UGM Siap Fasilitasi Pengujian Metode "Cuci Otak" Dokter Terawan

Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta menyatakan siap memfasilitasi pengujian metode Digital Subtraction Angiography (DSA) yang dilakukan Mayjen CKM dr. Terawan Agus Putranto, Sp. Rad (K).
Newswire | 12 April 2018 14:16 WIB
Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Mayjen TNI Terawan Agus Putranto, di RSPAD, Jakarta, Senin (2/3/2018). - JIBI/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA -- Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta menyatakan siap memfasilitasi pengujian metode Digital Subtraction Angiography (DSA) yang dilakukan Mayjen CKM dr. Terawan Agus Putranto, Sp. Rad (K).

Metode yang dilakukan oleh dokter RSPAD Gatot Soebroto itu lebih dikenal dengan sebutan 'cuci otak'.

"Kami siap, asal punya peralatannya. Saya belum tahu di Fakultas Kedokteran UGM atau RS Akademik UGM atau RS dr. Sardjito ada fasilitas itu atau belum. Kalau ada, ya dengan senang hati," kata Rektor UGM Panut Mulyono usai menemui Wakil Presiden Jusuf Kalla di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Kamis (12/4/2018).

Seperti dilansir dari Antara, dia mengatakan sampai sekarang UGM belum menerima pemberitahuan dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) mengenai rencana uji coba metode tersebut.

Kemenristekdikti dan Kementerian Kesehatan sebelumnya menyatakan siap memfasilitasi uji coba metode DSA dokter Terawan.

Polemik mengenai metode tersebut mengemuka setelah Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) merekomendasikan pemecatan sementara atas dokter Terawan sebagai anggota dan mencabut rekomendasi izin praktiknya karena dinilai telah melanggar kode etik. Dokter Terawan dipandang mengiklankan diri sendiri dan menjanjikan kesembuhan kepada pasien.

Para ahli menilai metode DSA yang digunakan dokter Terawan bukanlah untuk pengobatan dan pencegahan stroke melainkan untuk diagnosis penyakit guna membantu mengetahui metode pengobatan yang tepat.

IDI kemudian memutuskan untuk menunda pengambilan putusan atas rekomendasi pemecatan tersebut dan merekomendasikan penilaian terhadap tindakan terapi itu untuk dilakukan oleh tim Health Technology Assessment (HTA) Kementerian Kesehatan.

Sumber : Antara

Tag : dokter terawan
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top