi dapat menimbulkan perasaan indah. Itulah seni.
Hanya saja, seni menjadi masalah ketika bertabrakan dengan rambu-rambu sosial, tepatnya perihal suku, agama, ras, dan antargolongan alias Sara.
Adalah Sukmawati Soekarnoputri yang kini sedang menimbulkan ‘keributan’ dari aktivitas seni baca puisi bertajuk Ibu Indonesia. Dia terang-terangan menyinggung soal ‘agama’. Tiga kata kunci yang menjadi biang keladi, yakni tidak paham syariat Islam, cadar (kerudung), dan azan.
Sungguh menyesakkan kalbu karena hal itu dilakukan oleh orang sekelas putri proklamator negeri ini. Dalam situasi yang sedang tidak stabil di tahun politik ini, dia sengaja membaca puisi yang sangat terang-terangan bersinggungan dengan agama Islam.
Kita tidak mengerti apa sebenarnya maksud dari lubuk hati terdalam dari puisi tersebut. Sekadar ekspresi seni ataukah ada maksud tersembunyi?
Seni bernuansa kritik sosial, bahkan mengkritisi pemerintahan jauh lebih ‘aman’ ketimbang bersingunggan dengan Sara alias agama. Banyak sekali seniman kita yang ‘dibelenggu’ penguasa di era Orde Lama ataupun Orde Baru.
Hanya saja, mereka mewakili hati nurani masyarakat. Mereka memotret realitas hidup lewat seni. Sebut saja, seniman WS Rendra yang sangat kritis terhadap rezim Orde Baru.
Kita juga mengenal musisi Iwan Fals yang begitu lantang menyuarakan ketimpangan dan ketidakadilan di negeri Pertiwi.  
Hanya saja, kita pernah punya ‘masa kelam’ soal kesenian pada era Orde Lama. Saat itu para seniman bersinergi dengan penguasa. Lahirlah Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang disokong pemerintah.  
Sejumlah seniman yang tidak sepakat dengan sepak terjang Lekra pun membentuk lembaga sendiri, yakni Manifestasi Kebudayaan alias Manikebu yang dipelesetkan menjadi Manikebo. Terjadi pertarungan sengit antara seniman Lekra dan seniman Manikebu
Tentu saja, kita tidak ingin terjadi pengkotak-kotakan kembali pada situasi sensitif ini. Di era digitalisasi puisi Ibu Indonesia pun langsung mendapatkan balasan dari sejumlah pihak. Seolah terjadi ‘perang’ lewat seni.
Janganlah kita hancur karena pertikaian anak-anak negeri. Marilah kita simak statemen Jared Diamond, ilmuwan asal AS yang juga peraih penghargaan bergengsi Pulitzer 1997, bahwa negara seperti, Indonesia, Kolombia,  dan Filipina adalah contoh peradaban yang akan punah.
Mari kita bersama membangun karakter manusia karena itu lebih utama ketimbang terbuai dengan pembangunan fisik. Itu adalah benteng dari mereka yang berniat menghancurkan negeri ini.
Suatu bangsa bisa hancur karena mendapatkan serangan tatanan keluarga, pendidikan, dan  keteladanan dari para tokoh dan rohaniawan.
Keluarga diserang denngan mengikis peranan ibu agar sibuk dengan dunia luar. Mereka menyerahkan urusan rumah tangga kepada pembantu.
Pendidikan bisa dihancurkan dengan cara mengabaikan peran guru. Keteladanan para tokoh masyarakat dan ulama atau rohaniawan pun berusaha dihancurkan. Mereka dibuai dengan materi dan jabatan semata. Tidak ada lagi orang pintar yang patut dipercayai.
Tidak ada orang yang mendengarkan perkataannya, apalagi meneladani perbuatannya.
Tanpa kita sadari itulah pertanda era Kaliyuga, Dark Age alias Zaman Edan. Ketika para ibu lebih sibuk dengan urusan di luar ketimbang mengurusi keluarga. Pada saat guru tidak lagi digugu dan ditiru.
Pada masa Kaliyuga, ada banyak aturan yang saling bersaing satu sama lain. Mereka tidak akan punya tabiat. Kekerasan, kepalsuan, dan tindak kejahatan akan menjadi santapan sehari-hari. Kesucian dan tabiat baik perlahan-lahan akan merosot. Kebohongan akan digunakan untuk mencari nafkah. Hanya orang-orang kaya yang akan berkuasa.
Marilah kita menjadi sutradara bagi diri kita sendiri, dengan membuat skenario hidup demi kebaikan bersama. Janganlah kita diperbudak ambisi pribadi dengan memanfaatkan seni.

Bagikan

Tags :


Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro